Revolusi Akhlak Ala HRS VS Revolusi Islam Syiah Ala Ayatollah Khumaini

ilustrasi

Oleh: Muhammad Arief Junaydi

Kedatangan kembali HRS ke tanah air disambut gegap gempita bak pahlawan yang pulang dari medan jihad dan memenangkan pertempuran dielu-elukan sedemikian rupa, dengan pembuatan banner dan baliho berukuran jumbo, tak hanya itu saja kemewahan dan kemegahan sambutan oleh para pendukungnya yang seakan-akan dianggap sebuah amalan syariat yang wajib melakukannya. Okelah! Itu hak mereka berbuat apapun saja, mungkin bisa ditolerir jika tidak mengganggu kenyamanan dan ketenangan umum.

Akan tetapi, melihat realita dengan fakta yang ada dan terjadi, dimana ada beberapa fasilitas yang dirusak, entah itu sebagai luapan emosional belaka ataukah wujud euforia sebagai ekspresi kegembiraan para pendukung HRS dengan cara pengerusakan bahkan beberapa petugas bandara yang merasa terganggu dan ketakutan dengan arrival sang Imam.

Sejak HRS pergi ke Saudi beberapa tahun silam selepas kasus Ahok di DKI Jakarta yg dijerat dgn kasus "Penistaan Agama" hingga beliau pulang dengan status dideportasi dari Saudi, beliau tak hanya membakar semangat kepada para pendukungnya semasa didalam negeri akan tetapi dari kejauhan di negeri padang pasir sana, beliau juga masih seperti biasa ala karakternya, memberikan suntikan motivasi sekaligus dengan statement-statement provokatif dan agitatif kepada pemerintah dan tokoh-tokoh agama yang tidak sesuai selera beliau tentu dengan balutan dan bungkus agama.

Bahkan hingga di masa-masa pemilu pilpres 2019, beliau juga senantiasa ikut mengkampanyekan dan menjalankan program kampanye politik guna memberikan dukungan kepada capres-cawapres yang harus berujung dengan kekalahan. Isu-isu agama terus dimainkan dan disulutkan untuk memantik dan memancing emosional dan reaksi brutal dan kebencian masyarakat awam terlebih yang kurang melek politik seperti masyarakat grassroot yang hanya tahu tunduk patuh apapun itu kata-kata orang yang ditokohkan tanpa perduli benar-tidaknya.

Persamaan dengan misi Revolusi Islam Syiah di Iran oleh Ayatullah Sayyid Ali Khumaini secara besar-besaran begitupula pendukungnya yang sudah over fanatic.

Tahun 1977 hingga 1978 terjadi Revolusi Iran secara bertahap, namun puncaknya terjadi secara total dan integrasi di seluruh penjuru negara Iran yaitu pada tahun 1979 dengan dilengserkan pemerintahan 'Shah Reza', yang menguasai sekian tahun dengan sistem pemimpinan buruk, dan merugikan rakyat khususnya di kalangan Islam Syiah sendiri sebagai negara mayoritas berfaham Syiah.

Menggulingkan pemerintah, ya, itu tujuan utamanya oleh Ayatollah Khumaini dengan beberapa alasan-alasan tentunya semisal ekonomi, sosial dan keagamaan, HRS dari awal semasa pemerintahan Presiden Jokowi di periode pertama juga sudah melayangkan kampanye yang sama, bernafsu untuk menggulingkannya dgn alasan-alasan klasik yaitu, isu keagamaan dan komunisme yang terus diangkat dan diwacanakan.

Tak bisa beraksi sendiri, nah! alasan ini logis sebetulnya, mengingat tidak hanya satu dua tokoh bahkan organisasi yang bersebrangan dengan pemerintah (read oposisi) yang menjadi backing HRS, tentu di berbagai lapisan profesi masyarakat tidak hanya para agamawan, melainkan juga ada tokoh-tokoh sentral politik, dan tokoh-tokoh yang selama ini mempunyai afiliasi dengan organisasi-organisasi ekstrimis-radikalis underground timur tengah yang salah satunya HT dan IW bahkan ada pula yg berafiliasi ke jaringan terorisme dan pemberontak di Syiria.

Ulah pendukung yang hampir menuhankan tokoh idolanya.

Jika di Iran Ayatollah Khumaini ini tidak hanya dianggap sebagai orang mulia dan terhormat juga mempunyai otoritas dalam supremasi hukum dan tata kelola kenegaraan, namun juga dianggap sebagai manusia suci yang segala kesempurnaan seakan-akan miliknya, karena jasanya yang telah memotivasi warga Iran dalam menjatuhkan Shah Reza dengan aksi Revolusi besar-besarannya, maka di Indonesia ada HRS dengan FPI-nya yang dielu-elukan secara membabi buta oleh pendukungnya, seperti halnya Khumaini yang tak hanya manusia dan kuburnya yang hampir disembah bahkan foto-fotonya pun dainggap sebagai pembawa keberuntungan.

Nah, terbaru di Indonesia ini beberapa orang seakan sudah kehilangan akal sehatnya, ya kehilangan akal sehatnya, terekam dengan video berdurasi pendek dimana beberapa pasukan FPI (read Laskar) melakukan prosesi penghormatan terhadap Baliho berukuran Jumbo dengan gambar 'Sang Imam Pujaan'. Salah kaprah, melampaui batas penghormatan, ya, kira-kira seperti itulah yang terjadi secara faktual, tidak menyembah tapi hampir, mereka seakan sudah menyamai HRS dengan Rasulullah SAW Sang Insanul Kamil yang Ma'shum. Sedangkan HRS hanyalah manusia seperti kita yang tidak ma'shum, meski beliau termasuk Dzurriyaturrasul bukan berarti beliau bebas lepas tanpa melakukan kesalahan dan kekhilafan seperti lumrahnya manusia lainnya.

Sekali lagi... saya katakan "Mencintai, Memuliakan dan Menghormatinya itu wajib bagi kita mengingat statusnya sebagai keturunan Rasulullah, namun mendukung sepenuhnya terhadap semua aksi-aksi provokatif, instruksi brutal dan anarkis serta statement kebencian yang dia lakukan juga wajib bagi kita untuk menolak dan menghindarinya."

Salam Damai
Salam Ngaji dan Ngamalkan
Sumenep, Madura 21/11/2020

Al-Faqir: Tukang Ngarit dan Macul

Sumber : Status Facebook Muhammad Arief Junaydi

Monday, November 23, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: