Review Film, "Kucumbu Tubuh Indahku"

ilustrasi

Oleh : Juswantori Ichwan

Gara-gara membaca berita soal kontroversi seputar film “Kucumbu Tubuh Indahku,” saya jadi tertarik menyaksikannya. Film ini cuma diputar di tiga bioskop, itu pun di jam tertentu. Ketiganya berlokasi di tengah kota Jakarta. Jauh dari rumah. Anyway, saya bela-belain nonton di Blok M Square. Thanks to the new MRT, dari Tangerang saya naik Grab ke Lebak Bulus, lanjut dengan MRT ke Blok M. Total perjalanan cuma satu jam!

[Spoiler alert]. Film ini bertutur tentang [Ar]Juno , bocah lelaki dari keluarga miskin dan broken home. Sejak kecil ia ingin menjadi penari. Kita diajak mengikuti empat babak perjalanan hidupnya menuju dewasa. Di tiap babak ada orang-orang yang memberinya berbagai bentuk kasih sayang: guru tarinya, bibinya (penjual ayam), pamannya (penjahit), seorang petinju, dan seorang warok; pemimpin reog yang secara tradisional memelihara anak lelaki sebagai gemblak. Semua bentuk kasih dari figur-figur lelaki dan perempuan direspon Juno dengan tulus. Itu membuat ekspresi kasihnya menjadi tidak biasa. Lintas gender. Ironisnya, di tiap babak juga Juno mengalami “trauma tubuh.” Ia menyaksikan berbagai bentuk kekerasan: pembunuhan, perkelahian, penghinaan, penghakiman masa dan kesewenang-wenangan. Trauma biasanya membuat orang membenci hidup, bahkan membenci tubuhnya sendiri. Orang bisa jadi gila, bunuh diri, atau menyiksa diri. Juno punya tanda-tanda ke arah itu. Kadang ia menusukkan jarum ke jari tangannya, seakan marah ketika mendapati bahwa tubuhnya - entah kenapa - bisa tertarik dengan tubuh lelaki.

Paman (pakde) Juno suatu hari berpesan sebelum ia wafat: tiap orang punya trauma, tapi jangan sampai membenci tubuh, sebab cuma tubuh yang bisa kita bawa kemana-mana. Wajengan hikmat ini memampukan Juno menerima dirinya; berdamai dengan tubuhnya (itu artinya "kucumbu tubuh indahku"). Dengan tabah ia jalani profesi sebagai penari Lengger Lanang, dimana ia harus menarikan tarian perempuan. Orang kecil tidak punya banyak pilihan. Ia harus menjalani apapun peluang yang muncul didepannya. Sepanjang film, Juno jarang tersenyum. Hanya di akhir film, saat ia (sekali lagi) menumpang pick-up bak terbuka yang akan membawa hidupnya entah kemana, ia tersenyum. Akhirnya dia bisa menemukan keindahan hidup di tengah susahnya hidup.

Kisah ini mengajak kita memahami dan berempati pada orang kecil seperti Juno, yang hidupnya keras dan problematik. Film berbahasa Jawa ini (dengan subtitle bahasa Indonesia) dikemas dengan indah, artistik dan kaya makna. Tidak heran, ia meraih berbagai penghargaan internasional. Bahkan film ini sempat diputar di kantor pusat UNESCO di Paris, sebab mendapat penghargaan “keragaman budaya.” Ironisnya, di Indonesia justru film ini diboikot karena dituduh “mempromosikan LGBT.” (For your info: yang menuduh kebanyakan belum nonton filmnya; baru nonton trailer-nya di YouTube!). Padahal kalau mau bicara film dengan “tema LGBT”, film “Bohemian Rhapsody” jauh lebih vulgar mengangkat tema gay (dan narkoba)! Anehnya film itu tidak diboikot, malah laku keras. Sebaliknya film garapan Garin Nugroho yang mengangkat tradisi budaya kita sendiri malah dicap “tidak sesuai dengan budaya dan norma kita.”

Ya udah deh. Film ini memang tidak cocok ditonton oleh mereka yang cara pikirnya hitam-putih atawa munafik. Ini film serius yang membuat kita berpikir terbuka. Open-minded. Kemarin sekeluar dari gedung bioskop, saya bersyukur bisa nonton tayangan bermutu ini. Kebanyakan pengunjung bioskop kemarin nonton “Avengers: Endgame.” Film itu memang menghibur, tetapi film yang satu ini bukan sekedar menghibur. Ia mengajak kita merenung. Ia mengajar kita berempati.

Sumber : Status Facebook Juswantori Ichwan

Tuesday, May 7, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: