Reuni untuk Anies yang Tak Pernah Pede

Oleh: Eko Kuntadhi

Gak ada ujan. Gak ada angin. Orang berduyun-duyun ke Monas. 

Tidak ada momen politik. Tidak ada peristiwa apa-apa. Agama sedang adem ayem. Tapi orang-orang itu, orang yang hobi mencari keributan, bikin provokasi. Di Monas mereka menggelar hajatan penuh caci maki. Reuni 212.

 

Kita tahu itu adalah acara politik. Bukan acara agama. Tujuannya bikin gaduh. Bikin suasana tentram jadi bermasalah.

Dari Saudi Rizieq berkoar. Menuding Jokowi. Menuding PBNU. Menuding Ahok. Entah apa maunya.

Mereka bilang Islam rahmatan lil alamin. Tapi kelakuannya boro-boro rahnat. Wong suasana sedang adem saja mereka malah memprovokasi. Mereka menggunakan agama justru untuk mencari keributan.

Ada Anies Baswedan disana. Gubernur yang naik ke kursi Gubernur dengan menistakan mayat. 

Kita tahu gerakan 212 dibuat untuk melawan Ahok. Kini setelah Ahok terdepak dari kursi Gubernur Jakarta. Dan Anies menggantikan. Tetap saja Anies gak puas.

Setiap acara 212 ia selalu hadir. Ia seolah gak yakin Ahok sudah dikalahkan. Ia tidak percaya pada dirinya sendiri. Makanya setiap saat perlu mematut matutkan diri. Bahwa ia berhasil mengalahkan Ahok. 

Sampai sekarang. Anies tetap gak percaya diri telah memenangkan pertarungan Pilkada. Ia butuh diyakinkan.

Setiap saat ia merasa perlu hadir di reuni 212. 

Ketidak pedean itu juga dirasakan semuanya. Untuk meyakin-yakinkan dirinya mereka sesumbar reuni 212 didukung oleh 202 negara.

Hallo? Jumlah negara di dunia ini aja cuma 195. Ditambah ISIS sama Jatinegara, juga belum cukup. Toyib!

Ada gerombolan gila khilafah. Mengibarkan bendera HTI. Naik kuda. Mau meniru Zorro atau pejuang abad pertengahan. Mereka pikir gagah? Mereka pikir mewakili Islam?

Wong dunia sudah bergerak ke arah teknologi. Eh, mereka mau membanggakan agamanya dengan naik kuda. Larinya kuda, sama motor butut juga kalah. Apa yang mau dibanggakan?

Keributan. Keributan. Itulah yang mereka cari.

Memang acaranya gak ribut. Tapi dari sana ujaran kebencian dan tenun kebangsaan sedang dirobek. Dirobek oleh orang yang menggunakan agama sebagai tunggangan.

Mereka mensasar NU. Mensasar organisasi Islam terbesar. Mencela kyai-kyai NU. 

Memang siapa saja yang akan menghancurkan Indonesia. Mereka harus melangkahi NU terlebih dahulu. Tahun 1960-an, PKI juga menggunakan cara yang sama. Di desa-desa PKI mencela-cela kyai NU. Membuat sakit hati warga nahdiyin.

Sebab kalau NU gak dihancurkan, mereka gak akan bisa menguasai bangsa ini. Jadi kalau Rizieq sekarang menuding-nuding PBNU, dia hanya mencontoh cara PKI.

Massa lain memainkan isu untuk menyudutkan Gus Muafiq, kyai asal NU. Sebab mereka tahu. Kalau kyai NU disentuh, akan membakar semangat santri untuk melawan. Lalu akan ada bentrokan besar. 

Itulah yang mereka harapkan. Ribut. Darah. Masyarajat yang terkoyak. Perpecahan.

Jadi untuk itulah mereka berkumpul di Monas hari ini. Bersama Anies Baswedan. Memutar video Rizieq. Untuk memancing perpecahan.

Dan mereka, sebetulnya adalah orang dari sisa-sisa peradaban. Selalu berlindung di balik slogan agama. Untuk mempermalukan agamanya sendiri.

"Mas, mungkin saja mereka di Monas mau syukuran," ujar Abu Kumkum.

"Syukuran apaan, Kum?"

"Ahok diangkat jadi komisaris Pertamina."

Gak mungkin kan? Wong mereka rencana mau bikin pertamina bangkrut. Caranya, mereka memboikot gak mau beli bensin di SPBU. Mereka akan membeli bensin di pengecer Pertamini.

"Kita harus besarkan Pertamini untuk mengalahkan Pertamina. Sekaligus menggalahkan Ahok. Takdir!"

Terserah...

(www.ekokuntadhi.id)

Tuesday, December 3, 2019 - 21:30
Kategori Rubrik: