Reuni 212, Reuni Para Pemfitnah

Ilustrasi

Oleh : Daniella Rowakomba

Sekelompok orang yang mengatasnamakan 212 baru saja selesai menyelenggarakan reuni 212. Acara ini awalnya berupa demo atas pernyataan Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama yang dituding telah menista agama Islam. Ahok telah dihukum 2 tahun meski sebenarnya apa yang dinyatakan Ahok bukan menista melainkan fakta. Dan maraknya demo pada pernyataan Ahok justru makin membuktikan merekalah yang justru memfitnah, mengklaim mewakili umat Islam dan merasa ternista.

Mereka bergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) namun kemudian MUI merasa keberatan dan nama mereka berubah menjadi GNPF U. Acara demo berlangsung tahun 2016 namun kemudian diperingati. Hampir tidak ada kemanfaatan apa-apa dari demo-demo itu. Yang ada justru malah merepotkan bukan hanya aparat keamanan seperti kepolisian, pegawai kantor, buruh, pedagang dan lain sebagainya.

Seperti di 2 demo tahun-tahun sebelumnya, orasi-orasi yang disampaikan dalam acara aksi 212 justru malah menodai Islam. Lihat saja bendera yang mereka kibarkan bertuliskan kalimat tauhid kadang tersentuh ke tanah. Pun tampak topi dengan tulisan sama terlihat berada di depan kaki Zulkifli Hasan (Ketua Umum PAN) dan Hidayat Nur Wahid (DPP PKS). Juga ketika melakukan sholat sunah dhuha mereka berjejer antara laki-laki dan perempuan. Sungguh hal-hal yang sebetulnya tidak diajarkan Rasulullah dalam menjalankan agama malah dilakukan mereka.

Atau kondisi lain seperti sholat didalam kereta saat perjalanan dilakukan sama persis dengan saat bukan dikendaraan. Padahal dalam Islam sudah diajarkan jika sedang didalam kendaraan melakukan sholat dengan hanya duduk. Hal-hal diatas makin menggenapi para penceramah yang sewaktu diberi orasi justru malah memfitnah sesama muslim.

Seharusnya orang-orang seperti Tengku Zulkarnain, Rizieq Shihab, Amien Rais, Zulkifli Hasan atau yang lainnya tahu adab seperti ajaran Rasulullah. Namun ketika ada hinaan, ejekan, hingga fitnahan mereka semua sama saja. Jangankan memberhentikan, mereka justru malah membiarkan. Pun hinaan atau fitnahan yang dilontarkan disertai dengan ucapan takbir. Sungguh peristiwa yang sangat bertolak belakang dengan ajaran-ajaran nabi. Bagaimana bisa sekelas pimpinan Ormas atau mantan ketua umum ormas bahkan salah satu petinggi MUI melakukannya dengan tanpa merasa bersalah? Adakah nurani, akhlak, adab sudah tidak ada dalam pikiran mereka?

Coba simak lontaran Tengku Zulkarnain, "Kita tidak mau NKRI yang menghalalkan homoseks, betul?” Benarkah saat ini Negara Indonesia memperbolehkan homoseks? Adakah kebijakan pemerintah yang menyatakan hal itu? Tidak ada satupun kebijakan negara yang melegalisasi homoseks tapi Tengku Zulkarnain meyakini itu. Atau pernyataan Rizieq Shihab . “Haram memilih calon presiden dan calon legislatif yang diusung oleh partai pendukung penista agama,” Siapa yang dimaksud? Apakah PDIP, Golkar, PSI atau siapa? Dan siapa yang menista agama? Silahkan buka keputusan hakim tentang kasus Ahok.

Pun demikian dengan lontaran Bahar Bin Smith "Ketika aksi 411 jutaan umat islam, ribuan ulama, ribuan habait meminta keadilan dan penegakan hukum kepada penista agama yang terjadi justru para ulama, para habaib, para kiai, para santri dikenakan gas air mata dan presidenya kabur dan lari saudara-saudara,". Fakta yang terjadi, massa sudah diperingatkan Polri untuk membubarkan diri karena sudah melewati pukul 18.00 dan itu batas toleransi demo. Tidak ada lagi para ulama, habaib atau kyai saat itu. Para santri pun patut dipertanyakan santri mana? Dibawah asuhan siapa? Siapa pimpinannya? Yang tersisa hanyalah massa yang memang terus menerus diprovokasi bahkan diduga sengaja dikorbankan dengan dalih membela Islam.

Jadi, masihkah percaya gerombolan 212 adalah para pembela Islam?  

Tuesday, December 4, 2018 - 18:00
Kategori Rubrik: