Restu

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Khaitami

Oktober 2015, hampir sepuluh tahun Abah memberiku amanat sebagai Mudir di pesantren asuhannya. Tentu saban hari aku berlalu lalang di Pondok ini. Tetapi hampir dua bulan terahir saya tidak bertemu Abah. Dan pagi ini, dari kejauhan terlihat beliau duduk sendiri di kursi roda. Berjemur di sisi lapangan badminton yang kosong. Kesempatanku untuk mendekat padanya.
“Assalamualaikum, Abah damang?” saya menundukkan badan bercium tangan. Abah terlihat lemah, karena komplikasi sakitnya. Di ujung kain sarung, nampak kedua kaki yang bengkak.

“Waalaikum salam, alhamdulillah” suaranya pelan, Abah tersenyum. Aku merasakan Abah seperti mengatur satu per satu nafasnya, saya pun sama. Aku menghela udara dalam-dalam. Ingin menyampaikan banyak hal. Tentang perkembangan rehab beberapa ruang, tentang keadaan santri-santri, tentang program pondok dalam waktu dekat, tentang berbagai situasi yang saya hadapi dalam membantu Abah mengurusi Pondok ini, tentang cita-cita saya. Namun, tentu tidak sekarang. Kesempatan seperti pagi ini pun tidak setiap hari. Saya hanya ingin berdekatan dengan beliau menyapa hangat dan bicara ringan saja.

Saya sudah biasa duduk dengan Abah berlama-lama. Mendengarkan banyak pandangan dan arahan beliau. Bisa hingga larut malam, tanpa jemu. Kebersamaan laksana bimbingan hikmah dan ilmu. Secara langsung atau tidak, Abah sudah mengajari saya banyak hal tentang kehidupan yang tidak ada di bangku kuliah biasa. Pandangan saya dibukanya, tentang masyarakat, tentang Islam, tentang kepemimpinan, hingga tentang ilmu pertukangan/bangunan.

Sebuah kenangan lama saat masih sekolah, Ibunda (rohimahalah) dengan bersemangat datang pada Abah, menyampaikan bahwa Entam akan menjadi khotib idul fitri di Gorobog, kampung saya. Ibu ingin dibuatkan teks khutbah. Abah pun mengajak saya bersiap untuk didiktekan materi khutbah. Lalu sore itu saya mencatat setiap kata demi kata yang meluncur dari bibirnya. Sebagian tulisan agak belepotan oleh tinta pulpen yang abah pinjamkan. Saya punya waktu dua minggu untuk mendalami dan menghafal naskah yang hebat ini.

Setiap latihan, kubayangkan sosok Abah yang sedang khutbah. Di atas mimbar auranya terasa sejak ucapan salam pertama. Menyampaikan untaian kalimat dengan keyakinan dan seksama. Itulah pelajaran pertama yang sangat berkesan. Saya cukup berhasil. Bapak dan ibu sangat bahagia karena khutbah saya katanya bagus dan lancar.

Lalu takdir pula yang mengantarkan saya pada jalan selanjutnya. Entah bagaimana, setelah lulus kelas enam dari Darul Iman, tahu-tahu saya dan orang tua dipanggil Abah. Kepada kami beliau menyampaikan petunjuk agar saya melanjutkan studi di ma’had Al-Amin Madura. Abah mengenal kyainya. Saya pun berangkat, kuliah S1 di sana. Berbarengan dengan ustadz Ola, dan ustadz Imi yang juga diberangkatkan Abah masa itu untuk masuk tingkat Aliyah. Sebuah episode baru dalam hidup saya. Masuk di sebuah pesantren besar yang sudah memiliki perguruan tinggi. Ini menginspirasi saya untuk suatu saat mewujudkan cita-cita kedua orang tua, yaitu mendirikan pesantren.

Februari 2006, bertepatan dengan kelulusan kuliah di ma’had Al-Amin, Abah meminta saya untuk di Darul Iman mendampinginya memegang kendali pesantren. Saya mendapat mandat sebagai pimpinan harian. Tentulah ini tidak mudah. Tetapi sebagai kader, saya menguatkan keberanian menjalani amanah ini. Sebuah episode baru lagi dalam hidup saya, bismillah, apapun yang terjadi, biidznillah.

Dalam perjalanannya, di sanalah pelajaran terdalam bagi saya dari Abah tentang prinsip Tauhid dalam kehidupan nyata. Seringkali saya seakan dilepasnya sendiri, lalu ditemuinya lagi. Ditegur, diberi masukan, diajak menemani perjalanan, dipuji, bahkan dimarahi adalah rangkaian pelajaran dan tempaan yang tak dapat ternilai harganya. Di atas segala persoalan dunia dan hubungan sesama manusia, Allah adalah sandaran dan harapan tertinggi tempat segala urusan dipasrahkan kembali. Itu intisari penerapan ilmu tauhid bagi saya, dari Abah.

Tentang angan saya dan orang tua mendirikan pesantren di kampung halaman, beberapa kali saya utarakan pada Abah. Namun beliau selalu mengatakan nanti, belum saatnya. Padahal secara pribadi saya merasa siap, bahkan pelan-pelan orang tua sudah mulai membangun beberapa lokal untuk kegiatan santri. Namun lagi-lagi Abah mengatakan, nanti. Belum saatnya. Abah sampaikan di masa awal Darul Iman berdiri, tantangan terbesar justru bagaimana mendapatkan dukungan para kyai yang tidak semua sepaham dengan sistem pesantren modern. Tersirat pesan bahwa saya perlu beberapa waktu mempelajari situasi untuk memantapkan sebuah lembaga berdiri.

Saat memasuki tahun ajaran baru, saya sampaikan lagi pada Abah, bahwa ruang-ruang belajar yang sudah dibuat sangat sayang jika tidak dimanfaatkan. Maka saya putuskan mulai menerima santri baru di pesantren saya tahun ini. Saat itu Abah tidak mengiyakan atau melarang, reaksinya hanya terdiam. Diam yang menyisakan dilema di pikiran saya. Pagi ini sejenak kami terdiam. Dalam hati aku memanjatkan doa bagi kesembuhannya. tak kusangka Abah bertanya sesuatu yang mengejutkan:

“Bagaimana Entam keadaan pesantrennya. Santrinya sekarang ada berapa…” ya Allah. Aku masih ingin mendengar lagi suara Abah tadi. Sebuah pertanyaan yang bagi saya menyiratkan makna. Inilah perhatian dan pertanda doa restunya. Restu yang lama saya tunggu dan beliau tangguhkan agar saya bisa lebih baik berjalan. Saya meyakini pasti ada rahasia dan hikmah mengapa Abah mengatakan itu sekarang, tidak dari dulu.

“Alhamdulillah, Abah. Ada 13 orang” jawab saya. Abah mengangguk-anggukkan kepala. Di situlah saya merasa sangat lega. Abah tahu, apa yang saya rintis adalah karena saya meneladani semangatnya, perjuangan mulianya. 
Saya merenungkan sebuah ayat yang sering Abah kutip dalam menggambarkan kehidupan pesantren. Ayat yang menjadi inspirasi beliau menamai pesantrennya “Darul Iman”: “walladzina tabawwauddaro wal imana min qoblihim yuhibbuna man hajaro ilaihim wala yajiduna fi shudurihim hajatan mimma utu wa yu’tsiruna ‘ala anfusihim walaukana bihim khoshoshoh”.

Pada ayat ini terdapat makna ruh bagi para pejuang pondok. Santri laksana kaum muhajirin yang diterima kaum anshor dengan 'kanyaah', kasih sayang. Ibarat kaum anshor ialah pimpinan dan para pembina di pesantren, yang ikhlas berjuang, bersikap, bertindak mengutamakan pendidikan santri, meski harus mengorbankan kepentingannya sendiri. Pagi itu, saya melihat sinar terang di wajah Abah. Seterang matahari yang membuat sirna semua gundah. Terima kasih doa dan restumu Abah. Itulah support terbesar untuk perjuangan saya. Semoga setiap amalmu menyampaikan ilmu menjadi jariyah yang tak putus-putusnya, penerang di alam baka.

dari #bukuAbah

Sumber : Status Facebook Nisa Alwis

Wednesday, January 3, 2018 - 13:15
Kategori Rubrik: