Restrukturisasi BUMN

Oleh: Wahyu Sutono

 

Kepada Yth. :
Menteri Badan Usaha Milik Negara RI
Bapak Erick Thohir
di Jakarta

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Bersama surat ini, saya menyampaikan keinginan untuk membantu Bapak selama masa restrukturisasi di BUMN, setidaknya selama 6 bulan masa kerja, yang tentunya saya "Tidak meminta bayaran atau gaji."

 

Ini murni demi kecintaan saya kepada NKRI, serta ingin merasakan pengembangan BUMN yang sudah puluhan tahun jalan di tempat, seperti yang Bapak lihat sendiri. Saya sejak tahun delapan puluhan sudah prihatin dengan kondisi BUMN, termasuk BUMD, namun apa daya, saya hanya wong cilik yang bukan siapa-siapa, kecuali hanya ngelus dada.

Dari pengalaman saya 18 tahun di BUMN, walau hanya menduduki jabatan menengah atau bukan pejabat tinggi, namun cukup paham seperti apa manajemen, etos kerja, dan hal-hal yang menghambat kemajuan di BUMN. 

Oleh karenanya tak ada salahnya bila saya ingin turut urun saran, urun rembug, dan berbagi pengalaman bersama Bapak dan tim Bapak, dengan harapan BUMN ke depannya bukan saja bisa maju dan dibanggakan, namun juga dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh karyawan, selain menjadi salah satu sumber devisa negara, karena BUMN harus bisa menjadi perusahaan yang profit oriented.

Beberapa catatan penting bahwa, banyak jabatan yang bisa disatukan. Lalu tingkat disiplin kerja yang mengkhawatirkan. Selain itu, sudah saatnya semua sistem keuangan menggunakan cara eletronis atau tidak lagi tunai. Lalu hapus semua program studi banding bila tidak spesifik dan mendesak.

Yang paling penting lagi bahwa semua program kerja harus dibuat berdasarkan target yang disusun secara matrik online, sehingga karyawan bisa melihat, selain mengoreksi. Dan yang terakhir deregulasi berbagai aturan yang menghambat. Semua harus disederhanakan. Termasuk menghapus divisi atau departemen yang tidak efektif seperti halnya Renbang.

Sekilas tentang jabatan di BUMN itu susah susah gampang. Gampangnya karena faktor X yang pasti Bapak paham maksudnya. Sulitnya adalah seperti yang saya alami, karena tak memiliki faktor X, ditambah usia saya saat itu dianggap terlalu muda (21 tahun), dan pendidikan hanya STM, maka berbagai hambatan muncul, baik secara personal, maupun regulasi yang ada.

Namun berkat dedikasi sosok pemimpin hebat yang kemudian menjadi salah satu direksi yang luar biasa di salah satu BUMN, saya bisa menduduki jabatan dimaksud, hingga akhirnya saya pun harus mengambil jalur bea siswa untuk studi di salah satu PTN, agar tidak terhambat lagi. Artinya, bahwa jabatan di BUMN tidak selamanya berdasarkan kompetensi, kredibilitas, integritas, dan profesionalitas. Itulah mirisnya.

Demikian, atas perhatian dan perkenan Bapak, kami haturkan terima kasih.

Hormat pemohon,

 

Wahyu Sutono

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Wednesday, November 20, 2019 - 21:45
Kategori Rubrik: