Restart Ekonomi

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

(Plandemik Thanos Yang Gagal)

Ada fenomena menarik selama Pandemik Covid-19 pada sektor ekonomi politik di negara kita, khususnya pada Bulan Agustus lalu. Dimana sebuah prestasi tertoreh bahwa cadangan devisa kita menembus rekor tertinggi dalam sejarah yang nilainya mencapai hingga 137 Milyar US$. Padahal dalam situasi pandemik, banyak negara saling mengisolasi diri termasuk di dalamnya adalah sektor perdagangan antar negara (ekspor impor). Menariknya, cadangan devisa kita justru melonjak. Lalu dari mana asal pendapatan devisa tersebut?

Mungkin kita semua masih ingat betapa gaduhnya negeri ini saat RUU HIP bergulir? Rentetan aksi protes hingga demo turun ke jalan menjadi sajian dan tema utama di berbagai pemberitaan. Tiba-tiba saja di awal Juli lalu, RUU MLA RI-Swiss yang luput dari perhatian publik akhirnya disahkan. Ibarat menyalip di tikungan, bisa jadi RUU HIP hanyalah decoy (umpan) untuk meloloskan RUU MLA RI-Swiss yang mungkin lebih urgent dalam situasi seperti ini. Hal ini karena berkaitan dengan pemulangan aset "tak bertuan" yang bernilai hingga belasan ribu trilliun rupiah itu. Entah saat ini aset tersebut sudah pulang kampung atau belum, tapi setidaknya rangkaian penggelontoran anggaran stimulus dan melonjaknya cadangan devisa menjadi indikasi kuat bahwa Pengesahan RUU MLA RI-Swiss itu telah membuahkan hasil.

Nah, bukan cuma Bulan Agustus yang bagus, September Ceria juga membawa kabar gembira. Indonesia sudah berhasil "membuang" hegemoni US$ dengan beberapa negara mitra strategisnya. Bersama Jepang, China, Korsel, Singapura, Malaysia dan Australia, kini sudah bersepakat untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi bilateralnya. Hal ini tentu mempunyai dampak yang sangat signifikan. Mengingat China dan Jepang sebagai negara utama yang membanjiri Indonesia dengan produk impor dari mereka. Dimana selama ini demand atas US$ menjadi tinggi sebagai alat transaksi, kedepannya tidak dibutuhkan lagi. Otomatis ini akan menggerus hegemoni US$ yang juga berdampak langsung terhadap nilai tukar dengan Rupiah. Bahkan jika nantinya kita sudah lepas sepenuhnya dan tidak lagi tergantung terhadap US$, tidak menutup kemungkinan Pemerintah RI akan memberlakukan Redenominasi Rupiah dan Kurs Tetap atas US$. Inilah yang dinamakan dengan Restart Nilai Uang. Nah lo!

Belum selesai dengan Restart Nilai Uang, tiba-tiba saja Gubernur DKI Anies Baswedan mengumumkan akan memberlakukan ulang PSBB total di Ibukota Jakarta. Kebijakan ini banyak disesalkan oleh para pengamat ekonomi. Bahkan dikatakan ada sekitar Rp.300 Trilliun nilai investasi yang cabut dari Pasar Modal di Indonesia. Tapi tahukah kita, bahwa di sisi lain selama ini kita telah "dijajah" oleh investor asing dalam kepemilikan emiten Pasar Modal kita? Bahkan juga tidak banyak yang tahu bahwa dalam situasi PSBB justru yang terjadi adalah kenaikan porsi kepemilikan Investor lokal! Hmm.. Baru tahu ya? Hehehe... Inilah juga yang bisa dinamakan dengan Restart Pasar Modal!

Ibaratnya begini, kita sedang punya duit banyak. Ketika kebutuhan untuk stimulus sudah dianggarkan, lalu untuk apa sisanya? Jika diinvestasikan, harus kemana? Tentu dalam situasi seperti ini haruslah investasi yang likuid untuk mengantisipasi kebutuhan situasional dan insidental. Lalu kenapa tidak ke Pasar Modal saja? Mumpung harganya sedang anjlok (murah). Dan terbukti, pada penutupan bursa hari ini, IHSG menguat signifikan justru pada saat PSBB sudah diterapkan. Sebuah fakta yang mematahkan banyak teori ekonomi. Bisa jadi di sini ada campur tangan dan skenario tingkat tinggi aksi take over oleh Investor Lokal (bisa jadi Pemerintah) atau aksi Buyback emiten-emiten strategis dari tangan para Investor Luar dengan menggunakan kebijakan-kebijakan Gubernur Ibukota (Etalase Negara) sebagai trigger atau pemicunya.

Jadi, sudah sepatutnya kita bersyukur bahwa pemerintah dalam situasi sulit seperti ini masih mampu mengambil kebijakan-kebijakan strategis dengan cara bermain cantik dan tak terduga. Bahkan kalau boleh saya mengatakan, justru saat ini telah terjadi Restart Ekonomi menuju ke arah yang lebih baik kedepannya bagi negara kita. Menjadi sebuah antitesa ketika banyak Teori Konspirasi mengatakan bahwa Covid-19 adalah Plandemik dengan kekuatan "Thanos" dibelakangnya untuk tetap menggenggam dunia. Justru kita akan mampu mengalahkan dan mengakhiri kedigdayaan serta hegemoninya.

*FAZ*
#SILIT

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, September 17, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: