Resiko Status Viral Medsos

Ilustrasi

Oleh : Nia Perdhani

Kemarin saya menjenguk seorang teman yang sedang terkena kasus akibat tuduhan pencemaran nama baik dan penghinaan, yang ia lakukan di media sosialnya. Postingannya tertangkap oknum berpengaruh di kubu lawan. Kemudian pressure demi pressure dia terima.

Sampai dengan ia membuat video permintaan maaf, permintaan maaf tertulis, semua sudah dipublish di akun sosial medianya. Sudah diaplot juga di akun pihak yang menekan ia untuk minta maaf.

Saya mengenalnya baik. Dan selama saya mengenalnya di dunia nyata, saya bersaksi bahwa ia orang baik. Bahwa postingannya kebablasan itu sudah diakuinya dan sudah minta maaf.

Tapi ada hal yang mungkin tak pernah kita, -saya dan kalian- bayangkan pada kasus-kasus seperti ini. Meskipun nampaknya di depan layar tampak "cuman gitu doang" sebenarnya lebih dari itu.

Bayangkan saja, hanya selang 3 jam dari sejak postingannya tertangkap kubu lawan, teror demi teror via sms, wa maupun inbox fb mulai berdatangan. Selang 5 jam, para peneror sudah mampu menyebutkan dengan jelas nama aslinya, alamat rumahnya, nama anaknya, nama suaminya, nomer KTP bahkan nomer KK. Jangan tanya bagaimana rupa isi teror itu. Cukup untuk membuat kamu gemetar keluar rumah atau melepas anakmu sekolah.

Sedih betul saya. Betapa sosial media bisa begitu memberi efek samping pada hidup kita sampai tataran yang tak pernah kita bayangkan.

Saya sendiri sudah lama malas ikut2an ngomongin politik di akun sosial media saya ini. Ngeliat orang ribut saja saya lelah sangat. Hari ini menjatuhkan pihak lawan dengan berita A. Besok hari berita itu dibalik grembyang menjadi bumerang buat dirinya. Begituuuuu terus dari hari ke hari. Pokoknya debat terus sampek entek sampek elek.

Duhai cukup, sudahilah, teman. Kehidupan kita di dunia nyata jauh lebih berharga daripada itu semua. Rasa aman dan ketenangan jiwa kita melepas anak-anak keluar rumah tak bisa ditukar dengan apapun.

Cukup sudah jadi alas kaki para politisi yang kalau sudah dapat jabatan seringnya ingkar janji. Kita toh tak pernah benar-benar tau mana yang benar, mana yang salah dari mereka.

Sudahlah kalau jatah kita cuman jadi rakyat jelata, tak perlu terlalu jauh terbawa arus perang urat saraf politik di sosmed ini. Kecuali kalo kamu memang yakin punya beking pengaruh yang juga cukup besar. Kamu punya kawan-kawan orang berpengaruh, silahkan saja. Sepertinya memang yang jadi sasaran kasus-kasus pressure seperti ini adalah mereka yang lemah dan tak punya beking apa-apa. Sudahi saja. Tak sebanding dengan resiko yang bisa kita terima.

Entahlah. Mungkin saya yang terlampau imbas imbis, penakut, jirih, plus apatis terhadap perilaku2 politisi negri ini. Saya cuma mengingatkan. Bahkan meski saya bukan korbannya, teror2 elektronik itu seperti tak bisa hilang dari benak saya hingga saat ini.

Tambahan
Efek memilih unfollow atau unfriend atau blokir friendlist yang berseberangan pemikiran dengan kita rasanya besar. Karena akan membuat kita tidak bisa melihat berita atau isu yang dikembangkan pihak lain. Yakinlah kebenaran itu bukan milik kita saja. Sombong namanya kalau kita selalu merasa benar dan orang lain tampak selalu salah. Jangan jadikan pilihan politik sebagai pertimbangan dalam menyeleksi teman. Berbeda kubu itu tidak apa-apa. Yang penting jaga adab bersosial media. Tidak menyebar fitnah, tidak menghasut, tidak marah sambil memaki orang lain, tidak menghina, tidak mengejek orang lain apalagi menyerang sisi personalnya.

Sumber : Status Facebook Nia Perdhani

Saturday, August 4, 2018 - 18:30
Kategori Rubrik: