Resiko dan Manfaat Vaksin Corona

ilustrasi
Oleh : Mila Anasanti
Pakai payung memberikan risiko lebih tinggi tersambar petir dan memang pernah ada kejadiannya:
Lantas apakah berarti:
Anda memilih tidak usah pakai payung, lebih baik hujan-hujanan saja basah kuyub?
Padahal risiko demam karena kehujanan di depan mata, sedang kasus tersambar petir pakai payung hanya hitungan jari di dunia ini.
Kenapa tidak beredar penolakan ramai-ramai berhenti memakai payung?
Hampir tiap tahun anda mendengar berita kecelakaan pesawat dengan korban ratusan, apa terus anda memilih tidak pakai pesawat?
Ini hanyalah contoh bahwa dalam hidup kita harus pandai-pandai membandingkan
- risk vs benefit alias risiko vs manfaat
- risiko lebih ringan vs risiko lebih besar
- risiko di depan mata vs risiko yang jarang terjadi.
Sama dengan vaksin, memilih tidak divaksin karena kasus sangat sangat langka terkait vaksin, tapi merasa lebih aman menghadapi virus covid. Ini ibarat di musim penghujan memilih hujan-hujanan basah kuyub tiap hari dibandingkan pakai payung.
Ketika awan menggantung tinggi, prakiraan cuaca menjelaskan hujan akan turun, muncul pepatah: "sedia payung sebelum hujan."
Tapi lagi-lagi anda memilih tidak percaya karena kemarin anda keluar rumah tanpa payung ternyata tidak hujan.
Namanya prakiraan cuaca oleh ahlinya, tentu saja tidak 100% pasti benar. BMKG bukanlah mbah Jambrong yang cukup bertapa lalu meramal besok hujan dan meyakinkan orang kalau ramalannya pasti benar, kalau gak yakin, tatap mata saya!
Namanya prakiraan berdasarkan ilmu adalah hasil analisa dari pola curah hujan sebelum2nya yang memberikan PELUANG BESAR perkiraannya benar.
Jadi tidaklah sama,
ketika seorang ahli, membuat analisa berdasarkan data lalu memprediksi, semisal menyatakan besok hujan ternyata meleset tidak jadi hujan.
vs
Orang awam atau mbah Jambrong yang ngawur menebak besok tidak akan hujan ternyata tebakannya benar kejadian.
____
Bukan berarti BMKG tidak bisa dipercaya karena prakiraannya pernah meleset, tidak pula mbah Jambrong lebih pinter dari BMKG karena pernah (kebetulan) lebih benar ramalannya.
Tidak akan pernah sama yang namanya memprediksi pakai ilmu dengan sekedar menebak dengan khayalan.
Setiap penelitian untuk memprediksi apapun basisnya adalah ilmu probabilitas. Probabilitas itu cabang Matematika, sedang Matematika adalah ilmu pasti.
Kalau hari ini 1+1 = 2, sampai nantipun akan tetap begitu.
Kalau anda melempar mata uang, probabilitas mendapatkan gambar atau angka adalah 1/2.
Artinya jika di Indonesia anda melempar mata uang 1000x, kemungkinan anda mendapatkan 'angka' adalah 500 kali (P = 1/2 x 1000).
Ini berlaku general, mau anda melempar mata uang 1000x nya di Zimbabwe sekalipun, probabilitas anda mendapatkan 'angka' adalah 500x. Tidak percaya? Coba saja! Bisa jadi percobaan pertama melempar 1000x, mendapatkan angka 497x. Percobaan kedua melempar 1000x mendapatkan angka 501x. Yang jelas tidak akan jauh-jauh dari 500x.
Itulah indahnya ilmu probabilitas. Setiap penelitian medis berdasarkan EBM, basis utamanya adalah probabilitas dan statistik. Setiap percobaan dihitung sedetil mungkin nilai probabilitasnya, sehingga hasil dari percobaan ini bisa digeneralisir di populasi yang lebih besar, atau hasilnya akan konsisten sama di tempat lain. Kalaupun beda ya selisihnya tipis, tidak signifikan, konklusinya akan tetap sama.
EBM tertinggi adalah meta-analysis yang dihitung dari sumari statistik dari penelitian di beberapa tempat sehingga di dapatkan nilai peluang hasil penelitian ini akan konsisten jika dikerjakan di tempat lain. Jauh dari unsur kebetulan.
Jadi 'ramalan' peneliti itu tidak pernah setara dengan ramalan mbah Jambrong, ataupun tebak-tebak buah manggis ala orang awam.
***
Dalam Islam, berbicara (bahkan memprediksi apa yang akan terjadi tanpa ilmu) di tempat umum sekalipun 'kebetulan' benar hukumnya tetap dosa besar, bahkan syirik. Baik endingnya benar maupun salah, sama-sama kena dosa.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36).
Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata: “ Allah Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan (tanpa ilmu).” (Tafsir Al-Qur’anul Azhim, surat Al-Isra’:36)
Sedangkan ahli yang memutuskan dengan penelitian (ijtihad), bahkan sekalipun kelirupun dapat 1 pahala, jika benar 2 pahala.
"Jika seorang hakim (ahli ilmu dalam agama) mengadili dan berijtihad dan ternyata ia benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika seorang hakim mengadili dan berijtihad lantas ia salah, baginya satu pahala." [HR. Bukhary: 6805].
Inilah perbedaannya. Letak adilnya. Tidak akan pernah sama hak berbicara di depan publik antara hasil dari penelitian dengan hasil ucapan omong kosong belaka.
Bahkan seorang ahli sekalipun jika berbicara tanpa ilmu, tanpa berdasar penelitian (ijtihad jika dalam urusan agama), maka ucapannya tidak bisa diambil sebagai rujukan.
Karena Islam sangat menghargai susah payahnya meneliti sebelum menarik kesimpulan dan menyebarkannya.
***
“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al-Maidah 8].
Utamakan ilmu dalam memutuskan segala sesuatu, bukan sentimen belaka. Hikayat Cebong dan Kadrun sudahlah usang, kisanak! Mereka udah jadi presiden dan mentri!
Sumber : Status Facebook Mila Anasanti
Sunday, January 10, 2021 - 11:30
Kategori Rubrik: