Resi Hoaks Mati Oleh Hoaks

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Sambil mengenangkan almarhum Ki Enthus Susmono, dalang wayang asal Tegal, izinkan saya mengisahkan nasib malang seorang guru pembuat hoaks di dunia pewayangan yang mati mengenaskan akibat termakan hoaks. Dialah Resi Pendeta Drona.

Saat muda belia, Dahnyang Durna alias Begawan Drona merupakan satria tampan dan sakti bernama Raden Bambang Kombayana. Dia putera Resi Baratmadya di negeri Hargajembangan dari pernikahannya dengan Dewi Kumbini.

Akan tetapi karena sikapnya yang tak sabaran, sering kurang ajar, mentang mentang - dia dihajar habis habisan oleh Patih Gandamana di Hastinapura - pada masa pemerintahan Pandu - hingga mukanya remuk dan tangannya patah, hidungnya bengkok, tak terpulihkan. Sehingga penampakannya sampai tua pun sangat menyedihkan.

Bambang Kumbayana juga dikenal asbun. Gara gara sering bicara tanpa mikir, dia termakan omongannya sendiri dan terpaksa mengawini kuda dan lahirlah anaknya, Aswatama yang artinya "anak kuda".

Saat itu dia mau menyebarang sungai. Karena sudah dandan keren tak mau basah, ketemu saudara seperguruan yang sudah jadi pejabat yakni Raden Sucitra di negara Hastinapura, sedangkan sungai begitu lebar dan airnya deras, maka buru buru dia teriakan sayembara: "Barang siapa bisa mengantar saya ke seberang sungai, jika laki laki saya jadikan saudara, jika perempuan akan saya jadikan isteri"

Tak lama kemudian munculah kuda perempuan yang siap menyeberangkannya. Bambang Kumbayana lanngsung nemplok, dan menyeberang. Saat sampai di seberang dia diingatkan Dewa akan sumpah dan sayembara itu.

Akhirnya, ya, begitulah...

 

Pada umumnya dalang menampilkan pendeta Pendeta Drona sebagai tokoh antagonis, tukang hasut dan tukang adu domba. Licik. Akan tetapi Ki Enthus Susmono, Bupati Tegal yang piawai memainkan wayang kulit dan wayang golek itu - menampilkannya dalam versi lain. Tokoh tragis. Pendeta Drona adalah sosok guru yang obyektif dan dedikatif. Tapi dia menjadi rusak dan jahat akibat tekanan dan hasutan Patih Sengkuni yang sudah mendarah daging liciknya. Setara Fadly Zon dan Amin Rais.

Syahdan, pada suatu hari, Patih Sengkuni meminta agar Drona menunjukkan keberpihakannya karena Perguruan Sukalima berada di wilayah hukum Hastina yang menerima siswa anak anak Pandawa. Drona menyatakan bahwa dia guru yang mengajarkan ilmu yang sama bagi semua siswa dan mendidik sama adilnya.

Jawaban itu membuat Patih Sengkuni tidak senang. Sebab anak anak Pandawa adalah ancaman bagi masa depan Hastina. Karena itu, Drona harus membuat pilihan dan menegaskan keberpihakannya. Atau izin operasi perguruan ditinjau ulang olehnya.

Lebih jauh, Patih Sengkuni kemudian minta agar sebagai guru, Resi Drona memberikan tugas yang berat ke tempat berbahaya kepada para muridnya, dari kubu Pandawa - guna mencelakai mereka. Khususnya kepada Bima -
sebagai andalan Pandawa - agar mati, sebelum perang besar Bharata Yudha tiba. Kalau tidak, perguruan tempat Drona mengajar akan ditutup dan jabatannya sebagai penasehat istana - juga komisaris BUMN ini-itu - dicopot.

Resi Drona masgul dibuatnya atas tugas dan ancaman itu.

"Silakan Bapa Durna bayangkan wajah Rizal Ramli, Said Didu, dan Refly Harun - yang stress dan jadi nyinyir karena kehilangan jabatan, " kata Patih Sengkuni.

"Silakan Bapa Durna bayangkan tak ada lagi kegiatan main golf, karaoke, entertainmen relasi di spa plus plus, karena bakal saya hentikan. Ratusan juta per bulan transfer dari Hastina kepada Bapa Drona sebagai rektor, guru besar dan komisaris independen di BUMN, saya tarik. Dan rekening Bapa bisa saya kosongkan, " ancam Sengkuni lagi.

Resi Dorna benar benar senewen. Rencana menambah isteri yang ditaksirnya di Instagram buyar. Mau jadi Youtuber belum tentu laku.

Resi Drona berpikir keras sepeninggal Patih Sengkuni. Hingga kemudian tercetus ide jahat - tapi apa boleh buat. Demi jabatan dan perguruan Sokalima, yang lama dirintisnya.

Jelas dia tak mau bernasib seperti mantan menteri yang gagal menggelar resepsi bareng artis sinetron berbody 'semlohei' itu. Padahal sudah mencetak undangan dan bayar DP catering. Atau pakar hukum yang diberhentikan dari komisaris independen yang akhirnya jadi Youtubers dan mewawancarai tukang obat sekelas Nur Sugik, demi 'clickbait'.

Akhirnya, dia memanggil dan memerintahkan Bima untuk mencari 'Banyu Tirta Perwitasari' (air kehidupan) yang akan membuat Bima mencapai kesempurnaan hidup. Perintah itu sesungguhnya hanyalah siasat untuk mengirim Bima ke hutan belantara Tribasara - yang dihuni biang begal, orsmas radikal, preman agama, jin, pelarian ISIS, setan prayangan dan segala macam raksasa. Agar mati di sana.

Raden Bimasena, Satria Jodipati - yang memiliki jiwa murid patuh - tanpa bertanya, langsung menjalankan titah sang guru. Ia berangkat menuju tempat berbahaya yang sudah ditentukan Drona.

Benar saja, kehadirannya hutan belantara Tribasara yang dituju membuat terkejut dua raksasa yang tinggal di sana, yaitu Rukmuka dan Rukmakala. Mereka terganggu. Tak pelak, terjadi perkelahian antara mereka dan membuat dua raksaksa tersebut kalah. Setelah raksasa itu mati dia mendengar bisikan Dewa Indra dan Dewa Bayu bahwa tidak ada 'Banyu Tirta Prawitasari' di hutan itu.

Bima kembali ke Padepokan Pendeta Durna dan melapor. Resi Durna membenarkan memang tak ada air suci di hutan itu.

"Penugasan di sana adalah ujian pertama, " dalihnya dengan gugup. Kaget juga dia karena Bima masih hidup.

Selanjutnya Resi Drona menugaskan Bima ke Samudra Raya di Laut Selatan. Di sanalah 'Tirta Prawitasari' berada, katanya. Kali ini Bima pun menuju samudra raya. Lagi lagi sebenarnya Drona hendak menjerumuskan. Memangnya siapa yang bisa selamat dari gelombang laut selatan yang ganas itu?

Akan tetapi, sekali lagi, Resi Drona keliru. Justru di sana lah Bima bertemu dengan Dewa Ruci. Sosok mungil yang mirip dirinya. Sebagai jatidirinya. Di sanalah dia benar benar mendapatkan ajaran kesempurnaan hidup.

INGKANG KINARYA sambeting carita - kisah berikutnya sebagai sambungan cerita - selama memimpin Perguruan Sokalima, sejak masih padepokan hingga universitas - Resi Dorna bukan hanya mengajar melainkan juga belajar. Karenanya, ketika akhirnya pecah perang Bharata Yudha, kesaktiannya berlipat lipat dan merepotkan kubu Pandawa. Gelarnya sudah profesor, MA, Ph.D., MSc mengalahkan artis film Marissa Grace Haque. Doktor dan Haji juga. Sempat mengantongi tiket surga juga. Komplit.

Namun sebagaimana ucapan kaum bijak bestari - segala apa yang ditanam dialah yang akan dipetik - "sopo nandur mesti ngunduh" - hukum tabur tuai - demikianlah takdir yang menimpa Pendeta Drona.

Puncak keberuntungan dan segala siasatnya berakhir di medan palagan Kurusetra - bukan oleh keris dan tombak, melainkan termakan hembusan hoaks, bahwa anak kesayangannya Bambang Aswatama, sudah tewas dalam pertempuran.

Resi Drona kehilangan semangat hidup, semangat berperang, dan akhirnya mati mengenaskan di tangan Drestajumena, adik Dewi Srikandi.

Hikmah cerita di atas - sekaligus pesan ki dalang wayang mowat mawut ini, adalah: betapa pun tinggi jabatan dan gelar serta kekuasaan yang dimiliki jika menyangkut hidup mati anak bisa hilang akal dan rasa malu. Termasuk menyalah-gunakan kekuasaannya - bagi pejabat.

Selain itu, jangan buru buru menggelar resepsi, sebelum pasti diumumkan resmi menjadi menteri sehingga jadi oposan yang selalu nyinyir di TVone dan teve swasta lainnya. Atau bakal menjomblo terus seperti Rocky Gerung itu. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Monday, October 26, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: