Reshuffle?

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Sebesar apa pengaruh pandemi global terhadap ekonomi dunia, semua ahli ekonomi sedang berhitung.

Sebagian bilang akan lebih parah dari tahun 1997 yang mengakibatkan Soeharto jatuh.Yang lebih mengerikan, dunia mungkin akan terseret pada arus mundur seperti pada tahun 1930.

Data berbicara, semua negara dunia mengalami pertumbuhan ekonomi minus.

Secara berturut-turut, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi kelompok negara maju sebagai berikut; Amerika Serikat -8 persen, Jepang -5,8 persen, Inggris -10,2 persen, Jerman -7,8 persen, Prancis, -12,5 persen, sementara Italia dan Spanyol tumbuh -12,8 persen.

"Bagaimana dengan Indonesia?"

Bukan hal baik, namun kita masih patut bersyukur bahwa kita mengalami pertumbuhan -03%, dan terlihat lebih baik dari kebanyakan negara yang lain.

Sekali lagi bukan hal yang baik, hanya tidak seburuk kebanyakan negara yang lain.

Namun data tak menyenangkan juga terlihat yakni, saat ini ada sekitar 6,4 juta orang pekerja formal sudah dirumahkan. Belum kita bicara sektor informal yang pasti akan lebih banyak lagi.

Dan ingat, angka itu masih akan terus bertambah setiap bulannya bila antisipasi dari negara tak segera dilakukan.

Laporan dari Organda, ada sekitar 1,4 juta pekerja yang dirumahkan. Laporan berikutnya adalah dari asosiasi Pertekstilan, yakni ada sekitar 2,1 juta. Perhotelan, 430 ribu. Dua ribu hotel tutup.

Sektor persepatuan ada sekitar 500 ribu. 50 persen UMKM sudah minta restrukturisasi pada perbankan.

Butuh stimulus yang cepat dan besar. Tanpa itu, sejumlah sektor yang awalnya lumpuh sementara akan menjadi lumpuh permanen.

"Apakah terkait dengan Presiden yang marah?"

Paradigma mungkin adalah jawabannya. Cara melihat bagaimana seharusnya menduduki posisi mungkin berbeda. Jokowi melihat kursi Presiden adalah tentang merebut ruang kerja, sementara, kebanyakan yang lain adalah kepentingan politik.

Jabatan disatu sisi adalah tentang peran memimpin dalam bekerja, disisi lain membuat tabungan untuk periode berikutnya. Apakah salah, tergantung siapa yang melihat.

Minta berapa jatah menteri, kementrian yang basah atau kering, adalah tentang perilaku normal dalam sebuah politik. Mereka bersatu untuk mendudukkan siapa menjadi Presiden dan minta posisi apa atas perannya, bukan sesuatu yang baru.

Menjadi masalah ketika negara sedang dalam bencana. Ada kemendesakan tak dapat ditolak atas akibat bencana ini. Ada keharusan mereposisi bahkan merealokasi anggaran demi yang lebih urgent.

Namun disisi lain, agenda politik di tahun 2024 misalnya, tetap berjalan dan tetap akan harus membutuhkan dana. Dan dana yang sudah dialokasikan tiba-tiba turut tergerus dalam program realokasi akibat pandemi.

Mungkinkah mereka yang mendapat tugas tersebut dari partai rela? Mungkinkah dengan cepat mereka mampu mereposisi kejadian yang berubah dengan sangt cepat itu?

Itulah mungkin dilema dan tampak tak solidnya pemerintahan, terutama kinerja para menteri yang membuat Presiden marah.

Satu pernyataan Presiden yang sangat mencerminkan adalah " saya akan buatkan peraturan atau PP meski jabatan adalah taruhannya."

Presiden menyatakan posisinya. Presiden memilih dikeroyok oleh siapapun demi berpihak pada pilihannya yakni rakyat. Bukan pilihan sederhana apalagi mudah, tapi Presiden sudah menentukan dimana dia berdiri.

Reshuffle mungkin adalah apa yang dibayangkan banyak pihak, namun benarkah seperti itu, tentu hanya Presiden yang paham, tak perlu kita mendorong apalagi menekan Presiden hanya berdasar asumsi yang kita punya dari pengamatan.

Presiden tahu bagaimana cara kerjanya.

Bagi kita, cukup sudah kita berpuas dengan keberpihakan Presiden kepada rakyat. Cukup sudah kita tahu bagaimana arah yang akan dijalaninya adalah untuk kepentingan rakyat banyak. Cukup sudah paradigma yang ditunjukkan adalah tentang bekerja dan melayani, bukan kekuasaan.

Itu sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan keadaan dunia saat ini.

Sepertinya, concern Presiden terhadap apa yang terjadi pada negara kita ditengah ekonomi dunia yang cenderung terjun bebas ini adalah hal pokok yang akan diutamakan.

Pelayanan kepada masyarakat tak harus kalah oleh aturan yang belum ada. "Mintalah, maka saya buatkan aturannya" demikian kurang lebih apa yang ingin disampaikan kepada para mentrinya agar tak gamang dan takut salah atau melanggar prosedur. Yang utama, selamatkan dulu rakyat.

Presiden marah kepada menterinya, kenapa selalu harus kita terjemahkan dengan reshuffle contohnya? Kita tak tahu banyak, untuk apa kita harus mendorong Presiden?

Biarkan saja Presiden marah, lha wong mereka memang anak buahnya. Salah ya ditegor, berprestasi, ya dipujilah....

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Wednesday, July 1, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: