Reshuffle Kabinet, Why Not?

Oleh: Ricky Apriansyah

Isu reshuffle kabinet kembali menyeruak ketika peristiwa Presiden RI Joko Widodo “marah” di hadapan para menteri, dalam sidang paripurna kabinet, beberapa waktu lalu. Sejumlah kalangan bertaruh kemarahan presiden sekadar basa-basi. Presiden menyebut kata “reshuffle” tapi takkan berani benar-benar mengeksekusi kebijakan reshuffle. Padahal reshuffle kabinet bukan hal baru bagi Presiden Jokowi. Di periode sebelumnya, Presiden pernah melakukan reshuffle terhadap  Anies Baswedan, Sudirman Said dan Rizal Ramli karena berkinerja buruk.

 

 

Sementara itu survei Nasional Charta Politika Juli 2020 mengungkap, lebih dari 70% rakyat mendukung Presiden melakukan reshuffle kabinet untuk mengatasi risis pandemic Covid-19 dan dampaknya pada perekonomian. Tak hanya itu, survei yang dilakukan Indikator menyebutkan 7 dari 10 rakyat Indonesia setuju Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet. Sebelumnya, survei nasional Indikator Indonesia Juli 2020 juga menyatakan 6 dari 10 rakyat Indonesia sepakat dengan Presiden bahwa kinerja menteri kurang baik. =

Jadi, tunggu apa lagi? Kini adalah saatnya Presiden melaksanakan kebijakan reshuffle terhadap para pembantunya yang berkinerja buruk. Rakyat sebagian besar mendukung reshuffle kabinet karena kondisi krisis pandemi dan krisis ekonomi memang menuntut perubahan.Pada Oktober 2019, menteri-menteri dipilih dalam kondisi normal. Namun siapa sangka, dunia mengalami krisis global. Diperlukan orang-orang baru yang lebih cocok dan cekatan dalam menangani kondisi krisis.

Beberapa orang baru akan memberikan energi baru bagi kabinet yang mulai kedodoran karena harus berlari lebih kencang dan bergerak lebih lentur. Dalam kondisi saat ini, diperlukan sosok-sosok yang gesit. Orang-orang yang mampu melakukan gerak cepat untuk membuat perubahan kea rah yang lebih baik. Presiden Jokowi perlu didukung orang-orang yang lebih gesit dan “out of the box”.

Tidak seperti dalam kondisi normal, fokus pembangunan di masa krisis berubah. Ada sektor dan program yang berkurang relevansinya. Oleh karena itu, sumberdaya perlu dialihkan ke tempat lain. Komposisi menteri yang baru diharapkan mencerminkan perubahan arah dan fokus ini.

Presiden tidak perlu ragu melakukan kebijakan reshuffle. Sebab apabilamenteri yang yang berkinerja buruk dipertahankan, malah akan jadi beban bagi Presiden dan bukan tidak mungkin akan menciptakan masalah di kemudian hari. Lebih cepat lebih baik, bila perlu Presiden sebaiknya segera melakukan reshuffle kabinet demi 267 juta rakyat Indonesia.   

 

Friday, July 31, 2020 - 22:15
Kategori Rubrik: