Resesi Ingus

ilustrasi

Oleh : Alois Wisnuhardana

Dalam situasi normal, kemajuan bangsa-bangsa diukur dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan PDB. Dalam berbagai krisis yg lalu, bangsa yg didera krisis, disebut mengalami resesi.

Di tahun 1998, 2008, 2013, sebagian bangsa mengalaminya. Artinya, ada yg tidak. Di 2020, catatan WHO menyebut lebih dari 215 negara terpapar virus. Artinya, nyaris semua bangsa.

Resesi, diukur dari capaian di suatu kurun waktu tertentu dibandingkan kurun waktu sebelumnya. Bisa semester, bisa tahun sebelumnya. Pandemi membuat tiap negara tersungkur dlm definisi resesi itu.

Pertanyaan saya yg bukan ekonom, karena semua bangsa diasumsikan terdampak pandemi, bisakah digunakan asumsi kurun waktu pandemi disebut nol baru? Normal Baru.

Dengan demikian, pertanyaan lanjutan saya, dalam term pemulihan pasca pandemi, mungkinkah ukuran aktivitas ekonomi manusia yg menghasilkan barang dan jasa itu dicatat dalam nominal absolut? Baru pada periode atau kurun waktu berikutnya, capaian nominal itu diukur utk mengukur pertumbuhan pada kurun waktu tsb?

Dengan demikian (lagi), kita mengusir hantu istilah yg disebut resesi, yg membuat setiap pelaku ekonomi jd gamang memproduksi barang dan jasa, yg membuat upaya pemulihan jadi seperti ingus. Sentrap sentrup mlebu metu maju mundur.

Biar bakul kopi keliling, atau bakul pisang, atau tukang vermak jins bisa tetap semangat mencari rejeki tanpa ditakuti hantu resesi.

Sumber : Status facebook Alois Wisnuhardana

Wednesday, August 12, 2020 - 14:30
Kategori Rubrik: