Repotnya Ngurusi Banyak Orang

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Ada seseorang yang mengirim jepretan ini ke inbox-ku dan saya tergelitik untuk menanggapinya. Sebetulnya ada banyak yang "lapor" ke saya tentang postingan-postingan di WA atau FB model beginian. Tetapi saya malas untuk menanggapinya. Buat apa? Tapi baiklah, saya coba jelaskan (lagi) dan mudah-mudahan dengan ini, semakin mengecilkan prosentase orang-orang yang gagal paham.

Begini, saya itu seorang, katanya, "ilmuwan sosial", lebih tepatnya antropolog sosial/budaya dan penulis. Saya bukan misionaris, dai, politisi, apalagi "pebisnis agama". Sebagai seorang ilmuwan sosial, maka apa yang saya sampaikan itu berdasarkan fakta-fakta yang saya peroleh dari informan dan yang saya amati sendiri di "lapangan" (yang saya maksud "lapangan sosial" bukan "lapangan bola", entar gagal paham lagi he he).

Karena fakta-fakta sosial itu majemuk dan rumit, bukan tunggal dan simpel, maka apa yang saya sampaikan dalam bentuk tulisan di berbagai media memang sering kali menimbulkan pro-kontra oleh pembaca yang warna-warni yang memiliki afiliasi keagamaan, latar-belakang sosial dan pendidikan, dan kepentingan politik-ekonomi-budaya yang beraneka ragam.

Sayangnya, ada cukup banyak pembaca yang menyikapi postingan-postinganku yang bernuansa "akademik-intelektual" itu dengan sikap "non-akademik-emosional" atau, menyikapi "keilmuan" dengan "fanatisme keagamaan" dan karena itu sering kali tidak nyambung dan salah persepsi. Ujung-ujungnya menuduh saya melakukan ini-itu, mempropagandakan ini-itu, dan seterusnya.

Jika saya menulis sesuatu yang bersifat kritis terhadap Arab dituduh telah menghina Islam atau menjelek-jelekkan masyarakat Arab (seperti foto di bawah ini). Sebaliknya, jika saya menulis sesuatu yang bernada positif terhadap Arab, maka saya pun dituduh telah "membela" kepentingan Arab. Dalam dunia akademik pun kadang-kadang kalau kita menulis sesuatu yang "positif" dianggap "tidak obyektif". Sementara kalau yang "serba negatif dan kritis" dianggap "obyektif". Padahal, fakta dan data itu beraneka ragam.

Maka sering kali saya "diserbu" dari dua kubu: "kubu konservatif-radikal" yang menganggap saya telah "menghina Arab" dan "kubu progresif-liberal" menganggap saya "membela Arab". Teks atau tulisan apapun termasuk "teks suci" dan postingan FB memang tidak bertulang sehingga bisa dengan mudah untuk dibelak-belokkan sesuai dengan selera, tujuan, dan kepentingan pembaca. Semua teks itu mati, manusialah yang membuatnya hidup. Teks itu bisu, manusialah yang membuatnya bicara...** (ak)

Sumber : Facebook Sumanto Al Qurtuby

Wednesday, May 25, 2016 - 03:45
Kategori Rubrik: