Renungan Setelah Hari Lahir Pancasila

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Setelah nonton FIlm G30 S PKI..., mungkin ada di antara kita yang bertanya...:

"Katanya PKI yang menculik..., tapi di film itu kok PKI seperti tentara....?

PKI itu adalah partai Politik...; dan tentu namanya partai..., ia berusaha merebut pengaruh di kalangan mana saja..., termasuk di Militer.

Bagaimana dengan TNI...?

Ketika itu TNI juga bagian dari kekuatan Politik..., dengan dibentuknya Sekber Golkar atas ide dari Jenderal A Nasution.

Jadi..., TNI tidak lagi sepenuhnya prajurit yang tidak partisan..., tapi justru TNI juga adalah partisan.

Mengapa...?

Karena..., begitulah desain politik yang di create oleh Soekarno.

Jadi..., adalah wajar saja kalau TNI juga bisa terseret secara subyektif ketika terjadi kekacauan politik.

Lantas..., mengapa akhirnya militer mau terlibat dalam operasi penculikan terhadap perwira TNI....?

Apakah itu karena provokasi PKI...?

Kalaulah itu karena provokasi PKI..., tentu mereka tidak akan menjadikan Perwira menjadi target untuk dibunuh.

Apalagi Perwira yang dibunuh dalam penculikan itu adalah perwira yang loyal kepada Soekarno..., dan hubungan mereka dengan PKI adalah solid sama sama loyalis Soekarno.

Kekuatan loyalis Soekarno itu juga sama sama mendukung melawan gerakan separatis DII/TII atau PRRI PERMESTA.

Jadi siapa yang pantas dihabisi...?

Ya lawan politik seperti kaum kanan dari TNI yang dinilai tidak loyal kepada Soekarno dan Islam.

Mengapa...?

Ya karena gerakan islam merupakan rival keras PKI..., dalam setiap perjuangan merebut pengaruh politik.

Tidak mungkin PKI berhadapan head to head dengan TNI..., karena sangat beresiko bagi PKI yang gagal mempersenjati Rakyat sebagai kekuatan ke empat.

Apalagi kekuatan militer itu tersebar di seluruh Indonesia..., yang tidak mungkin bisa seketika dibuat tunduk hanya karena pembunuhan para pemegang komando tertinggi.

Namun..., mungkin karena rumor adanya dewan jenderal yang akan melakukan kudeta yang ditiupkan oleh PKI..., dan tentu logis bila Soeharto menyimpulkan PKI dalang di balik penculikan Jenderal dengan menggunakan Paswal Pres Tjakrabiwara untuk menghabisi para jenderal tersebut..., yang kemudian kita kenal dengan peristiwa G30S.

Di Pengadilan Mahmilub..., PKI mengakui penculikan itu..., tapi tidak ada perintah untuk membunuh para jenderal itu.

PKI hanya minta kepada pasukan Tjakrabirawa untuk menjemput para jenderal menghadap Presiden Soekarno..., agar mengklarifikasi mengenai adanya Dewan Jenderal.

Namun vonis telah jatuh..., bahwa PKI sebagai dalang G30 PKI.

Sikap Soeharto ini langsung dimanfaatkan oleh gerakan Islam dan Kanan..., yang punya dendam untuk mengganyang PKI..., yang memang merupakan musuh bebuyutan sejak negeri ini merdeka.

Apalagi gerakan Islam tahu pasti..., bahwa PKI ada dibalik gagalnya Dewan Konstituante merubah Pancasila sesuai dengan Piagam Jakarta..., yang berujung keluarnya dekrit presiden Soekarno kembali ke UUD 45.

Gagallah cita cita menjadikan Pancasila bersyariah.

Di tengah kekosongan Pemimpin Angkatan Darat akibat pembunuhan dan situasi politik yang memanas dan genting..., Soeharto sebagai Pangkostrad memang hebat memanfaatkan situasi..., sehingga Soekarno memberikan mandat dalam bentuk SUPERSEMAR..., yang dijadikan dasar untuk membubarkan PKI dan mengadili PKI.

Kalau Soeharto punya agenda tersendiri setelah mandat ditangannya juga hal yang wajar..., karena dia di samping militer juga politisi dari Sekber Golkar.

Benarlah..., dia melancarkan agendanya dengan menggebuk kaum kiri..., agar dapat berkuasa dengan mudah.

Caranya ya memanfaatkan situasi kacau..., dengan membenturkan kelompok komunis dan Islam.

Dari benturan ini..., maka PKI dijadikan pihak pecundang dalam kakacauan bau amis darah itu.

Dan berikutnya setelah Soeharto berkuasa..., kelompok Islam juga digebuk.

Setelah lemah maka dipreteli unsur kekuatannya..., dengan menyederhakan partai.

Dan kemudian..., menetapkan azas tunggal Pancasila sesuai versinya.

32 tahun Soeharto berkuasa tanpa tertandingi kekuatannya..., dan akhirnya dijatuhkan lewat chaos yang juga bau amis darah...: Peristiwa Mei 1998.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Wednesday, June 3, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: