Rencana Rusuh yang Terendus

Oleh: Wahyu Sutono

 

Sungguh mengerikan bila rencana jahat itu tidak segera terendus oleh pihak Kepolisian. Kerusuhan yang direncanakan akan mereka gelar di Pulau Jawa pada 18 April 2020 mendatang, tentu saja hanya akan membuat masyarakat panik, takut, semakin susah, dan ujung-ujungnya bisa ditebak arahnya.

Tentulah untuk menumbuhkan opini terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang seolah tidak mampu lagi menciptakan keamanan, serta menjaga stabilitas ekonomi negeri ini. Setelah itu sangat mungkin akan dilanjutkan dengan demo berjilid-jilid untuk menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya Ma'ruf Amin untuk lengser.

 

Aksi vandalisme di Tangerang dan Bandung yang pelakunya keburu ditangkap, itu adalah simbol serta moda hasutan dan provokasi kepada masyarakat luas agar ikut pada aksi rusuh yang dilanjutkan penjarahan yang membabi buta hingga suasana mencekam.

Mereka kalangan milenial yang terdiri dari mahasiswa dan anak SMA yang rasanya hanya pelaku lapangan di garis paling bawah yang kurang tahu apa-apa. Bukan hanya mereka saja, tapi hingga menyusup ke sektor lainnya, termasuk provokasi dari orang yang mengaku driver Ojol, padahal hanya pinjam jacketnya saja. Dari semua itu, pastilah ada koordinator lapangan dan aktor intelektual yang memiliki modal kuat, sehingga dapat merancang serta menyiapkan semua rencana busuk itu.

Bayangkan, dengan semua program yang telah disiapkan oleh pemerintah agar bangsa ini tidak terjerembab ke jurang yang paling dalam pun mereka tetap egois dan hanya memikirkan kekuasaan. Apalah lagi bila desakan lockdown dari beberapa pihak dikabulkan pemerintah pusat. Sudah terbayang bahwa ekonomi negara akan langsung terjun bebas, lalu tingkat kemiskinan meningkat, kelaparan terjadi dimana-mana, dan ujung-ujungnya pun tuntutan lengser kepada Presiden Jokowi.

Ini sudah bukan rahasia umum bila ada kelompok tertentu yang sudah lama ingin berkuasa di negeri ini tapi selalu gagal eksis, walau segala cara telah mereka halalkan. Kini mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dikala Indonesia digempur oleh serangan virus yang bernama Covid-19. Padahal musibah ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia, hingga beberapa negara harus pontang panting menghadapinya, bahkan ada yang nyaris bangkrut karena ekonominya tak berjalan.

Kelompok ini adalah mereka yang sudah terbiasa hidup dari kemewahan yang diperoleh dengan cara-cara yang licik. Kini saat zona nyamannya terganggu, mereka berontak dan terus mengganggu pemerintah apa pun celah yang terlihat oleh mereka. Jadi jangankan mereka mau peduli dengan keadaan sekarang, apalagi hingga mengulurkan tangan untuk membantu mempercepat penanganan Covid-19, yang mereka pikirkan adalah rusuh, dan rebut kekuasaan, lalu bancakan.

Lalu apa itu Anarko yang sejatinya berarti 'Anarkis?' Kelompok yang awalnya dibentuk dari kalangan buruh di Perancis yang juga merupakan paham yang menginginkan serikat buruh menjadi kekuatan potensial untuk menuju kepada revolusi sosial, menggantikan kapitalisme dan negara dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis oleh kelas pekerja. Saat terjadi rusuh di Bandung, mereka yang mengenakan seragam serba hitam. Tapi ada kejanggalan bahwa mereka tidak terlihat mewakili buruh, dan penulis meyakini mereka bukan buruh, tapi kelompok yang dibentuk secara khusus. Huruf "A" yang mereka tinggalkan adalah simbol pergerakannya, seperti halnya di Tangerang.

Kita patut mengapresiasi kinerja Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan semoga Polri, TNI, serta Badan Intelijen Negara, bisa terus berkolaborasi dan menjaga kekompakan, agar kiranya dapat mengawal negeri tercinta ini dari berbagai rongrongan yang datang dari segala penjuru, baik dalam mau pun luar negeri.

Bravo dan semangat Polri..

 

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Sunday, April 12, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: