Rencana Makar di Balik Rusuh 22 Mei

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Mereka meyakini, Jokowi hanya bisa dikalahkan jika suasana rusuh. 

Keyakinan itu tidak tiba-tiba datang begitu KPU mengumumkan Jokowi sebagai pemenang Pilpres. Jauh-jauh hari persiapan kerusuhan sudah dimatangkan. Caranya, menciptakan suasana chaos mirip peristiwa 1998. 

 

Artinya dalam hitungan mereka, Prabowo pasti kalah. Karena itu skenario jahat disusun jauh-jauh hari, untuk menggagalkan kekalahan tersebut. 

Laporan majalah Tempo minggu ini menguak semua detil memgerikan tersebut.

Seminggu sebelum pengumuman KPU, polisi dan TNI berhasil menggulung komplotan jahat yang bermaksud mengorbankan pendemo 21-22 Mei. Sebuah senjata serbu yang diselundupkan dari Aceh, berhasil dibongkar. Pemesannya adalah Soenarko, purnawirawan yang aktif mendukung Prabowo-Sandi.

Sebagai informasi, Soenarko adalah mantan Pangdam Iskandar Muda yang hapal seluk beluk Aceh. Soenarko juga yang membesut Gerindra di Aceh sehingga suaranya signifikan. 

Makanya jangan kaget. Meski Prabowo sebenarnya punya catatan hitam di Aceh ketika jaman operasi militer dulu, suara Prabosan di sana jauh menggungguli Jokowi-Amin. Ini semua hasil dari kerja Soenarko yang juga dipercaya menangani soal 'Pertahanan Keamanan' di partai itu.

Nah, Soenarko memesan senjata dari jaringannya di Aceh yang pernah ditugaskan untuk mengumpulkan senjata eks GAM. 

Senjata itu dilengkapi dengan peredam. Dibawa dari Aceh via pesawat udara dengan memalsukan surat badan intelejen daerah. Menurut informasi Kapolri, senjata tersebut akan digunakan untuk mengorbankan peserta demo. Dengan adanya korban, diharapkan eskalasi kerusuhan akan memuncak. Lalu Jakarta hangus terbakar.

Di pibak lain ada gerombolan ISIS dan JAD yang siap melakukan amaliyah. Targetnya sama, para demonstran yang digiring ke jalanan seperti kambing congek. Mereka dibakar semangatnya untuk melakukan demonstrasi di kantor Bawaslu, lalu dijadikan sasaran empuk dengan ditembak atau dibom. Naudzubillah...

Jenazah orang-orang bodoh yang naas itulah yang akan dijadikan simbol untuk mengobarkan kerusuhan lebih besar. Siapa yang peduli mungkin saja korban itu adalah anakmu. Atau adikmu. Atau saudara dan tetanggamu. Hanya karena kebodohannya mereka digiring untuk disembelih di jalan.

Setelah semua terbongkar, apakah rencana itu melempem? Ternyata tidak. Mungkin karena terlanjur ketahuan, justru mereka jadi makin kalap. Ketika rencananya terbongkar, memang tidak ada jalan berputar untuk kembali. Istilahnya kadung basah, nyemplung sekalian. Satu-satunya cara keluar dari jeratan hukum adalah dengan terus melancarkan aksi sampai kudeta kekuasaan.

Keterangan Hermawan Sulistiyo, bahwa ada 8 korban mati terkena peluruh tajam. Cara mengeksekusinya dengan penembakkan jarak dekat, tepat di belakang telinga. Sekali dor!, lewat!

Telisik punya telisik, senjata yang digunakan untuk menembak dipastikan bukan milik polisi. Menurut Moeldoko, melihat dari cara kerja peluru di tubuh korban, senjata yang digunakan kemungkinan produksi Olympic Arms, produsen asal AS. Asal tahu saja, senjata serbu yang hendak diselundupkan Soenarko berjenis M4 Carbine juga buatan pabrikan yang sama.

Sepertinya orang-orang yang ngotot jadi peserta ontran-ontran di Bawaslu kemarin perlu berterimakasih kepada aparat keamanan yang berhasil membongkar skenario jahat ini. 

Bayangkan jika rencana busuk ini berjalan. Ada penembak kalap yang mensasar korban diantara para demonstran.

Ada para jihadis ISIS yang berniat meledakkan bom. Mungkin saja mereka adalah salah satu orang yang dikorbankan, seperti hewan yang digiring untuk disembelih.

Saya jadi teringat kisah Gus Karim, kyai asal Solo yang mendampingi Jokowi masuk ke gerbang makam Rasulullah saat umroh lalu. Di depan pusara manusia mulia itu, hanya satu doa yang dipanjatkan Jokowi.

Dengan perantara Rasul mulia, lelaki kurus itu hanya meminta keselamatan buat bangsa Indonesia...

Pada malam Ramadhan ini, rasanya kita perlu tersungkur sujud syukur. Bangsa ini dihindari dari kehancuran yang mengerikan. 

Alhamdulillah. Allah masih menyayangi Indonesia.

www.ekokuntadhi.id

Monday, May 27, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: