Rekreasi

ilustrasi

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Apakah rekreasi itu penting? Jelas. Rekreasi tidak identik dengan hura-hura lupa diri. Orang2 usia separuh abad lebih justru perlu jalan2 menikmati hidup. Perlu kumpul teman nyanyi lagu nostalgia. Reuni sambil makan singkong rebus. Atau lomba2 yang menghibur.

Pernah lho saya jalan ke Eropa, aslinya sih seminar tapi sambil jalan2. Maklum dananya cekak. Eh dikomentari teman "kapan ke Mekkah?"

Lho kenapa baru happy2 menghibur jiwa kok ditanya begitu?
Temanku itu baik maksudnya. Tapi kegiatan spiritual itu tidak harus ke Mekkah atau tempat religi. Setiap tempat dan waktu bisa menjadi pengasah spiritualitas. Tergantung kita memaknainya. Ujung2nya gimana jiwa kita tenang, tentram tanpa merusak tubuh atau merugikan makhluk lain. Justru pencarian ketenangan jiwa, kesejatian hidup, itu jangan dibatesi dengan prosedur2 yg ribet. Bebaskan jiwa untuk mencarinya.

Jangan anggap dirimu ke Mekkah itu lebih mulia dibanding para bule yang menikmati indahnya pantai Bali. Bisa jadi output atau outcome dari bule2 itu lebih baik. Para bule jadi cinta lingkungan, semangat bekerjanya naik. Bisa jadi yang pulang dari Mekkah merasa sudah tinggi levelnya, sombong atau malah kehilangan kerendahan hati.
Tentu ada yg makin jadi manusia yg paripurna dlm hal kebijaksanaan, kejujuran, kerendahan hati. Tentu ada.

Jangan sepelekan rekreasi. Jiwa2, tubuh yang mulai tua justru perlu rekreasi. Jangan keburu menjemput ajal. Jauhi ajal dengan menjaga tubuh tetap bugar. Banyak teman2 senior usia menjelang 60an masih ikut maraton lho. Berlari, bersepeda, berjalan, bernyanyi, bersemedi semua bisa menyegarkan jiwa raga.

Sumber : Budi Santosa Purwokartiko

Wednesday, September 2, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: