Rekonsiliasu

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Hari ini hari yang tepat, karena sangat religius untuk mendongeng tentang asu. Meski sesungguhnya hari ini lebih tepat untuk dema-demo. Cuma lantaran para sponsor demo sudah bosan ditipu, karena nggak ada hasilnya, para korlap seolah juga lenyap. Maka marilah mendongeng dengan awalan; Apakah para asu punya agasu?

Bermula dari pertanyaan itu, jawabnya; Perlu! Kenapa? Karena kalau nggak perlu, buat apa dongeng ini ditulis? Buat baju? Itu butuh kain, bukan dongeng! Maka yakinilah, agasu perlu untuk mendapatkan pengesahan, legitimasi moral, bahwa mereka berhak hidup. 

 

Hatta, bisa jadi, para asu ini mungkin mendengar cerita Bharatayudha. Ketika Yudhistira mangkat ke sorga, dalam titian serambut dibelah tujuh, di mana langkahnya diikuti seekor asu. Bathara Indra mencegatnya, “Engkau boleh meneruskan langkah, masuk ke sorgaloka yang dijanjikan. Tetapi asu itu harus berhenti sampai di sini,...”

Yudhistira, yang bukan saudara kembar Noorca Marendra Massardi, ngambeg. Jika asu itu tak boleh mengikuti masuk sorga, ia tak mau pula melanjutkan langkah. Mendingan balik kanan. Dan kemudian seperti tertulis dalam Serat Centhini, ia manekung di sebuah hutan. 

Hingga tubuhnya berurat-akar, sebagaimana pohon yang teguh. Kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga muncul. Membukakan kotak pandora, dan cara membaca Jimat Kalimasada, yang bisa mengeluarkan Yudhistira dari kutukan.

Demikian prawacana. Kembali ke perihal kegelisahan para asu. Bisa jadi permasalahannya dipicu seekor asu yang salah posisi. Asu itu akhirnya dibantai, sehabis menginjakkan kaki di atas karpet made in China.

Para asu lainnya tunggang langgang. Meski beberapa ada yang ketangkep dan masuk bui. Ada yang kena tudingan hendak makar, tapi ada pula yang terbirit-birit kabur karena tudingan chatting sex. Tapi, ada juga asu yang operasi ember, biar bibirnya sexy. Para asu bilang mereka tidak melanggar HAM. Hak Azasi Makar! Apalagi makar tongseng. Tongseng asu.

Setelah mengadakan pertemuan para asu, dari pertemuan satu dan dua, maka ditetapkanlah seekor asu herder dan asu cemani untuk menjadi pemimpin dan wakil pemimpin para asu. Sayangnya, asu herder dan cemani ini, keduanya tak punya bobot, kecuali bergaya mabok kayak pendekar Kapak Naga Geni 212. 

Maka agasu menjadi penting kehadirannya. Hanya dengan itulah, eksistensi para asu akan amat sangat kuat sekali. Agasu adalah sesuatu yang dogmatis, dan tak terbantahkan. Siapa berani melawan? Dengan agasu, maka mereka akan leluasa melakukan intervensu. Agar jika tak bisa rekonsiliasu, namun tetap bisa berkolaborasu, atau syukur dijadikan mitra koalisu. Terus berimajinasu, makan sengsu!

Dalam cerpen ‘Mereka Bilang Saya Asu’, penulis Cetar Maesa Asu bilang: “Imajinasu cenderung bebas tanpa moral dan konvensi masyarakat, bagaikan asu "menggonggong" dan "menggigit" realitas yang munafik.” 

Tamsu. Tammat Su!

 

(Sumber: Sunardian Wirodono)

Sunday, July 14, 2019 - 23:15
Kategori Rubrik: