Rekonsiliasi, Perlukah?

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Rekonsiliasi didefinisikan sebagai perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula

Rekonsiliasi tentu saja sangat penting, kita tidak ingin negeri ini jauh terperosok ke dalam konflik yang muasalnya sesuatu yang tidak jelas, hanya modal kebencian dan diamplifikasi oleh semburan hoaks.

Namun tentu, definisi rekonsiliasi tidak boleh dibuat sepihak, apalagi kalau melanggar prinsip penegakan hukum, ada rambu yang harus amat jelas sebelumnya. Dan tentu saja, rekonsiliasi jangan dimaknai dengan bagi-bagi kursi, itu ibarat elitnya rekonsiliasi, tapi tidak dengan rakyatnya.

Prinsip rekonsiliasi tentu harus bermula dari hati yang jernih, keinginan baik, bukan atas hawa nafsu kekuasaan. Selama masih ada niat balas dendam, tentu tak mungkin rekonsiliasi itu terjadi.

Rekonsiliasi mungkin bukan untuk semuanya, karena sangat sulit untuk mengajak rekon para bigot (kaum hitam putih, merasa kelompoknya selalu benar, diluarnya pasti salah) yang selama ini justru mendulang popularitas dari polarisasi yang terbentuk. Rekonsiliasi adalah bagi mereka yang mengutamakan akal sehat, kejujuran, dan mereka ini sebenarnya mayoritas di negeri ini.

Yang mendambakan tumbuh kembangnya negeri tanpa harus disertai drama yang tidak perlu. Mereka yang yakin bahwa cinta itu lebih paripurna daripada membangun solidaritas semu diatas hasutan dan kebencian.

Bagaimana memulainya?

Tentu harus dimulai dari hati, untuk siap merangkul saudara sebangsa yang berbeda pandangan, selama perbedaan itu masih dalam ranah yang bisa ditoleransi. Hati juga harus terbuka untuk memaafkan kesalahan saudaranya, yang sempat terjebak fanatisme berlebihan, sehingga pernah menjadi agen penyebaran kabar dusta.

Mereka yang sempat tersesat karena termakan virus dusta, adalah saudara yang butuh untuk disembuhkan, bukan untuk dipasung dan diasingkan.

Maka menjadi pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur:

Jika orang-orang yang pernah menjadi lawan politik kita, sempat menggelisahkan kita dengan sebaran berita bohongnya, kemudian sekarang dia insyaf, ia berubah menjadi lebih baik, sadar bahwa kebenaran tak mungkin dibangun diatas hoaks dan fitnah.

Apakah kita akan senang? Ataukah kita lebih senang, kita tetap punya "musuh" yang seperti itu, supaya kita bisa selalu merasa lebih baik?

Silakan dijawab dalam hati. Dengan jujur.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Friday, July 5, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: