Regenerasi Pemimpin

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Memilih pemimpin tidak harus dari kalangan tertentu. Tidak harus dari Militer, Pengusaha apalagi dari keluarga mantan penguasa. Bukan juga berdasarkan agama tertentu atau ras/suku tertentu. Bukan jaminan bahwa kelompok tersebut, akan menjadi pemimpin yg baik. Apalagi jika terdapat catatan hitam pada tokoh2 tersebut. Baca dan pelajari jejak perjalanannya, integritasnya dan hasil kerjanya.

Jokowi terpilih sebagai Presiden adalah karena track recordnya. Beliau sudah membuktikan di Solo. Dan itu diakui warga dan banyak kalangan. Bukti nyata kecintaan dan kebanggaan warga Solo terhadap Jokowi dibuktikan dengan kemenangan Jokowi dalam Pilkada Solo yang mencapai angka 90%. Pencapain yang menjadi rekor tersendiri dalam parade pilkada di seluruh Indonesia.

Begitu juga dengan Basuki Tjahaya Purnama. Beliau layak menjadi pemimpin. Beliau sudah membuktikan saat menjadi bupati di Belitung. Kinerja Basuki mulai dikenal publik sejak masuk dalam 10 tokoh yang berhasil mengubah Indonesia dalam edisi tahunan Tempo 2006. Di tahun 2007 ia dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia.

Prabowo Subianto belum pernah memimpin masyarakat sipil. Sebagai seorang militer, karier beliau memang sangat mengagumkan. Tapi harus dilihat juga bagaimana karier itu diraih. Selain itu, ada catatan2 yg masih mengganjal seperti kasus penculikan, tragedi 1998 serta beberapa operasi militer yg terkait namanya.

Apakah Gatot Nurmantyo atau Tito Karnavian layak jadi pemimpin nasional?
Sangat layak, dengan catatan, tokoh2 seperti GN dan Tito bisa melepas secara menyeluruh atribut militernya. Meski polisi bukan bagian dari militer, namun sifat kemililiteran masih menempel di tubuh Polri. Namun baiknya tokoh militer tampil setelah generasi sipil sudah berhasil menata civilian society secara menyeluruh. Dalam arti kekuatan politik sipil tidak lagi bergantung dan menjadikan kekuatan militer sebagai dukungan politik untuk meraih kekuasaan.

Jadi bukan "Jokowinya", "Ahoknya", "Prabowonya", "Gatotnya" atau "Titonya" yg dipilih, tapi bagaimana rekam jejak dan hasil kerja seorang tokoh bisa diusung untuk menjadi pemimpin nasional. Dan itu harus berkesinambungan. Jangan mengkultuskan dan berhenti pada sebuah nama. Toh ada saatnya, tokoh2 tersebut harus lengser dari jabatannya. Tinggal kita mempersiapkan tokoh baru yg layak sebagai penerus. Tongkat estafet harus diberikan ke orang2 baik yg memiliki kelayakan sebagai pemimpin.

Jangan sampai tongkat kepemimpinan dikuasai oleh satu kelompok saja atau jangan sampai tongkat kepemimpinan itu beralih ketangan yang salah. Tangan yg akan merubah arti kepemimpinan menjadi penguasa absolut tanpa batas.

Ya, estafet kepemimpinan. Jangan terpaku dengan satu kelompok atau satu nama. Harus ada regenerasi. Banyak tokoh muda di Indonesia yg layak menjadi pemimpin berikutnya. Regenerasi kepemimpinan harus bisa dimulai.

Generasi muda harus bangkit namun, jangan lupakan generasi sebelumnya. Mau belajar dari generasi pendahulu. Dan generasi tua, harus tau diri bahwa pesta akan ada akhirnya.

-TYVa-

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Sunday, October 22, 2017 - 21:30
Kategori Rubrik: