Rebutan Masjid

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Hampir di semua masjid yang saya sering diundang ngisi kajian disitu, selalu ada stori kisah rebut-rebutan masjid. Baik di level yayasan, atau pun DKM, bahkan di level marbot dan tukang jagain sendal.

Kadang pergantian rezim itu dilatar-belakangi perbedaan 'manhaj' antara garis keras dan garis lunak, atau antara garis bengkok dan garis lempang.

Namun bisa juga tanpa adanya perbedaan ideologis, dalam arti sebenarnya masih sama-sama satu kubu, tapi terjadi persaingan antara individu di dalamnya.

Kenapa saya tahu? Ya, karena saya sering dijadikan sasaran curhat dari masing-masing kubu yang bertikai. Dan jawaban saya standar saja, kita kudu sabar dan mengalah saja. Jangan berlebihan jangan ngotot. Yang waras ngalah bla bla bla.

Bukan apa-apa, nggak enak juga rasanya tiap hari dicurhatin kayak gitu tiap hari oleh pengurus dari masing-masing kubu. Kok berita yang saya terima timpang semua. Sana ngadu bahwa sini begini. Sini ngadu bahwa sana begitu.

Lah, macam punya dua bini aja nih. Tiap hari perang, tiap hari ribut. Tapi lucunya, kedua kubu sama-sama mengundang saya dalam acara masing-masing.

Lama-lama saya dituduh jadi kutu loncat. Sana nuduh saya kesini dan sini nuduh saya kesana. Ternyata cuma mau baik sama setiap orang itu ribet juga ya.

Lama-lama berhenti ngajar di masjid itu. Ntar aja, kalau suasana sudah damai baru saya balik. Hehe

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Thursday, June 20, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: