Realitas Kejadian Kosmik: Perbandingan Temuan Sains dan Pandangan Leluhur Jawa

 

Oleh: P. B. Susetyo dan S.H. Dewantoro

Khazanah sains modern mengungkapkan keberadaan dark energy, dark matter, dan ordinary matter.  Segala yang ada, yang dapat dilihat, disentuh atau dirasakan secara fisik, dinyatakan sebagai ordinary matter.  Itulah materi biasa, yang menempati ruang dan waktu tertentu.  Keberadaan ordinary matter dalam semesta yang diketahui (known unverse), hanya sekitar 4,5 %.  Sementara sisanya, 95,5 % adalah gabungan antara dark energy dan dark matter.

Para peneliti menyimpulkan keberadaan dark energy dan dark matter, berdasarkan pengamatan terhadap semesta.  Mereka menemukan bahwa massa keseluruhan dari obyek semesta tertentu – seperti galaksi, ternyata lebih berat dari penjumlahan keseluruhan unsur pembentuknya.  Dari situ, disimpulkan keberadaan dark matter sebagai realitas yang memiliki massa tapi tak terlihat.

Lebih jelasnya, dark matter atau materi gelap, dinyatakan oleh para saintis sebagai materi yang tidak dapat dideteksi dari radiasi yang dipancarkan atau dari penyerapan radiasi yang datang ke materi tersebut.  Tapi keberadaannya dapat dibuktikan dari adanya efek gravitasi pada berbagai materi yang tampak, seperti bintang dan galaksi.  Terminologi ini pertama kali diungkapkan astronom Swiss Fritz Zwicky pada tahun 1930.  Keberadaan dark matter ini diketahui bermula ketika ditemukan bahwa massa sebuah galaksi, lebih berat 5 kali lipat dibandingkan penjumlahan total masa setiap unsur penyusunnya seperti bintang-bintang, planet-planet hingga asteroid.  Selisih massa ini yang menimbulkan pertanyaan, ada apakah gerakan di luar keberadaan benda-benda yang terlihat, yang dalam terminologi sains dinamakan sebagai Baryonic Matter.

Sementara itu, dark energy dinyatakan sebagai faktor yang bertanggung jawab terhadap ekspansi semesta.  Terminologi dark energy dipergunakan untuk menunjukkan bahwa realitas energi ini memang tidak bercahaya, dan bersumber dari kegelapan juga.

Badan Antariksa Amerika Serikat yang disebut NASA, memberi penjelasan dark energy merupakan perangkat semesta yang mempengaruhi perkembangan jagad raya ini.  Satu penjelasan yang logis dari dark energy, adalah a property of space, perangkat angkasa.  Albert Einstein mengungkapkan bahwa angkasa yang kosong sesungguhnya bukan berarti tidak ada apa-apanya.  Angkasa memiliki property atau perangkat yang dinamakan sebagai dark energy, yang bertanggung jawab atas perkembangan yang terjadi pada angkasa, juga terbentuknya berbagai gatra atau bentuk atau keberadaan di angkasa. 

Penjelasan lain, dark energy ini adalah energi dinamis yang mengalir dan mengisi sekaligus memenuhi seluruh keberadaan angkasa, dan berpengaruh terhadap ekspansi angkasa, yang berbeda dengan energi normal.  Secara terbuka, para ilmuwan menyatakan bahwa dark energy ini masih merupakan misteri, belum sepenuhnya terungkap. 

Relasi Tiga Keberadaan

Lalu, apakah para peneliti telah mengungkapkan, apa sebenarnya hubungan antara dark energy, dark matter, dan ordinary matter

Rupanya sains belum menemukan penjelasan yang pasti mengenai hubungan ketiganya.  Hasil kajian para saintis baru sebatas mengungkapkan, bahwa dark energy dan dark matter bekerja dalam gaya yang berlawanan.

Sementara dark energy bertanggung jawab terhadap ekspansi semesta termasuk keberadaan berbagai materi baru, dark matter dinyatakan bekerja menahan keberadaan ordinary matter untuk tetap berada pada orbitnya.  Atau dalam bahasa lain, dark matter yang membuat antar ordinary matter selalu berada dalam jarak yang sama.  Dengan demikian, sebuah struktur tertentu tetap stabil. 

Sebagai contoh, galaksi yang sejak dahulu hingga sekarang tetap seperti itu.  Padahal, dari inti galaksi, memancar dark energy yang mendorong ekspansi galaksi tersebut.  Demikian pula, sebuah planet yang pada dasarnya adalah kumpulan dari berbagai unsur pembentuk, tetap berbentuk sebuah planet, tidak terus menerus membesar atau berekspansi. Padahal dari inti planet, memancar energi pendorong ekspansi. Ada sesuatu yang mengeluarkan daya guna mengikat semua unsur itu. Itulah dark matter yang memiliki daya penarik atau daya gravitasi.

Dari penjelasan di atas, terkesan ada karakter berkebalikan antara dark energy dan dark matter.  Para peneliti belum berani menjelaskan hubungan antara dark energy dan dark matter secara lebih jauh.

Temuan Leluhur Jawa

Leluhur Jawa yang intensif bermeditasi di masa silam, bisa mengerti ada daya yang bersumber dari kegelapan tanpa batas. Daya itu terus bekerja, menimbulkan getar, memunculkan bunyi dengung, dan lewat proses itu, terjadilah segala sesuatunya.

Lebih jelasnya begini. Sebelum ada apapun di jagad raya ini, yang ada hanyalah kegelapan total.  Kegelapan inilah yang bisa dimengerti sebagai gua garba, rahim, atau kandungan kosmik: darinya muncullah seluruh keberadaan dengan segenap gatranya.

Dari kegelapan total, memancar energi dengan pola fibonacci.[1]  Pancaran energi itu memunculkan getar.  Getaran itu berbunyi gemerenggeng, berdengung, itulah Hong. Dari situ, orang Jawa jaman dulu menyatakan kemunculan ndog amun-amun.  Dinyatakan sebagai ndog amun-amun karena ia laksana telur imajiner yang menjadi permulaan keberadaan segala yang ada.    Jadi, ndog amun-amun adalah causa prima dari keberadaan yang bisa dilihat, yang menempati ruang dan waktu.  Nah, maka bisa dinyatakan, ndog amun-amun ini merupakan pengejawantahan dari energi atau daya yang bersumber pada Realitas Absolut, dan dari ndog amun-amun inilah kemudian menggatra segala yang ada.  Pertanyaannya, apakah ndog amun-amun yang dimengerti oleh para pelaku mangening ini sama dengan dark matter?

Jika ndog amun-amun ini identik dengan dark matter, maka kita bisa simpulkan bahwa ia ternyata memiliki dua fungsi: di satu sisi dark matter yang menjadi permulaan keberadaan dari ordinary matter, dan di sisi lain, dark matter pulalah yang membuat ordinary matter tetap berada pada orbitnya, juga membuat sebuah struktur kompleks yang tersusun dari berbagai ordinary matter, tetap berada dalam struktur itu, tidak mengalami ekspansi terus menerus.

 


[1] Fibonacci adalah sistem perhitungan, yang muncul dalam berbagai peristiwa semesta, mulai dari pengaturan struktur dedaunan, pola kelopak bunga, struktur cangkang kerang, struktur nanas, dan seterusnya.  Sistem perhitungan ini ditemukan Leonardo Pisano, matematikawan Italia yang hidup pada 1175-1250 M. 

 

Wednesday, December 30, 2015 - 11:45
Kategori Rubrik: