Razia dan Tujuh Kelompok Tak Berpuasa di Negeri Pluralis

Oleh : Ninoy N Karundeng

Negara melakukan razia warteg dan rumah makan di Indonesia terjadi seperti di Serang. Tujuan Satpol PP dan para pendukung razia adalah untuk menghormati para pemuasa, orang yang berpuasa. Satpol PP membantu memberikan suasana sejuk agar tak terjadi godaan setan berupa godaan untuk tidak puasa bagi yang menjalankannya, para pemuasa. Sementara kenyataannya ada sebagian orang baik Muslim maupun non-Muslim yang tidak menjalankan puasa Ramadan. Terdapat tujuh kelompok orang tidak berpuasa di negeri pluralis.

Mari kita telaah pandangan baru dan sikap berbaik sangka, husnudzon, tentang puasa di negeri pluralis seperti Indonesia, bukan Arab atau Afghanistan dengan hati gembira ria riang senang bahagia menari menyanyi jingkrak-jingkrat memiliki pandangan baru untuk kebaikan diri agar puasa Ramadan tetap berjalan lancar selama sebulan penuh senantiasa.

Negara dengan kepanjangan tangan bernama Satpol PP, dengan senjata peraturan bernama Perda Serang melakukan serangan terhadap pemilik warteg, pengais rezeki independen, yang menyediakan makanan untuk orang yang tidak berpuasa dengan berbagai alasan (1) lagi menstruasi, (2) musafir, (3) anak belum baligh, (4) orang sakit, jompo, (5) tidak kuat berpuasa karena alasan tertentu, (6) bukan orang Muslim, dan (7) orang Islam tetapi memang tidak menjalankan ibadah puasa.

Fakta bahwa warteg masih buka di siang hari dan memberi makan pelanggan, dengan dasar husnudzon, disebabkan masih ada pelanggan yang membutuhkan warteg; masih ada kelompok manusia yang karena alasan tertentu tidak bisa, tidak mau, tidak berkewajiban, untuk berpuasa. Dan, soal puasa adalah kewajiban langsung, ibadah langsung antara pemuasa dan Allah SWT.

Negara dengan organ aparat Satpol PP melakukan tindakan melindungi dan menjaga para pelaku puasa seperti anak bayi agar perjalanan puasa lancar, aman, tentram, tanpa godaan melihat orang makan makanan, minum minuman. Para pemuasa disterilkan oleh Negara dengan kaki tangan Satpol PP untuk tidak melihat aktivitas makan di warung – siapapun yang makan tidak diizinkan di bulan suci Ramadan.

Negara dengan kaki tangan Satpol PP Serang menganggap para pemakan makanan adalah ancaman bagi keberhasilan dalam perjuangan untuk berpuasa sebagai ibadah yang sangat penting. Para tujuh kelompok pemakan makanan di warteg adalah orang yang harus menyingkir dan memberikan kehormatan kepada para pemuasa yang tengah menjalankan perintah dari Allah SWT.

Berpuasa adalah test case keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Begitu pentingnya puasa sehingga puasa disebut sebagai ibadah yang diperuntukkan kepada Allah SWT. Maka karena nilai pentingnya itu godaan dari syaiton, setan, iblis kepada para pemuasa menjadi lebih besar. Perang terbesar adalah menahan godaan hawa nafsu – dengan catatan iblis, setan, syaiton, dan manusia serta jin melakukan godaan melebihi taktik, siasat, dan strategi lebih canggih, lebih sophisticated, demi menggagalkan puasa manusia.

Untuk itu, iblis, jin dan syaiton bisa menjelma dan menggunakan siapa pun dan merasuki siapa pun untuk menggoda para pemuasa Ramadan. Maka iblis, setan dan jin masuk ke dalam diri para manusia untuk menggoda para pemuasa Ramadan. Mereka bisa masuk ke dalam diri Satpol PP yang beringas – dengan mengatasnamakan untuk menghormati pemuasa Ramadan dan menjalankan perintah Negara berupa Perda sweeping dan razia tempat makan, warung, dsb.

Padahal, sesungguhnya puasa adalah alat untuk mengendalikan diri dari godaan – bukan membebaskan diri dari dan menghilangkan semua potensi godaan baik dari setan, manusia, dan jin. Keimanana dan ketaqwaan dipertaruhkan dalam pengendalian diri agar tidak beringas terhadap orang yang sedang makan di warteg atau di rumah. Kemungkinan yang tengah makan bukan pemuasa Ramadan, maka mereka makan di warteg – dengan konsekuensi pemilik warteg membuka warung agar bisa melayani kelompok tidak berpuasa – disebabkan oleh 7 kelompok tak berpuasa.

Dalam masyarakat pluralis, majemuk, sesungguhnya godaan setan, jin, iblis, dan manusia akan menambah kekuatan test case keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan membiarkan setan, iblis, jin, syaiton dan manusia mengganggu kekhusukan, ketenangan, kehidmatan, tanpa gangguan, pemanjaan diri pemuasa, maka nilai puasa menjadi lebih tinggi dan indah.

Di sisi lain, para non pemuasa pun jangan mentang-mentang tahu bahwa puasa menimbulkan godaan, dan salah satunya adalah para warung, orang tak berpuasa alasan khusus, mereka harus melakukan penahanan diri, menahan diri dari pamer tak berpuasa yang bisa memicu iblis, setan, jin masuk menggoda baik pemuasa maupun non pemuasa.

Artinya, para pemuasa mampu (1) melawan godaan dari syaiton, setan, iblis, jin, dan godaan manusia yang membuat puasa menjadi lebih berat, (2) menjalankan puasa yang disebut sangat special oleh Allah SWT, (3) mampu membuktikan tingkat keimanan dan ketaqwaan tidak terpengaruh oleh aktivitas tak kondusif seperti bukanya warteg penyedia makan bagi para pemuasa, (4) memiliki pandangan inklusif terkait orang yang tak berpuasa termasuk 7 kelompok, dan (5) memberikan toleransi dan konsentrasi beribadah ikhlas tidak terlalu memikirkan pra-syarat di luar kemampuan para pemuasa untuk menghilangkannya, seperti adanya 7 kelompok orang tak berpuasa.

 Dengan demikian, maka sebenarnya Negara tidak perlu melakukan razia terhadap warteg, orang tak berpuasa, karena meraka adalah koeksistensi antara pemuasa dan para orang tak berpuasa karena kondisi tertentu. Dengan kelapangan dan niatan husnudzon, maka insya Allah puasa yang dijalankan oleh pemuasa mendapatkan keridhoan dan sesuai dengan canangan dari Allah SWT.

Untuk itu tak perlulah melapangkan dan memanjakan para pemuasa dengan merazia dan merampas dagangan pemilik warteg, secara memalukan Negara merazia warteg – pun para non pemuasa juga harus menutup tempat makannya dan tidak show off alias pamer tak berpuasa. Itulah cara menjalani bulan suci Ramadhan baik para pemuasa maupun non pemuasa dalam kerangka kemajemukan dan pluralis saling menghargai – yang tak perlu dihargai itu koruptor. Salam bahagia ala saya.** (ak)

Sumber: kompasiana.com

 

Monday, June 13, 2016 - 05:00
Kategori Rubrik: