Raynhard Sunaga, LGBT dan Agama

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Saya perhatikan kasus “perkosaan homo” berantai yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga yang menggemparkan publik Inggris dan Indonesia khususnya itu menjadi semacam “bola liar” yang dimanfaatkan oleh sekelompok umat Islam di Indonesia untuk menyerang umat Kristen. 

Memang sudah menjadi tabiat dan kebiasaan sebagian umat Islam di Indonesia yang melihat sebuah fenomena dan tragedi tertentu yang terjadi di Indonesia maupun di negara lain dari sudut pandang identitas keagamaan (atau etnis). 

 

Hal ini juga terjadi pada kasus Sinaga. Sebagian kaum Muslim Indonesia melihat kasus Sinaga ini sebagai “kesempatan emas” untuk menyerang umat Kristen yang mereka anggap sebagai “advokat” dan “produser” kaum homo (atau LGBTQ). 

Bukan hanya itu saja, sebagian dari mereka – termasuk para elit dan “ngustadnya” – bahkan menuduh homoseksualitas terkait dengan kebiasaan makan daging babi. Tentu saja yang dimaksud mereka disini adalah karena umat Kristen menghalalkan makan daging babi, maka tak heran jika mereka melahirkan “generasi homo” seperti Sinaga itu. 

***

Pernyataan atau pendapat ini jelas ngawur, “asplak” (asal njeplak), dan tidak berdasar sama sekali karena: pertama, sebagaimana Islam, doktrin Kristen juga mengharamkan praktik homoseksual. Itulah sebabnya kenapa banyak umat Kristen dan Gereja dimanapun di dunia ini yang mengecam dan mengutuk kaum homo. Mereka menganggap kaum homo sebagai “menyalahi kodrat” dan melanggar ajaran normatif Kristen. 

Sebagaimana umat Islam, umat Kristen dan gereja konservatif juga mengutuk keras praktik homoseksual. Ingat broh: teks tentang Nabi Lut dan kaumnya itu bukan hanya “diritualkan” dalam ajaran Islam tetapi juga dalam tradisi Kristen dan Yahudi. Islam kan cuma meniru mereka saja. 

Kedua, tidak semua umat Kristen itu mengonsumsi daging babi. Dan ketiga, kaum homo bukan hanya ada di kalangan umat non-Muslim saja, baik Kristen maupun bukan, tetapi juga menimpa umat Islam. Kaum Muslim itu juga ada yang homo, dan sebagian dari mereka membentuk organisasi, jaringan, atau kelompok sosial diantara mereka. Di Asia Selatan, ada kelompok yang bernama “Hijra” atau transgender yang populasinya dari berbagai agama. Demikian pula di Indonesia, ada kelompok Muslim homo. 

Di Amerika, ada sebuah kelompok “LGBTQ Muslim” yang menamakan diri sebagai “Al-Fatihah” seperti foto di bawah ini yang memiliki cabang, anggota, dan jaringan di berbagai negara. Kelompok atau grup Muslim homo ini didirikan pada tahun 1997 oleh Faisal Alam, seorang Muslim Pakistan-Amerika.

Tujuan utama pendirian kelompok ini adalah sebagai wadah atau medium komunikasi sekaligus untuk memperjuangkan hak-hak azasi kaum homo, Muslim khususnya, sebagai umat manusia dan umat agama yang sering didiskriminasi oleh sebagian masyarakat dan umat agama. 

Salah satu tokoh penting Al-Fatihah bernama Daayiee Abdullah (lahir 1954) yang dikenal sebagai “imam gay” di Amerika. Ia membuat sebuah masjid di Washington, DC, (bernama Masjid Nur al-Falah) yang ramah dan “friendly” terhadap kaum LGBTQ. Selain di Al-Fatihah, Imam Daayiee juga aktif di sejumlah lembaga atau ormas lain seperti Muslims for Progressive Values (sebagai Direktur LGBT Outreach), Mecca Institute (sebagai direktur eksekutif), dan Skeiv Verden (“Gay World”), sebuah kelompok homo di Norwegia. 

Daayiee tidak sendirian. Ada beberapa “imam gay” di dunia ini seperti Muhsin Hendricks di Afrika Selatan, Ludovic-Mohamed Zahid (Perancis), Nur Warsame (Australia), El-Farouk Khaki (Kanada), dlsb. 

Sejak beberapa tahun silam, Al-Fatihah memang secara resmi sudah tidak beroperasi karena para anggotanya diancam dan diteror oleh sebagian kelompok masyarakat. Tetapi aktivitas para anggotanya tetap berjalan. Meskipun diancam, diteror, dan difatwa murtad (oleh ormas al-Muhajirun di Inggris yang berafiliasi ke Hizbut Tahrir), mereka tetap menjalankan aktivitas biasa. 

Mereka berpandangan kuat bahwa menjadi LGBT adalah bagian dari “kodrat Ilahi” bukan menabrak kodrat Ilahi. Mereka juga berkeyakinan kalau Tuhan tidak membeda-bedakan dan pilih kasih terhadap umat dan ciptaan-Nya. LGBT bukan “produk Kristen dan daging babi” tetapi bagian dari kemajemukan umat manusia. 

Tentu saja, saya turut mengecam dan mengutuk kasus kriminal perkosaan berantai yang dilakukan oleh siapapun baik oleh Sinaga, Siular, Sipiton, Sianakkonda dan lainnya. Anda juga boleh mengecamnya. Tapi tak perlu membawa-bawa agama, apalagi babi segala, karena susah dan repot membawanya.

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Saturday, January 11, 2020 - 05:00
Kategori Rubrik: