Raungan Itu

ilustrasi
Oleh : Bambang
 
Saya sedang menonton di salah satu media Tv Ketika Kapolres Jakarta pusat Kombes Harry Kurniawan berteriak :
"Jangan lakukan itu teman, kami bertahan pak ustaz, jangan disusupi orang-orang yang tak ingin aksi damai ini. Pak ustaz bantu kami, korlap bantu kami, jangaaan...jangan lakukan itu!"
"pak ustadz bantu kami! TNI/Polri bagian dari masyarakat juga." 
 
Seperti terlempar kelubang tak berdasar, Hati rasanya mencelos...Segenting itukah? Bukankah beliau ketua satgas pengamanan  yang dalam demo sehari sebelumnya telah membuat saya kagum. Kagum pada kesabarannya, pada cara berkomunikasinya, kagum pada ketegasannya. 
 
Mendengar raungan itu Saya langsung mengambil motor saya untuk menjemput anak bungsu saya yang bekerja didaerah kuningan, sekalian juga melihat situasinya. 
 
Saat itu pukul 19:40, saya mengambil jalan lewat kemanggisan raya dimana disana saya dipaksa berputar melewati jalan yang saya tak hafal namanya untuk menghindari blokade di layang Slipi dan bisa mengarah ke jl Tomang raya lewat kantor golkar. Disepanjang perjalanan banyak hal yang mentakjubkan saya. Dalam situasi tegang seperti ini, ada sekelompok orang berkerumun didepan warteg, saya memperlambat kendaraan saya lihat dan saya dengar adalah gurauan2, karena mereka ternyata sedang bermain karambol. 
 
Bermain Karambol? Sementara hanya beberapa ratus meter dari titik tempat mereka berkumpul, hiruk pikuk letusan senjata gas airmata dan petasan dan teriakan bersaut-sautan seperti Saut situmorang dan Saut lumban gaol kalau lagi berdebat.  Ini seperti air sejuk yang mengguyur dari langit. Melegakan, menenangkan...ternyata Jakarta atau banyak masyarakat sekitar tak terlalu berlebihan menanggapi situasi kotanya. Mereka tak terlalu panik. Tak seperti saya. 
Saya melanjutkan perjalanan lewat Tomang raya, lapangan banteng, gambir, tugu tani, Kh agus salim lalu mengarah ke kuningan...Alhamdulillah lancar. Disepanjang perjalanan saya melihat banyak orang2 yang nampaknya mengarah menjauhi pusat demo di Bawaslu, kebanyakan bergerombol 5-10 orang. Situasi mulai kondusif pikir saya. Saya tambah tenang. 
 
Saya tiba di kantor dimana anak saya bekerja, menjemputnya, berjalan beriringan sambil bercerita, menghampiri pendemo di jl Sabang yang sedang menutup jalan, lalu duduk sebentar di trotoar jalan kebon sirih untuk ngopi. kebetulan disana ada penjual kopi keliling yang menggunakan sepeda dan ngobrol dg si bungsu. Itu moment terbaik saya, moment terindah saya dan anak saya selama kami menjadi keluarga.
 
Kembali keraungan pak Kapolres Harry kurniawan.  Setelah melewati banyak peristiwa di jalan yang saya lalui, saya sadar. Ternyata Itu bukan raungan ketakutan! Ketakutan kalau dirinya dan pasukannya tak lagi punya jalan keluar. Itu raungan kecemasan! Cemas kalau ia dipaksa untuk mengambil langkah protap terakhir. Hari ini, Presiden telah mengumumkan untuk menindak tegas para perusuh. Atasannya Kapolri dan Panglima TNI telah 'membisikinya' kalau demo ini akan mengarah kesatu titik yang boleh jadi lebih berat. Jika hari ini situasinya lebih menekan dibanding hari kemarin maka ia khawatir...benar2 khawatir...
Ia...terlihat dari gestur, dari getar suara, dari kesabarannya sungguh tak ingin ada korban jiwa yang jatuh. Apalagi sia-sia. 
 
Saya pikir ia type Singa yang menyembunyikan kukunya.
 
Ada banyak nama besar lain yang berjasa menenangkan hati masyarakat Ibu kota saat itu Seperti Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono dan lain2nya. Tapi karena pak Harry kurniawan sebagai garda terdepan yang banyak diliput media, maka saya menuliskan hal ihwal tentangnya.
 
Ah...Indonesia tak kekurangan stock pemimpin yang baik ternyata...
 
Sumber : Status Facebook Bambang
Friday, May 24, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: