Ratna Sarumpaet Dan Perlawanan Pada Gaya Komunis

ilustrasi

Oleh : Sutranto Al Bakiyi

Kamis, 28 Februari 2019 merupakan sidang pertama Ratna Sarumpaet atas kasus penipuan dugaan penganiayaan dirinya yang ternyata menjalani operasi plastik. Kelakuan Ratna sungguh luar biasa kurang ajar dan mayoritas melibatkan kelompok pendukung Prabowo. Tak kurang, Capres mereka disertai jajaran pimpinan parpol menggelar konferensi pers atas dugaan penganiayaan tersebut. Amien Rais, Fachri Hamzah, Fadli Zon, Dahnil Anzar dan lainnya turut mengutuk dugaan penganiayaan itu.

Saat ramai dugaan penganiayaan itu, salah satu dokter yakni Tompi sebetulnya sudah menjelaskan bantahan adanya penganiayaan. Namun nampaknya bagi kubu sebelah ini bisa jadi bahan yang lumayan strategis.

Anehnya sang Capres yang bekas militer tidak bisa membedakan antara wajah orang dipukuli atau operasi plastik. Ditambah anak Amien Rais, Dokter Hanum yang memastikan bahwa luka itu akibat penganiayaan. Bagaimana bisa dokter (meski dia dokter gigi) tidak bisa membedakan mana penganiayaan dan mana operasi plastik. Bukankah ketika Hanum menemui Ratna bisa dipastikan apakah luka-luka itu muncul karena penganiayaan?

Pun sebagai orang awam, kita bisa meminta kronologi kejadian. Masak orang sekelas Ratna Sarumpaet dianiaya hanya diam saja? Belum lagi kejadian ada di kota besar sehingga mudah berteriak atau meminta bantuan. Lagi-lagi pengakuan Ratna yang dipercaya kubu Prabowo pantas diragukan kebenarannya. Tidakkah ada satu dua orang dari mereka yang meragukan kebenaran informasi itu? Bahkan selang sehari foto Ratna berada di ruang operasi sudah beredar luas. Mereka semua menafikkan kenyataan itu.

Maka dari itu, pembongkaran kebohongan Ratna ini adalah upaya melawan gaya komunisme. Komunisme menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Jelas sekali blow up dugaan penganiayaan Ratna berada pada ranah kepentingan politik. Dan Ratna harus mau terbuka, siapa yang berani menyuruh dia melakukan kebohongan publik yang luar biasa ini. Gaya komunisme pada kasus Ratna didasarkan pada hilangnya kewaspadaan, kehati-hatian atau mempertanyakan urutan kejadian termasuk tidak segera melapor ke pihak kepolisian.

Kasus model Ratna ini sebetulnya bukan hal baru, bukan model yang belum ada, bukan cara yang sesuai ajaran agama maupun budaya kita. Ya komunisme tidak tumbuh di Indonesia karena memang tidak sesuai dengan budaya maupun bertentangan dengan agama-agama yang ada.

Mau tahu kejadian lain yang juga masuk dalam pola atau cara komunis meraih tujuan? Tuduhan Capres keturunan PKI, tidak membela Islam, Penganiayaan Ulama, pro asing dan aseng, serta seabgreg tuduhan lain adalah cara-cara komunis. Prinsip mendasar dari cara komunis meraih tujuan yakni lakukan apapun asal tujuan tercapai. Apa tujuan mereka? Meraih kekuasaan dan cara paling efektif dengan menyebar fitnah. Komunis tidak membuka ruang dialektika, perdebatan wacana apalagi menjunjung tinggi nilai-nilai budaya maupun agama.

Bukan hanya Ratna Sarumpaet yang sudah jadi tersangka atas fitnah-fitnah itu. Sudah ada pentolan Saracen. MCA, Jonru, Buni Yani hingga yang terakhir aktivis PEPES Karawang (partai emak-emak pendukung Prabowo Sandi) tega melakukan fitnah. Mereka menyebut jika Jokowi menang adzan dilarang, pengajian dibatasi, LGBT dilegalkan dan tuduhan keji lainnya. Padahal mereka berhijab, mereka muslimah, mereka orang Indonesia.

Komunisme di Indonesia memang sudah tidak ada secara ideologi namun strategi atau cara-cara komunisme mencapai tujuan yang sekarang ini dipakai. Ditambah makin majunya teknologi menyebabkan cara-cara komunis itu makin subur diterapkan.

Jangan disangka apa yang dilakukan PEPES itu tidak berlanjut hingga tulisan ini dibuat. Mereka masih terus melakukan dalam bentuk narasi yang disebar diberbagai platform social media. Memberantas cara-cara komunis bukan hanya tugas kepolisian, namun tugas kita bersama. Sebab jika mengandalkan kepolisian, mereka terbatas oleh ruang dan waktu. Cara paling sederhana memberantas cara-cara komunis digunakan ya lawan atau bantah mereka yang menyebarkan fitnah-fitnah keji dengan menunjukkan fakta-fakta yang ada. Dan menghilangkan cara komunis tidak bisa dilakukan dalam 1-2 hari, 1-2 minggu, 1-2 bulan melainkan butuh bertahun-tahun.

Thursday, February 28, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: