Rasisnya Sekolah Kita

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Sudah 3 hari ia mogok sekolah. Dan permintaannya jelas, ingin pindah sekolah. Kami belum memutuskan tapi saya memberinya keleluasaan, jika benar mau istirahat dari sekolah sampai tahun ajaran baru, ya silakan.

Asal jangan minder ketinggalan satu tahun dengan teman yang lain, ya. Dan kalau ternyata kamu ndak mau melanjutkan juga, itu hak kamu. Coba baca buku, belajar jadi penulis. Atau belajar mengelola bisnis. Ada banyak pekerjaan yang bisa kamu lakukan tanpa bermodalkan ijazah SMA atau lanjut ke jenjang kuliah. Tapi ya cita-citamu kuliah di luar negeri itu mesti dihapus. Kamu harus mengusahakannya sendiri. Sebab beginilah dunia berjalan, nak. Tidak selamanya tentang hal-hal nyaman, hal-hal yang kita sukai atau harapkan, tidak semua orang mau memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Perkaranya terdengar sederhana tapi ternyata tidak. Di sekolah yang baru beberapa bulan didatanginya ini, ia mendapat perlakuan yan menurutnya tidak adil. Ada guru yang bersikap kasar, kerap menyuruh ini-itu seenaknya. Yang paling fatal ada dua orang guru yang sempat ia sebut namanya (perempuan dan laki-laki) secara berulang memanggilnya dengan sebutan 'Cina'. Bukan di kelas tapi setiap kali mereka berpapasan, guru-guru itu hanya ingat satu kata itu. Cina.

Wajahnya memang sangat dominan wajah ibunya yang sipit dan berkulit terang. Tapi saya pikir itu sudah bukan masalah lagi sebab masya Allah, anak ini sudah bukan Cina tulen. Ayahnya berdarah Makassar. Ia diberi nama seperti nama anak pribumi lainnya bahkan bernuansa agama yang dianutnya. Tidakkah itu cukup bisa mencegah orang-orang untuk bersikap rasis?

Apa sebenarnya yang diperoleh dari sikap-sikap rasis kepada orang lain? Kehebatan macam apa? Kepuasan sekonyol apa? Hendak membuktikan apa?

Saya baru benar-benar mengimani bagaimana buruknya perasaan ketika dirundung saat memasuki sekolah menengah pertama. Ayah saya memasukkan saya ke sekolah swasta, yang mayoritas anak pribumi bersekolah di sana. Di sekolah dasar saya adalah anak yang gembira. Saya bersekolah di yayasan kristen protestan yang berisi sebagian besar anak tionghoa, Ambon dan beberapa anak beragama Islam. Tapi saya tak ingat kami pernah saling mengejek perkara ras dan agama. Anak pribumi yang muslim, diperlakukan sama baiknya dengan yang seiman. Guru kami pun ada yang beragama Islam.

Di sekolah yang baru, nyaris setiap hari saya berharap bisa punya kemampuan untuk mengubah wajah. Atau menghilang di kerumunan.

Cina loleng, atau Cina saja... beberapa orang tak mau tahu nama saya siapa. Saya berusaha menutupi hinaan itu dengan menjadi murid berprestasi. Dan saya pun tertolong ketika ada seorang anak perempuan yang cukup populer dan cantik, mau menjadi sahabat saya. Yanti yang tempo hari saya ceritakan datang berkunjung ke toko mencari saya setelah sekian belas tahun terpisah. Saya bisa sedikit tertolong menjadi bayangan Yanti. Minimal kakak kelas menahan diri dari bersikap buruk setiap melihat Yanti bersama saya.

Buruknya, saya pun belajar memandang sebelah mata orang Tionghoa. Kaum saya sendiri. Saya menolak bergaul dengan sesama anak Tionghoa dengan perkiraan bahwa mereka sama sekali tidak asik dan saya akan menjadi lebih menyedihkan jika bersama mereka.

Bahkan di lingkungan rumah kami, perundungan itu masih kerap saya dapatkan meski saya tak cerita apa-apa ke ayah saya. Percuma, Bapak tidak punya daya apa-apa untuk membela saya. Bapak tidak punya kuasa, bukan orang penting dan kaya.

Jika saya melintas, anak-anak lorong yang berkumpul pasti akan riuh meneriaki saya. Suatu ketika, ada di antara mereka yang berani menghampiri saya dan mencoba menyentuh dada saya. Saya marah sekali tapi bisa apa? Melapor ke mana? Supaya jadi bahan tertawaan lagi?

Menikah dengan seorang lelaki pribumi pun tidak serta merta membuat derajat saya terangkat. Ada banyak sekali ujian, pun perundungan halus yang berupa lirikan mata atau sekadar ucapan sinis. Yang sedih itu jika berasal dari pihak keluarga.

Beruntungnya saya menikahi lelaki yang bangga bukan main beristrikan seorang Cina. Ia justru terkesan pamer setiap kali memperkenalkan saya. Entah apa di kepalanya, padahal saya yang kadang malu pada diri saya sendiri.

Saya yang dulu kerap menghujat Allah, mengapa saya dilahirkan sebagai Cina? Mengapa orang lain tidak merasakan sakit yang saya rasa? Apa salah saya sebenarnya? Di mana saya semestinya hidup supaya saya bisa merasa dihargai?

Butuh ribuan hari hingga hari ini saya bisa menegakkan kepala dengan benar, tidak lagi risih dan malu atas status saya sebagai perempuan Cina. Saya pikir apa yang saya alami sudah cukup sebagai pelajaran dan contoh bagi anak-anak saya, bagaimana mereka harus menghadapi semua perundungan itu dan bersikap terhadapnya.

Saya keliru. Anak-anak kami bukan kami. Mereka hidup di jaman berbeda, di sebuah keluarga yang sangat demokratis, yang mana hampir semua pendapat kami pertimbangkan tak peduli dari siapa. Bahkan kami tak menggunakan kekerasan dalam mendidik mereka. Kami tak mengancam mereka masuk neraka jika melakukan kesalahan. Kami mengalah sesekali demi menyepakati suara terbanyak. Kami mengajarkan memperlakukan semua manusia sama derajatnya.

Mereka tidak bisa berdamai dengan perkara ini sebab mereka tahu mereka punya hak untuk dihargai. Dan kami tidak punya kuasa untuk mempengaruhi bagaimana mereka mengambil sikap terhadap hal-hal yang melukai mereka.

***

Semalam Hisyam memutarkan sebuah drama Korea untuk saya. Ia tahu saya sedang sedih soal adiknya, mungkin ia hanya mencoba menghibur saya.

Drama itu berisi cerita tentang seorang anak perempuan yang tak percaya diri sebab wajahnya jelek. Waktu kecil ia sering disebut dengan panggilan; Babi, ketika remaja ia patah hati sebab pemuda idamannya memanggilnya dengan sebutan "Monster Kang".

Ibunya lantas secara diam-diam tanpa ayahnya tahu, membawa putrinya melakukan operasi plastik supaya dunia dan isinya bisa bersikap lebih ramah kepada putrinya. Ibunya dengan lapang dada menyetujui menyamarkan warisan perpaduan garis wajah ia dan suaminya di wajah anaknya. Hingga kelak ayahnya sendiri tak bisa mengenali wajah baru anak perempuannya.

Saya merasa getir. Saya memahami keputusan si ibu dan bagaimana orang tua selalu berusaha memperjuangkan kebahagiaan anak-anaknya walau harus melalui jalan gelap sekalipun.

Tapi saya takkan melakukan hal serupa. Sekolah favorit itu bukan satu-satunya jalan menuju masa depan yang cerah. Kalau pun dunia dan seisinya bersetuju menolak menerima anak saya, ia tetap memiliki ibunya. Ia akan hidup di dalam kasih sayang dan penghargaan dari orang tuanya, dalam penerimaan yang tidak memerlukan syarat.

Dan mungkin benar kita tidak butuh guru jika itu hanya membuat kita merasa lebih rendah. Jika seperti itu yang ditawarkan, anak kami jelas tidak butuh sekolah untuk bisa menjadi sebenar-benarnya manusia.

Getir tapi mungkin benar, di kepala orang-orang yang merasa 'terpilih' itu, mereka lahir dari Tuhan yang jauh lebih baik dari Tuhan yang kami yakini.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Wednesday, October 16, 2019 - 15:15
Kategori Rubrik: