Rasisme Oknum Keturunan Arab di Indonesia

ilustrasi

Oleh : Rani Kurnia

(Oknum-oknum yg menganggap dirinya kasta tersuci)

Sebagian OKNUM Kalangan habib memandang pribumi sebagai pembawa darah "najis" yg punya kewajiban untuk melayani habib sebagai pembawa darah suci.

Kalangan habib membawa adat budaya kasta hadramaut dan menempatkan diri di kasta brahmana dan menempatkan pribumi yg mereka sebut sebagai ahwal di kasta sudra.

Di masa kolonial sistem kasta tersebut mendapat tempat dalam politik rasis apertheid yg dijalankan oleh pemerintah penjajah Belanda.

Belanda membagi kasta berdasarkan ras, imigran Hadramaut selaku timur asing mendapat posisi di kasta kedua di atas pribumi. Dan didalam kalangan imigran Hadramaut pun dibentuk sub sub kasta yg terdiri dari;

1. Kasta sayyid,
2. Kasta masyaikh
3. Kasta qabili
4. Kasta abid.

Rasisme tersebut mendapat perlawanan dari kalangan pejuang kemerdekaan.

Sementara itu di kalangan internal imigran Hadramaut pun timbul perlawanan dari kalangan yg direndahkan hanya karena keturunan tanpa memandang prestasi.

Perseteruan antara kalangan Sayyid dg kalangan Qabili memuncak ditandai dengan pecahnya Jamiatul Khair, organisasi imigran Arab Hadramaut, yg kemudian kalangan qabili mendirikan organisasi al Irsyad.

Kalangan sayyid bersikukuh bahwa kasta dan rasisme adalah ajaran nabi, sementara kalangan qabili berpendapat bahwa kemuliaan manusia berdasarkan ketaqwaannya bukan karena keturunan, nabi mengajarkan ahlaqul karimah bukan nasabul karimah.

Kalangan sayyid mendapat dukungan Vanderplas karena sejalan dg eugeunitika rasis yg dijalankan oleh Belanda, hingga Vanderplas merestui bahkan mendorong didirikannya LSM rasis Rabithah Alawiyyin. Selain karena punya ideologi rasisme yg sama, kalangan sayyid pun merupakan sekutu setia yg sangat berjasa mendukung penjajahan, diantaranya saat bersekutu meruntuhkan kerajaan di Gresik, persengkokolan dengan VOC saat meruntuhkan Kesultanan Banten dan yg terbesar adalah peran habib mufti Betawi dalam memadamkan perlawanan Aceh dan perlawanan pejuang tarekat Banten Jawa Madura, jasanya yg lain memvonis tarekat dan tasawuf sebagai ajaran sesat..

Atas jasanya yg luar biasa tersebut mufti Betawi tersebut mendapat bintang jasa tertinggi dari penjajah Belanda, bintang oranye dari Ratu Wilhelmina.

Ajaran rasis yg didalili sempat mati suri, bangkit lagi pada jaman SBY. Sebutan ahwal terhadap pribumi sebagai sudra menjadi marak.

OKNUM OKNUM keturunan imigran Hadramaut berkampanye rasis, mereka menempatkan diri sebagai manusia termulia yg harus diistimewakan, dengan dalil merekalah satu-satunya pembawa darah suci keturunan nabi, kalangan ahwal wajib untuk memuliakan, tapi sayang mereka ini mengemis minta penghormatan tapi dengan merendahkan manusia lainnya, tak ada rasa hormat mereka terhadap yg lainnya, tak perduli itu ulama atau umara, karena bagi mereka hanya merekalah yg paling mulia, mereka punya jargon awamnya sayyid derajat 70 kali lebih tinggi dibandingkan ulamanya non sayyid.

Ironisnya ajaran rasis tersebut banyak ditelan oleh kalangan ahwal yg notabene derajatnya direndahkan, lebih-lebih ironi lagi justru lebih fanatik dan lebih rasis. Yg terpengaruh ajaran rasis tersebut memang kebanyakan nya dari kalangan yg dulunya di jaman penjajahan masuk di kasta inlander yg sudah biasa disudrakan dan direndahkan, apalagi mereka punya ketakutan mendapat karomah habib, takut kualat katanya, yg mana dalam biografi habib selalu diceritakan jika ada habib yg tersinggung kemudian habib tersebut marah lalu mengeluarkan karomahnya, dimana dg karomah tersebut siapapun yg pernah menyinggung habib akan mendapat bala bencana, ada yg rumahnya kebakaran, ada yg jadi buta, ada yg anaknya mati, ada yg kecelakaan hingga cacat dll. (jauh beda dg karomah wali yg justru menyelamatkan)

Tetapi banyak juga yg tak termakan sekte habibisme tersebut, namun itu menjadi pemicu kemarahan sekte habibisme, karenanya di panggung2 majelis habib beredarlah fitnah2 terhadap kiai dan ulama, oknum habib berkata bahwa bahwa para kiai dan ulama menyembunyikan dalil2 tentang kewajiban ahwal memuliakan ahlbait, dan yg dimaksud sbg ahlbaibait tersebut adalah habib bukan yg lain.

Namun kalangan habib terjenghak karena ternyata saat melihat fakta sejarah bahwa dzuriyah nabi, yg selama ini jadi alasan untuk merendahkan manusia lain, di nusantara ini bukan hanya mereka, karena sebelumnya mereka datang selaku pengungsi Hadramaut di jaman Belanda, ternyata di Nusantara ini telah banyak dzuriyah bertebaran yg karena diantaranya menikahi putri raja, hingga keturunannya menjadi bangsawan pribumi, dzuriyah yg lain menjadi tokoh-tokoh agama yg mendirikan perguruan dan pesantren Islam.

Alih-alih merasa gembira karena ternyata ada kerabat, kalangan habib yg panik kalah pamor dan bakul nasinya terancam bukannya berusaha menyambungkan kekerabatan dan persaudaraan tetapi malah mendiskreditkan bahwa nasab keraton palsu, nasab para kiai putus, dan Walisongo abtar.

Tentu saja sikap demikian menimbulkan ketersinggungan kerabat keraton, kiai dan kerabat Walisongo yg kemudian mendirikan lembaga nasab Rabithah Azmatkhan.

Mereka yg mendirikan Rabithah Azmatkhan adalah orang-orang yg mengaku kerabat Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, Kesultanan Sulu, Kesultanan Johor dll, juga dari beberapa pesantren.. hanya sayangnya akibat adanya lembaga tersebut malah menjadi ashobiyah baru dan beberapa oknum malah ikut ikutan rasis.

Banyak kalangan yg sengak dg kelakuan OKNUM habib, makin sengak lagi saat berselindung dg dalil bahwa mereka duriyah nabi yg seakan diberi keistimewaan untuk bertindak kurang ajar dan rasis.

Karena muak dg kelakuan OKNUM habib tersebut hingga masyarakat bertanya-tanya apa benar habib keturunan nabi dan apa benar nabi mengajarkan rasisme?

* eer1winardi

Repost : toyib

Catatan:

1. Dengan perubahan seperlunya.

2. Pic yg disertakan dalam dialog kolom komentar adalah bukti oknum k3turun4n 4r4b merasa lebih tinggi kastanya daripada pribumi, didapat dari dialog dalam kolom komentar status ini.

Sumber : Status Facebook Rani Kurnia

Wednesday, November 25, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: