Rapid Test atau PCR

ilustrasi

Oleh : Reno Risanti Amalia

Sudah berapa saja uang yang keluar untuk bisa bepergia menggunakan pesawat dan/atau berhak dirawat di RS? Bahkan tidak hanya uang, nyawa bayipun terpaksa melayang hanya karena keharusan tes PCR dengan biaya yang tidak murah ini? Untuk apa kita harus mengambil tes, bahkan ketika tidak ada gejala sakit yang muncul?

Dokter Agni B Sugiyatmo salah satu rekan medis yang cukup kritis, berulang kali membagikan tulisan, baik tulisannya sendiri maupun tulisan orang lain tentang PCR dan tes terkait Covid19 ini. Mas Indro, salah satu peneliti virus pun juga sudah berulang kali mengingatkan tentang efektivitas penggunaan test ini untuk memvalidasi keberadaan Covid19 di tubuh kita. Bahkan akhirnya WHO pun menghimbau agar tidak lagi menjadikan tes PCR sebagai patokan kesembuhan pasien.

Mengapa demikian?

Singkat kata dalam bahasa awam, tes-tes ini, mulai dari Rapid Test antibodi yang mengecek keberadaan antibodi di dalam darah, Rapid Test antigen, yang merupakan salah satu tes swab untuk mengecek virus apa yang pernah ada di media yang diswab, tetapi tes ini tidak digunakan di Indonesia, maupun tes PCR yang juga menggunakan swab, sama-sama tidak bisa memvalidasi eksistensi dan hidupnya virus di tubuh manusia.

Rapid tes antibodi hanya akan menunjukkan hasil + terhadap antibodi yang sedang aktif di tubuh kita, tanpa memberitahu antibodi tersebut sedang melawan virus atau bakteri apa. Sementara, tes rapid test antigen dan PCR hanya memberitahukan keberadaan virus/bakteri, sesuai primer yang digunakan, tanpa bisa memvalidasi apakah virus tersebut aktif atau tidak. Seringkali, pada orang tanpa gejala (OTG), virus yang terswab adalah jasadnya saja, alias virus tersebut sudah metiaw, metong, almarhum, innalillahi!

Oleh karenanya, memang anamnesa dan diagnosis dokter itu yang seharusnya menjadi patokan sebelum tes-tes ini dilakukan. Belum lagi, tidak ada standard harga yang normal dari pemberlakuan tes ini; mulai dari harga 250.000-400.000 untuk Rapid Test, sampai 600.000 hingga 6.000.000 untuk PCR. Ini tes begimana ya? Apa ada yang swab-nya pake emas batangan gitu kali ya? 

Sekarang WHO pun sudah mematenkan, bahwa tidak perlu lagi menunggu hasil tes positif untuk melepas pasien dalam perawatan, bila gejala sakitnya sudah tidak muncul lagi.

Lah, terus buat apa dong alat tes yang udah kadung dibeli ituuh? Ya dipake untuk mengadakan tes-tes wajib bagi masyarakat lah, dengan tetap mempertahankan status quo.

Makanya, ketika ada meme dari Simon David Monty, tentang pasien yang nanya "Kapan Covid berakhir?", lalu dijawab sama dokter, "saya kurang tahu juga, saya ga aktif di politik", ini meme tepat banget dahh ahh!

Sumber : Status Facebook Reno Risanti Amalia

Thursday, July 2, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: