Rantai Sudah Putus

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Sehari sebelum ke Bangil, Felix Siauw masih sesumbar dirinya akan tetap bisa berkotbah disana. Dia hujat para penolaknya seolah sedang adu kesaktian. Lewat postingannya, dia yakin se yakinnya bahwa ada kekuatan besar di Jawa Timur yang melindunginya. Kalau saja dia elegan dan tidak pecicilan alias diam tanpa melakukan agitasi, mungkin dia bisa melakukan hajatnya berteriak kemenangan.

Felix lupa, Jawa Timur itu tanahnya NU. Jika yang ngundang ada unsur NU ketika berhadapan dengan unsur NU yang tidak suka dengan Felix, siapa yang mereka bela dan turuti? Sudah jelas Banser, Ansor dan Pagarnusa. Bukan Felix. Disini pentolan HTI salah perhitungan. Tidak mungkin NU ngotot untuk dia. Jikapun ada, itu mungkin individual yang langsung loyo digedor secara organisatoris.

Karena salah perhitungan, Felix jatuh fatal terjerembab dalam kubangan lumpur. Kini dia terperangkap oleh strategi komunikasi jitu yang mengukuhkan cap bahwa dia itu pentolan HTI yang tidak mengakui Pancasila. Dia lebih suka kabur ketimbang mengakui Pancasila. Dia kini dicap sebagai kaburan yang anti Pancasila yang bakal disekat kemanapun dia pergi. Dia hanya bisa bergerak di dunia maya dan kelompok-kelompok kecil yang tidak pernah membuatnya atau kelompoknya besar. Apalagi sampai demo-demo di jalan. Itu sekarang cuma impian sama dengan impiannya soal khilafah.

Walhasil kedepan, stigma kaburan dan anti Pancasila makin mempercepat pembusukan HTI yang saat ini kaki dan tangannya roboh dihajar UU Ormas.

Felix Siauw akhirnya menjadi The Last Mohican yang endingnya sungguh mengenaskan. Dan tentu saja pendukungnya dalam sudut yang terpojok berteriak kepanasan.

Game is over. Rantai sudah putus.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Sunday, November 5, 2017 - 12:45
Kategori Rubrik: