Ramalan tentang Pengganti Jokowi

Oleh: Prayitno Ramelan 

Pilpres 2024 masih lima tahun lagi, tetapi persiapan suksesi sudah mulai dipikirkan beberapa pihak. Di AS dlm politik dikenal istilah lame duck (bebek lumpuh), umumnya power pemerintah akan turun dua tahun terakhir karena politisi sdh berkutat dgn suksesi. Pragmatisme politik akan menguat, karena itu kini muncul ide rekonsiliasi.

Kepemimpinan nasional lima tahun ke depan sudah jelas Pasangan Jokowi-Ma'ruf pada pilpres April 2019 telah dinyatakan menang dari pasangan Prabowo-Sandi, baik oleh KPU maupun Mahkamah Konstitusi (MK). Pemenang akan dilantik pada tanggal 20 Oktober 2019 di gedung DPR/MPR RI Senayan. 

 

Dinamika politik menunjukkan keinginan pemenang untuk rekonsiliasi. Terjadi diplomasi MRT, Jokowi-Prabowo. Dilanjut diplomasi nasgor dengan master mind Kabin Budi Gunawan. Di sisi lain muncul revolusi politik, Empat parpol (Nasdem, Golkar, PKB dan P3) pendukung JKW
Ketum parpol pendukung Jokowi (Nasdem, Golkar, PKB dan P3) berkumpul membahas arah politik, intinya tidak ingin bila posisi Ketua MPR sebagai harga rekonsiliasi. kepentingan masing-masing pihak.

Kali ini penulis hanya akan membahas siapa pengganti Pak Jokowi dengan me-refresh sudut pandang intelstrat. Dari sembilan komponen intelijen strategis komponen budaya salah satu yang penulis cermati, yaitu fakta budaya Jawa yang dikaitkan dengan Ramalan Jayabaya yang kini semakin mengerucut pada tahun 2019.

Ramalan Jayabaya dinilai cukup fenomenal. Banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan “mirip” keadaan setelahnya. Ramalan dalam pemahaman ilmu Jawa biasanya merupakan kiasan dan tidak selalu seperti apa yang disebutkan. Kita harus mampu membaca yang tersirat bukan hanya yang tersurat. 

Jayabaya meramalkan tentang bangsa Utara berkulit pucat yang akan menguasai Nusantara dengan tongkat berapi (zaman penjajahan bangsa Eropa). Kemudian kedatangan “saudara tua” menguasai Nusantara yang lamanya hanya seumur jagung (penjajahan Jepang).

Ramalan Jayabaya Tentang Pemimpin Nasional 

Ramalan dibuat oleh Prabu Jayabaya, Raja Kediri sekitar Tahun 1135 M dalam "Serat Jangka Jayabaya" yang mampu memprediksi kejadian-kejadian, jauh melampaui jamannya . Disebut Jangka karena seperti alat jangka yang mampu menarik /mengukur jarak secara tepat, maksudnya waktunya. Tidak hanya bersifat ramalan, tetapi akurasinya terukur. Ramalan ini dikenal khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. 

Prabu Jayabaya meramalkan pemimpin nasional Indonesia mempunyai nama yang berakhiran No-To-No / Na-Go-Ro. Noto berarti menata, nagoro berarti negara. Jadi pemimpin Indonesia juga disebut sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk menata negara. Suku kata tersebut ditulis dalam huruf Jawa yaitu honocoroko (ada utusan), dotosowolo (berbeda pendapat), podojoyonyo (sama-sama menang), mogobotongo (sama-sama kalah). Keduapuluh huruf Jawa itu mudah diberi huruf hidup hanya dengan menambahkan tanda. Ditambah tanda di depan atau dibelakang yang disebut ditaling tarung maka huruf "A" akan berubahp menjadi "O".)

Dikaitkan dengan ramalan. maka urutan pimpinan nasional yang memenuhi syarat setelah kemerdekaan adalah, NO adalah Soekarno, TO adalah Suharto, (setelah itu, BJ Habibie, Gus Dur dan Mega dalam urutan saat itu sebagai presiden tidak memenuhi syarat karena tidak memerintah satu periode penuh atau lebih/lima tahunan).

NO selanjutnya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono, setelah itu presiden Indonesia menurut ramalan berakhiran Go atau Ga. Tetapi yang menjadi presiden adalah Joko Widodo. Disinilah noktah yang menurut penulis merupakan persaingan antara ramalan Jayabaya dengan ridha Allah kepada pak Jokowi. Setelah pilpres Jokowi bisa berdoa di dalam Kabah serta di dalam makam Rasulullah, bahkan bersama isterinya. Untuk pertama kali Raja Arab Saudi mengijinkan wanita masuk kedalam ruang makam tersebut. Jokowi menang pada pilpres tetapi baru akan dilantik pada 20 Oktober 2019.

Dari noktah itu muncul pertanyaan, siapa satriya piningit yang namanya berakhiran Ga atau Go?. Kini ada dua yang menonjol di jagat politik Indonesia, yaitu Airlangga Hartarto (Ketum Golkar, Menteri Perdagangan) dan Sandiaga Uno, cawapres dari Prabowo.

Analisis, Airlangga atau Sandiaga

Airlangga adalah nama asli, Hartarto nama orang tua, sedang Sandiaga, nama aslinya Sandiaga Salahudin nama bapaknya Razif Halik Uno atau Henk Uno. Dari akhiran nama, Airlangga lebih mendekati ramalan Jayabaya dibanding Sandiaga Uno. Airlangga kini menduduki jabatan Ketua Umum Partai Golkar merangkap sebagai Menteri Perdagangan.

Masalah besar kini sedang dihadapi Airlangga di internal Golkar, dia dinilai kurang sukses. Pada pemilu 2019 perolehan suara Golkar dan kursi di DPR merosot. Menurut Indra Bambang Utoyo, tokoh senior Golkar, permasalahan Golkar adalah menguatnya pragmatisme (kekuasaan) dibanding idealisme. 

Menjelang Munas, terjadi persaingan perebutan jabatan ketua umum, nampak Airlangga kini head to head dengan Bamsoet (Bambang Soesatyo). Benturan antar keduanya sudah mulai terjadi. Golkar dinilai sangat penting dan bisa jadi kuda tunggangan pilpres 2024.

Karena sudah masuk peta ramalan Jayabaya, Airlangga sebaiknya tidak terlibat dalam perseteruan melawan Bamsoet. Dalam munas Golkar akhir tahun ini lebih baik Airlangga memilih dan dukung calon alternatif Ketum Golkar, dengan deal-deal khusus politik untuk melawan Bamsoet. Bila dia percaya ramalan plus strategi politik cerdas, citranya tetap terjaga. Bila tetap mempertahankan status quo, dia bisa dimasulkan dalam killing ground. Lawan politiknya didukung power besar lengkap finansial tak terukur.

Menurut penulis tokoh Golkar Indra Bambang Utoyo calon yang tepat. Panglima politik yg disegani, berani, dari keluarga TNI, punya massa, tokoh senior Golkar, pengalaman, dekat dengan TNI, intelijen, juga Ketum PDIP dan integritas tidak cacat. Inner circle di lingkungan White House saja menyebutnya sebagai white Golkar. Airlangga akan aman bila Indra menjadi Ketum Golkar.

Apakah ramalan tersebut dapat dipercaya? Kini terserah kepada pembaca, sejauh mana kepercayaan terhadap ramalan budaya bangsa kita. Golkar butuh pemimpin idealis pembela Pancasila. 

Sekali lagi, kita boleh saja percaya terhadap ramalan Jayabaya tentang Notonagoro ini, dan kita bisa pula tidak mempercayai dan menganggapnya sebagai mitos. Yang jelas, ini hanyalah sebuah prediksi yang bisa jadi benar dan bisa jadi keliru, walaupun demikian tidak ada salahnya untuk kita cermati bersama. Semoga bermanfaat. 

(Sumber: Facebook Prayitno Ramelan)

 
Thursday, August 1, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: