Ramadanku, Ramadanmu

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Seperti yg sudah terjadi beberapa kali jatuhnya 1 ramadhan berbeda antara Muhammadiyah dan Pemerintah yg secara tidak langsung diwakili NU. Tahun lalu alhamdulillah sama, tahun ini insyaallah jg sama, walau seperti biasa Muhammadiyah selalu mengumumkan duluan.

Walau dari sudut fiqh tidak masalah karena sama-sama sahnya ( berbeda tapi sah?), mungkin sama halnya dgn 4 mazhab dalam islam yg sama-sama boleh dipakai. Tapi dari sudut keharmonisan agak krg elok. Apalagi seolah Muhammadiyah selalu mendahului ulil amri. Jangan-jangan nanti FPI buat ramadan sendiri, seperti Nahsyabandiyah di Sumbar yg sdh puasa satu hari sebelumnya.

 

Saya adalah salah seorang non ormas, makanya kl ditanya saya jawab saya Muhammad NU, saya pakai ajaran mana yg sreg. Untuk ramadan saya sebenarnya cenderung setuju dgn Muhammadiyah yg memakai hitungan hisab, logikanya waktu shalat saja bs dibuat jadwal tahunan, kenapa utk 1ramadan tak bisa dihitung. Tapi itu kan pendapat saya yg awam, saya belajar gusnuzhon saja, karena yg nyatat perbuatan kita cuma Tuhan, bukan ormas islam.

Mari kita jalankan ibadah puasa dgn sebaik-baiknya. Jangan mengurusi orang yg tdk puasa, apalagi lain agama. Jangan ngurus orang jualan makanan karena mereka cari makan, jangan kebanyakan demonstrasi seolah menjadi islam sendiri namun kelakuannya menyakiti. Intinya jgn terlalu banyak teori, tapi gak bisa menjalani.

Puasa itu menahan, bukan memaksakan, termasuk maksa menang. Itu namanya menang-menangan. 

 

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Sunday, May 5, 2019 - 18:30
Kategori Rubrik: