Rakyat Yang Baik

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Kini China sedang memasuki krisis ekonomi yang serius. Kalau tahun tahun sebelumnya upaya perbaikan ekonomi di lakukan dengan rasa optimis namun kini Pemerintah China tidak berharap banyak atas instrument kebijakan yang akan di ambil. Mengapa ? Upah di naikan tiga kali lipat dan berharap pasar domestik meningkat karena buruh punya uang lebih tapi buruh lebih suka menabung daripada konsumsi. Stimulus ekonomi berupa intervensi sosial Pemerintah dalam bentuk penyediaan puluhan juta rumah bagi rakyat miskin , jaminan sosial kesehatan, revitalisasi desa dan sarana produksi pertanian ternyata berdampak inflasi sehingga upah yang meningkat drastis ternyata tidak berdampak orang untuk berkosumsi. Pasar domestik belum bisa menggantikan Pasar ekspor yang menyusut. Akibatnya banyak pabrik bangkrut.

Tapi apakah rakyat China terpuruk ? Hasil survei tingkat kepuasan rumah tangga terhadap perekonomian nasional justru meningkat dua kali lipat. Kan lucu ? Mengapa ? Ternyata krisis ekonomi ini mendorong terjadi migrasi besar besaran rakyat ke pedesaan dan ke daerah yang tadinya tidak tumbuh begitu pesat. Ini terjadi karena biaya hidup dikota semakin tinggi dan kesempatan semakin kecil. Sementara di desa semangat gotong royong berproduksi semakin meningkat sehingga mampu menghasilkan produk murah yang mudah diserap rakyat.

Krisis ekonomi telah dengan jelas mengembalikan prinsip dasar budaya China yang lebih mengutamakan gotong royong dan kebersamaan. Cara kapitalis memang mereka terima tadinya namun tidak membuat mereka manja sehingga meradang ketika uang semakin sulit di dapat. Mereka tidak menyalahkan Pemerintah dan tidak pula mengutuk sistem yang ada. Mereka berprinsip selalu ada jalan pada setiap masalah selagi mereka bisa menerima kenyataan dan berpikir positif. China mampu bertahan bukan karena pemerintahnya hebat tapi karena memang rakyatnya hebat.

Penguasa yang baik akan melahirkan peradaban yang baik namun pemimpin yang baik tidak akan berprestasi baik bila rakyat sakit. Ubaidah as-Salmani berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Amir al-Mu’minin, kenapa pada masa kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar orang-orang pada tunduk kepada mereka berdua, padahal dunia pada masa itu lebih sempit dari jengkal tangan bagi mereka berdua lalu menjadi luas, sedangkan pada saat kau dan ‘Utsman memegang tampuk kekhalifahan, orang-orang tidak tunduk kepada kalian berdua, dan dunia yang telah luas menjadi lebih sempit dari jengkal tangan?

Ali bin Abi Thalib menjawab, “Karena rakyat yang dipimpin oleh Abu Bakr dan ‘Umar itu adalah orang-orang seperti aku dan ‘Utsman, sedangkan rakyat yang kupimpin saat ini adalah orang-orang semisal kamu dan yang sepertimu.** (ak)

Sumber : Facebook Erizeli jelly Bandaro

 

 

 

Monday, May 16, 2016 - 08:45
Kategori Rubrik: