Rakyat Australia Juga Panik Lho pak SBY

ilustrasi

Oleh : Meilanie Buitenzorgy

“When I was waiting for the bus this morning, I saw an army of Karens ngantri di depan pintu Aldi yang masih tutup”, cerita Zetta sambil ngakak, semalam di meja makan. Raissa si sulung ngakak terjengkang-jengkang. Gw dan temen bobo gw bengong, pasang muka dodol semacam Jack Sparrow baru turun dari kapal Black Pearl.

What the heck is “Karens” in this context? Savvy?

“Well, Karen is the worst type of shopper. Tipikal emak-emak middle-age beranak 2, 3, 4 yang resek kalo belanja dan dikit-dikit complain “can I talk to your manager?” Can you imagine, yang model begitu ada sebatalyon ngantri mo panic buying di depan pintu supermarket yang masih dikunci?” jelas Raissa sambil ngakak.

Baru deh maknyak dan paknyak ikut ngakak.

Walaupun ini sebenarnya penistaan terhadap para penyandang nama Karen ye kan. Generasi Tik-tok ini emang sering rada2 kurang-ajar, seenaknya aja bikin istilah2 slank meledek para generasi di atasnya.

Pagi ini Raissa pergi berburu pembalut ke supermarket. Ada supermarket Coles, Aldi dan Woolworths dekat rumah kami di pinggiran Sydney. Dan rak pembalut KOSONG dong. Terpaksa beli pembalut paling mahal yang itu pun tinggal nyisa 2-3 biji di rak. Sekitar 120 rebu rupiah untuk 20 lembar pembalut. Mayan mahal euy, buat kelas menengah ngirit seperti kami.

“Come on ladies, we get bleeding only one week in a month. Not every day!!!” omel Raissa di rumah. “And what will the government do about this? As usual, they will just rely on market mechanism. Rocketing demand and then rocketing prices. And tomorrow we’ll see those craps sell $60 pads on the Amazon. This is not Survival of the Fit. This is Survival of the RICH!!!”

Wkwkwkwk….

Ya. Sudah sekitar 2 minggu belakangan ini Australia dilanda gelombang panic buying. Rak-rak makanan di supermarket seperti roti, pasta, buah, sayur, daging, makanan kalengan sampai kulkas makanan beku kosong melompong sejak pagi hari. Orang-orang sibuk mendorong troli dengan gunungan belanjaan. Hand sanitizer jangan ditanya. It never exist anymore.

Dan satu barang super duper langka yang bikin orang kulit putih Amerika, Inggris dan Australia habis di-bully ras-ras bangsa lain sedunia adalah: tisu toilet. Sampai viral video emak-emak berantem rebutan tisu toilet di salah satu supermarket Australia. Reffrain lagu lawas Michael Jackson “Beat It” pun sempat viral lagi. Dipelesetin jadi Bidet, yang artinya tempat cebok.

“These white people should learn how to wash their butt using WATER. Pada blajar cebok pake aer napa woyy?” tulis para kolumnis non-white di koran-koran.

Sampe-sampe temen-temen gw di sini pada berlomba posting foto manggul paketan segambreng tisu toilet di medsos. Udah berasa superhero banget deh kalo berhasil bawa pulang tisu toilet ke rumah.

Wkwkwkwkwk…

Ini bukan cuma kejadian di Ostralih ya gaes. Di Amerika juga sama. Pun di Perancis. Dan belahan dunia lain. Jangan lupa, we are talking about DEVELOPED countries. Bukan negara berflower seperti Indonesia. Padahal welfare system Australia jauh lebih bagus daripada Amerika dan Inggris, walau masih di bawah negara-negara Skandinavia. Barang-barang yang langka sekarang itu pun banyak yang produk dalam negeri, bukan barang import dari China. Teuteup aja rakyatnya banyak yang bertindak irasional, ikutan panic-buying.

Menghadapai musibah global Covid-19 ini, kita musti jujur, tidak ada satu pemerintahan pun di dunia ini yang benar-benar siap. Dan tidak ada rakyat yang puas dengan respons pemerintahnya. Semua serba kedodoran. Dengan level kedodoran yang berbeda-beda tentunya.

Jadi Pak SBY, masyarakat panik bukan cuma fenomena di Indonesia. Lalu, apakah artinya pemerintah Australia, Perancis, Amerika dan sebagainya tidak kredibel?

Lalu kenapa terjadi fenomena global over-reaction seperti ini?
Hipotesis singkat salah satu professor senior di Australia sih begini. Professor ini adalah guru dari dosen-dosen S3-nya Pak SBY. Kebetulan juga beliau adalah guru dari temen bobo gw yang sudah pula jadi Associate Professor di salah satu universitas di Sydney.

Singkatnya hipotesis beliau, panik global ini akibat insecure feeling yang dialami masyarakat kelas pekerja sedunia. Insecure karena fenomena casualization yang merata terhadap kelas pekerja dalam jangka panjang. Baik kelas kerah biru maupun kerah putih, mayoritas employee dipekerjakan dengan skema casual. Short term contract based. Skema permanent job nyaris nihil. Bahkan para professor di universitas pun tidak lagi punya kemewahan secure-job, karena sewaktu-waktu bisa ditendang universitas kalau tak mampu mempertahankan performa prima atau disiplin ilmu yang diampunya tak lagi diminati pasar.

Para lulusan PhD yang bekerja di institusi-institusi internasional dengan gaji lumayan mentereng itu, paling-paling cuma dapat skema kontrak kerja 1-2 tahun. Habis itu ya mesti cari-cari kerjaan baru. Syukur-syukur kalau kontrak diperpanjang. Dan begitu seterusnya.

Mayoritas masyarakat dunia harus menghadapi masalah job insecurity seumur hidupnya. Dan ketika wabah global Covid-19 menghantam, diikuti dengan penurunan produktivitas, gelombang PHK dan ancaman resesi ekonomi, mereka pun kompak panik. Panic buying karena akumulasi perasaan uncertainty/ketidakpastian. Jangan-jangan besok Australia lockdown? Atau minggu depan? Atau bulan depan?

Mungkin Pak SBY perlu merenung. Adakah kontribusi Pak SBY selama 10 tahun menjabat kemarin terhadap masalah job insecurity ini?

Monggo merenung dulu Pak…

Sumber : Status Facebook Meilanie Buitenzorgy 

Wednesday, March 25, 2020 - 12:30
Kategori Rubrik: