Rajatega Bernama Buzzer AB

ilustrasi

Oleh : Andi Setiono Mangoenprasodjo

Secara pribadi (sebenarnya) saya sudah memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan figur yang namanya Anis Baswedan. Pun jika lima tahun di bawah dirinya, Jakarta makin ambyar, saya tidak terlalu hirau. Itu harga yang harus dibayar. dari para pemilih yang dungu. Pun warga Jakarta secara keseluruhan yang tidak pernah sungguh2 berjuang dan mau bersatu! Di luar itu, saya sadar setiap tulisan atau status yang menyinggungnya, hanya berguna melulu menjaga rating-nya. Untuk tetap diingat eksistensinya, dengan harapan membangun "bola liar simpati" yang setiap saat bisa berbalik arah. Dari seorang public enemy menjadi media darling. Pengen niru Jokowi dengan jalan melingkar2. Analoginya dia ini, seperti produk rokok. Sekali pun dilabeli rokok itu membunuhmu, sekalipun di bungkusnya ada gambar mengerikan dan menjijikkan. Tetap saja ada yang membutuhkan dan membeli. Berapa pun harganya. Coba sesekali, kritik para perokok. Pasti mereka akan teriak kencang sekali, sayalah penyumbang pajak yang membiayai jika dirimu sakit. Tanpa rokok, tak ada Liga-liga Eropa yang bermutu di televisi. Tak ada rokok tak ada pertunjukan panggung yang murah dan bermutu. Tak ada rokok, cih!

Saya kembali merasa jengkel dan sangat marah. karena kepulangan orang yang saya anggap guru. Pribadi rendah hati yang tak pernah secara sengaja mencari permusuhan dengan siapa pun, AE Priyono dijadikan ajang unjuk gigi. Mending kalau faktanya benar, ini sebagaimana biasa melulu hoaxs dan tipu2. Peristiwanya, sehari setelah beliau meninggal. Tiba2 muncul klaim dari seorang buzzer AB bahwa masuknya Mas AE ke RS Polri adalah berkat jasa AB. Sebagaimana diketahui, setelah tak tertangani di sebuah RS Swasta di Depok, memang nyaris tak ada satu pun RS yang dapat menampungnya. Semua penuh. Belakangan klaim tersebut, terbukti sebuah kebohongan. Adalah tiga orang yang berbeda, yaitu Eva Kusuma Sundari, Alisa Wahid dan Lukman Hakim Syarifudin yang secara nyaris bersamaan menghubungi Mariya Mubarika seorang dokter yang termasuk lingkaran dalam Istana. Yang ditugaskan sebagai Stafsus Kemenkes. Untuk dicarikan solusi terkait terkatung2nya kondisi Mas AE. Beliau yang terakhir inilah yang kemudian menghubungi Brigjen Musyafak, sebagai Kapusdokes Polri, yang kemudian memberi fasilitas perawatan intensif ICU dengan Ventilator.

 

Berhenti di situ? Tidak!

Setelah mas AE meninggal, ejekan bahwa ia adalah pengkhianat Islam dengan mudah ditemukan di akun Mas AE. Sebagai Ahokers yang di ujung hidupnya ditolong oleh AB nyaris serempak seragam diteriakkan. Senada dengan kasus "bergetarnya suara AB". Karena, mungkin akun itu terbuka, sehingga siapa saja bisa berkomentar. Maka membanjirlah hujatan yang saya pikir, di luar tanpa kesopanan. Juga sangat tidak menunjukkan empati kepada keluarga, dan terutama simpati terhadap perjuangan mas AE selama ini. Tuduhan2 bahwa ia adalah seorang Syiah, mungkin karena beliau adalah pengagum sufi2 besar dari Persia menghajar sedemikian enteng. Hingga selama sehari, keluarga mas AE menutup akun face book-nya. Untunglah setelah, dibersihkan. akun tersebut dibuka kembali. Dan bagian terburuknya diserbu lagi, di status2 di masa lalu yang tak ada hubungannya. Keji!

Ada apa ini?

Simple: hanya karena klaim mereka terbukti hoaks. Dan untuk menutup malu. Sebagaimana api yang disiram bensin, ia membakar balik dengan sangat cepat! Siapa kah mereka ini? Sial betul, penyulutnya adalah seorang mantan (atau masih, sic!) wartawan SKH Republika. Rumah yang sama dimana juga mas AE pernah bekerja. Rajatega!

Saya hanya merasa kesedihan saya berlipat2. Sedemikian rupa kah cara mereka membenci dan memelihara api dendam? Di tengah pageblug yang tak pasti kapan ujungnya ini. Di saat mestinya kita tunduk mengharu dan membeku. Mengaku kalah, lemah, dan tak berdaya. Berdoa tanpa suara...

Sampai kapan?

Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Saturday, April 25, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: