Raja Jokowi, Poster Kritis Yang Jenaka

Ilustrasi

Oleh : Wasil Belian

Poster Raja Jokowi ini menarik. Sebagai simbol kekuatan feodal yang punya konotasi negative di alam demokrasi, tentu Jokowi dan pendukungnya tak ingin sang presiden inkumben dianggap atau diperlakukan sebagai Raja.

Ini seperti kritik, atau semacam tamparan di wajah para pendukung Jokowi yang selama ini militan memuji karya nyata Jokowi sebagai presiden. Meski tak mau menganggap Jokowi sebagai raja, tapi sikap pendukungnya selama ini seakan-akan euforia menegaskan bahwa Jokowi tanpa cela. Kebalikan dari serangan brutal oposisi yang jargonnya: semua salah Jokowi.

Selama ini, Jokowi selalu mematut diri sebagai presiden yang lahir dari kalangan jelata, kelas pekerja. Dia muncul untuk mengubah personifikasi pemimpin a la mitologi Jawa dan nusantara yang mengedepankan “bibit” atau silsilah yang mesti runut hingga ke peraduan istana. Darah keraton pernah sangat menentukan layak tidaknya seseorang menjadi pemimpin; satrio piningit.

Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, SBY beberapa kali sering dicocok-cocokkan sebagai turunan wangsa raja-raja tertentu. Tapi Jokowi, selama empat tahun memerintah tak pernah coba memanfaatkan peruntungan ini untuk lebih melegitimasi kekuasaannya.

Adalah Megawati, orang pertama di negeri ini yang memutus mata rantai kejemuan soal silsilah ini. Megawati, yang menjadi penentu arah politik PDIP, menunjuk Jokowi – kader PDIP yang baru dikenalnya kurang dari sepuluh tahun (2004, pertamakali Megawati bertemu Jokowi di peresmian pabrik mebel di Solo), sebagai calon presiden dari PDIP di pemilu 2014 dan 2019.

Jokowi tidak punya garis ningrat di darahnya. Orangtuanya hanya jelata asal Boyolali. Dia juga bukan ketua Parpol yang berdarah-darah membesarkan atau membiayai partai. Dia juga bukan orator yang menggelegar, malah kalau bicara seperti sales saja.

Karenanya kemunculan ribuan poster Jokowi dengan mahkota raja yang tersebar di beberapa titik di Jawa Tengah seperti anakronisme sosok Jokowi. Penampilan raja Jokowi ini jelas menohok simbol yang hendak ditampilkan: bersih, merakyat, kerja nyata.
Karenanya, PDIP seperti kelimpungan membersihkan “kesembronoan” ini.

Entah siapa sosok horang kayah yang rela merogoh kocek miliaran untuk memproduksi poster-poster ini, sampai saat ini belum ketahuan. Pihak oposisi mengklaim bahwa pemasangnya adalah simpatisan Jokowi sendiri, sementara PDIP tidak pernah merasa memesan pembuatan poster ini.

Siapapun sponsor poster ini, saya pribadi melihat bahwa gambaran Raja Jokowi ini adalah kritik yang cerdas, legit dan punya selera humor yang tinggi. Lanjutkan!

Sumber : Status Facebook Wasil Belian

Monday, November 19, 2018 - 00:00
Kategori Rubrik: