Rais Syuriah PBNU: Pengusiran Haji Djarot dari Masjid adalah Perbuatan Zalim

Oleh : Kiai Ahmad Ishomuddin

Tidak begitu kaget saya mendengar berita bahwa Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, H. Djarot Saiful Hidayat, diusir untuk kesekian kalinya dari masjid. Itulah buah busuk politisasi masjid-masjid di Jakarta.

Masjid adalah rumah Allah yang khusus untuk beribadah. Manusia muslim beribadah di masjid agar ia dekat kepada Allah dengan mensucikan jiwa dari segala sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji. Masjid-masjid bukanlah tempat yang tepat untuk kampanye politik, apalagi untuk menyemai bibit kebencian kepada sesama manusia.

Pengusiran kepada pak Djarot seusai shalat Jumat kemarin adalah buah busuk politisasi masjid. Pengusiran itu bukan saja cermin betapa buruk dan dangkalnya pemahaman agama sebagian umat Islam yang seharusnya menjunjung tinggi akhlak mulia, tetapi juga pertanda ketidakmatangan dalam berdemokrasi dan tidak menghargai perbedaan. Pengusiran itu juga merupakan pertanda yang jelas akan wujudnya radikalisme yang berpotensi merusak keharmonisan dan keutuhan NKRI.

Setahu saya pak Djarot adalah seorang muslim yang taat, sedikit banyak dalam jiwanya ada secercah keimanan yang karenanya sesama orang beriman tidak diperkenankan membencinya. Mengusirnya dari masjid adalah perbuatan dzalim, sama sekali tidak terpuji, dan tidak dapat dibenarkan menurut ajaran Islam. Tidak ada sepenggal ajaran Islam yang menganjurkan agar mengusir seorang muslim dari masjid, kecuali menurut sekelompok muslim yang memonopoli surga, merasa benar sendiri, dan mudah menstigma muslim lain dengan sebutan kafir, fasik dan munafik, apalagi demi kepentingan politik.

Politisasi masjid tidak boleh tidak harus segera dicegah, karena selain tidak sesuai dengan tuntunan agama juga melanggar aturan negara kecuali bagi mereka yang dalam meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala macam cara. Pihak yang berwenang dan setiap warga seharusnya tidak perlu ragu dan takut untuk melawan setiap penyalahgunaan masjid sebagai rumah ibadah. Jika tidak, maka kesucian masjid-masjid akan ternodai, sebagaimana ternodainya hati dan pikiran manusia oleh keangkuhan dan kebencian terhadap sesama orang beriman.

Pengusiran terhadap pak Djarot dari masjid itu patut lagi harus disesalkan oleh setiap warga bangsa yang memprioritaskan wujudnya sikap saling menghargai dalam setiap perbedaan dan mengutamakan rasa persaudaraan. Sudah saatnya umat Islam meninggalkan sejauh-jauhnya setiap tokoh agama yang berteriak-teriak di masjid untuk nyata-nyata menebar kebencian dan saling permusuhan antar sesama warga bangsa kita.**

Sumber : jakartaasoy

Sunday, April 16, 2017 - 12:45
Kategori Rubrik: