Rahmat Baequni Bukan Ustadz

ilustrasi

Oleh : Nophie Kurniawati

Suami saya adalah petugas KPPS. Untuk menjadi petugas KPPS dia diminta melampirkan surat keterangan sehat dari dokter. Saat bekerja mulai dari menyiapkan bilik, saat pencoblosan, saat penghitungan dan penyerahan kembali kotak suara ke Kelurahan, tidak ada pihak manapun yang mengirimkan makanan, minuman, jajanan apalagi rokok. Semua konsumsi dipesan sendiri oleh KPPS karena sudah mendapatkan dana operasional.

Dari 7 orang anggota KPPS plus 2 orang Hansip, punya pilihan politik yang berbeda. Tetapi dalam pelaksaannya tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada satupun yang ingin berbuat curang untuk memenangkan orang yang dipilih dan merugikan lawannya.

Begitupula saksi2 yang ditunjuk oleh kedua paslon capres maupun oleh partai pengusung. Semua mengawasi dari awal pencoblosan sampai selesai penghitungan. Semua sepakat kepada hasil dan bersedia menandatangani kertas2 laporan, tanpa ada pertentangan.

Dan alhamdulillah seluruh anggota KPPS di TPS tempat suami saya bertugas juga di kelurahan kami, semua masih sehat walafiat sampai saat ini.

Jadi kalau benar cerita yang ditulis di media ini disampaikan oleh seorang ustad, saya tidak paham darimana dia dapat berita seperti itu. Apakah dia juga sudah tabayun keberbagai pihak? Atau dia katakan itu karena dia berpihak. Biarlah polisi yang mendalaminya. Yang pasti, siapapun tidak boleh menyebarkan hoax & fitnah, apalagi merugikan pihak lain dan membuat distrust dimasyarakat. UU sudah mengatur itu. Tinggal dilaksanakan saja.

#NK

Ceramah Rahmat yang menjadi perkara terekam dalam sebuah video yang sempat viral beredar di media sosial. Dalam rekaman video, Rahmat Baequni bilang kalau telah ditemukan zar beracun dalam cairan jasad petugas KPPS yang meninggal. “Seumur-umur kita melaksanakan Pemilu, pesta demokrasi, ada tidak petugas KPPS yang meninggal? Tidak ada ya? Tidak ada,” ujar Rahmat Baequni dalam potongan video tersebut.

“Ketika semua yang meninggal dites di lab, bukan diautopsi, dicek di lab forensiknya, ternyata apa yang terjadi? Semua yang meninggal ini mengandung dalam cairan tubuhnya, mengandung zat yang sama, zat racun yang sama. Yang disebar dalam setiap rokok, disebar ke TPS… Tujuannya apa? Agar mereka tidak memberikan kesaksian tentang apa yang terjadi di TPS,” tuturnya.

Pernyataan Baequni jelas bertentangan dengan temuan Kementerian Kesehatan di lapangan, yang mencatat kalau penyebab umum anggota KPPS meninggal karena sakit. Di Jakarta, misalnya, Dinkes DKI mencatat penyakit yang diderita petugas KPPS yang meninggal antara lain gagal jantung, gagal pernafasan, liver, stroke, dan infeksi otak meningitis.

Sumber ; Status Facebook Rahmat Baequni

Friday, June 21, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: