Error message

  • Notice: Undefined index: value in _metatag_token_process_metatag() (line 184 of /home/piyungan/public_html/sites/all/modules/metatag/metatag.tokens.inc).
  • Notice: Undefined index: value in _metatag_token_process_metatag() (line 184 of /home/piyungan/public_html/sites/all/modules/metatag/metatag.tokens.inc).
  • Notice: Undefined index: value in DrupalTextMetaTag->getValue() (line 486 of /home/piyungan/public_html/sites/all/modules/metatag/metatag.inc).
  • Notice: Undefined index: value in DrupalTextMetaTag->getValue() (line 486 of /home/piyungan/public_html/sites/all/modules/metatag/metatag.inc).

Rahasia Kenapa Kodok Perlu Dijaga Keberadaannya

Ilustrasi

Oleh : Okas Bin Hasan

Pernah suatu kali, ada postingan yang diiringi dengan komentar-komentar yang memfitnah dan menghina Buya Syafi’i Maarif di Facebook. Saya pun akhirnya ikut berkomentar untuk sekadar mengingatkan agar semua menahan diri. Kalau tidak bisa menganggap beliau sebagai guru bangsa, anggap saja sebagai orang tua yang sepatutnya kita hormati. Namun balasannya malah saya dikatakan (lebih tepat diperolok) sebagai Cebong, Bani Kodok, IQ Sekolam, dll. Padahal apa hubungannya coba?

Tapi begitulah yang kerap kita temukan di medsos. Jangankan berbeda pendapat, meluruskan berita hoax saja langsung dicap macam-macam. Pokoknya berbeda sedikit saja langsung dianggap sebagai “tetangga sebelah”. Istilah olok-olok pun langsung keluar, terutama antar dua kubu, yaitu fans Jokowi dan pendukung Prabowo. Untuk fans Jokowi disebut Cebongers, sedang untuk pendukung Prabowo, disebut Kampreters.

Saya tidak tahu kenapa sebutan Kampret atau Kelelawar disematkan kepada para pendukung Prabowo. Yang saya tahu cuma kata Cebong, yang dijadikan kata olok-olok kepada fans Jokowi. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan beliau memelihara kodok di kolam, baik sejak masih tinggal di Solo hingga saat mendiami istana kepresidenan di Bogor sekarang ini.

Lalu kenapa pak Jokowi gemar memelihara kodok, yang oleh kebanyakan orang dianggap hal yang nyleneh? Kebetulan saya adalah seorang petani, jadi saya cukup paham betapa pentingnya mahluk amfibi itu diperhatikan keberadaannya untuk menjaga ekosistem, khususnya di bidang pertanian.

Terkadang kita masih bertanya-tanya kenapa satwa remeh seperti kodok penting untuk diperhatikan? Toh tanpa mereka pun kita masih bisa hidup. Kehilangan mereka juga tidak akan mempengaruhi aktivitas kita. Ya, itulah yang seringkali kita lupa dan remehkan. Padahal keberadaan kodok memiliki peran besar dalam ekosistem. Fungsi ekosistem inilah yang tidak terlalu nampak oleh mata sehingga terabaikan.

Menurut guru besar saya di bidang pertanian organik, suara kodok dapat merangsang membukanya mulut daun atau stomata. Tahukah Anda? Dengan terbukanya mulut daun, maka terjadilah transfer air dan mineral yang diserap akar ke seluruh bagian tanaman. Hal ini diiringi dengan terjadinya fotosintesa yaitu proses pembuatan makanan dengan bantuan sinar matahari, karbondioksida dan air. Karbondioksida yang dihisap stomata kemudian diubah dan dilepas kembali menjadi oksigen.

Itu kenapa kodok berperan besar sebagai penjaga ekosistem. Keberadaan kodok juga bisa dijadikan indikator kesuburan suatu daerah. Dengan banyaknya kodok (juga jangkrik dan kunang-kunang) menandakan kesuburan suatu wilayah. Karena banyak tanaman yang bisa tumbuh, yang kemudian menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh seluruh mahluk hidup. Selain itu, keberadaan kodok juga dapat mengurangi melonjaknya jumlah nyamuk, lalat, serangga dan hama yang mengganggu tanaman pertanian. Sehingga bagi petani seperti saya, kodok adalah sahabat alam yang harus dijaga dan diperhatikan keberadaannya.

Itulah sebenarnya makna dibalik kebiasaan pak Jokowi memelihara kodok selama ini yang tidak banyak diketahui orang. Bahwa memelihara dan melindungi kodok adalah hal yang sangat dianjurkan.

Namun tidak hanya sampai di situ, sesungguhnya kodok mendapatkan penghargaan diharamkan untuk dibunuh seluruh bangsanya hingga akhir zaman.
Mungkin banyak yang belum mengetahui kisah mengapa membunuh kodok dilarang dalam Islam.

Dikisahkan, sang kodok bolak-balik mengambil air di mulutnya, melompat-lompat mendekati api dan menyemburkannya dengan maksud memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Sekalipun seribu kodok berbuat seperti ini tetap tidak akan bisa memadamkannya. Namun perbuatan kodok yang dianggap sia-sia itu bukanlah sia-sia di mata Allah. Allah haramkan semua kodok untuk dibunuh sampai akhir zaman hanya gara-gara satu perbuatan baiknya.

Oleh karena itu tak heran jika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang kita untuk membunuh kodok.
Dari hadits Anas radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kalian membunuh katak, karena sesungguhnya ia melintasi api yang membakar nabi Ibrahim, membawa air di dalam mulutnya dan memercikannya ke arah api.”

Selain itu, hewan yang sering kita anggap tidak berguna seperti katak, ternyata juga bertasbih kepada Allah. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Abdurrazaaq, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Berilah keamanan bagi kodok (jangan dibunuh), karena sesungguhnya suaranya yang kalian dengan adalah tasbih, takqdis, dan takbir.

Sufyan Ats-Tsauri, seorang pemimpin orang mukmin di bidang hadits, pernah berkata: “Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih banyak bertasbih kepada Allah selain katak.”

Subhanallah, tidak terlintas di pikiran kita sebelumnya, ternyata menguaknya suara kodok adalah tasbih, memuji Allah, sang Maha Pencipta. Lalu terbayang melihat pak Jokowi yang selalu dekat dengan kodok, sebagaimana kami para petani yang hidup di pedesaan. Malam-malam ketika duduk santai di belakang rumah, terdengar suara kodok bernyanyi saling bersahutan, kadang diiringi gemericik air hujan yang jatuh di dedaunan. Damai dan tenang rasanya hati ini.

Begitu syahdu rasanya jiwa mendengar alam beserta binatang mengaji, bertasbih kepada sang Maha Pencipta. Dan seorang Presiden Indonesia yang acap mendapat perlakuan yang kurang simpati dari sebagian kecil masyarakat, sesungguhnya sedang mengajarkan kepada kita semua dengan cara yang begitu sederhana.

Dari saung tengah sawah,
Diyang Organic Farm, Karawang,
Okas Hassan

Sumber : Status Facebook Okas Bin Hassan

Friday, March 2, 2018 - 17:00
Kategori Rubrik: