Rafi Dan Cinta

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Tak ada keterangan lebih jauh kita dapatkan tentang Rafi. Dia anak berkebutuhan khusus (ABK). Heward, demikian istilah asingnya, mencakup tuna rungu, tuna daksa, gangguan berbicara, gangguan ingatan, dan banyak gangguan lagi. Kita tak tahu di kebutuhan khusus apa Rafi termasuk.

Rafi mungkin punya gangguan berbicara. Ketika minta ibunya mengabadikan gambar saat dia berada dalam pelukan Jokowi, dia mengucapkan itu dengan pembunyian yang terasa asing: o-ok…, o-ok. Saya duga, Rafi minta difoto. Ketika diperhatikan dekat, matanya sedikit lebih besar daripada mata anak-anak seusianya. Ada ketidaksimetrisan di sana. Selebihnya kita gak punya data.

Kita, misalnya tak memiliki catatan soal darimana Rafi tahu tentang Jokowi, lalu apa yang membuat dia menggandrunginya. Sang Bunda bercerita bahwa hari itu dia bangun lebih pagi daripada biasa. Tanpa sarapan mereka berangkat ke lapangan tempat Jokowi berada. Orang tertuju tak terjumpa. Dalam keadaan lapar mereka memutuskan pulang. Tapi tepat ketika kendaraan umum yang membawa mereka berhenti di kawasan masjid Al-Ittihad, Rafi minta pada ibunya agar mereka turun di sana.

Betul, Jokowi hendak mengikuti salat Jum’at di masjid itu. Rafi dan kedua orangtuanya ikut ngantri bersama khalayak ramai. Orang yang dicarinya lalu melintas. Dia berteriak kencang, “Pak…, Pak…, Pak”. Tak ada sahutan. Rafi berteriak lebih kencang lagi. Masih juga tak ada sahutan. Sang Ayah meraih dia ke gendongan dan berlari mendekat ke arah Jokowi. Rafi terus berteriak. Kali ini Sang Idola menoleh, tersenyum ramah. Di sini drama sesungguhnya berlangsung dalam ketidaktahuan yang menggetarkan.

Jokowi agaknya tak tahu siapa Rafi dan gangguan apa yang dideritanya. “Ada apa to kamu teriak-teriak,” sapa Presiden. Itu sapaan alami seorang tua kepada anak kecil. Saya membayangkan, andai Jokowi tahu seperti apa Rafi, sapaannya mungkin berbeda, belarasanya pasti menyembul. Ini tidak, tidak sama sekali. Sambutan Jokowi kepada Rafi sama seperti apa yang kita bayangkan bakal dia berikan kepada anak-anak lain.

Rafi memandang Jokowi. Jarak antara dua wajah itu tak lebih dari 15 senti. Rafi berkeluasaan menatapnya lekat. Sesudah tumpah semua ingatan atas imaji yang lahir di benaknya saban melihat tampang Jokowi di Youtube atau Televisi, Rafi merebah wajah dengan lega dan damai di pipi Jokowi. Keteduhan memenuhi parasnya. Jokowi pun membiarkan diri mengalami momen magis bermasa 3 detik itu. Menakjubkan.

Sekali lagi, kita tak tahu bagaimana Rafi tiba pada pengidolaan Jokowi. Kita gak perlu lebay dengan menduga seolah Rafi punya indra keenam yang sanggup menelisik hati manusia. Ketokohan Jokowi pasti mekar dari percakapan orang-orang di seputar Rafi.

Secara sederhana kita pantas menduga ibu dan ayah Rafi juga mengidolakan Jokowi. Demikian pun para tetangga mereka. Aneka cerita bersilangan di benak anak berkebutuhan khusus dengan usia 8 tahun itu. Di sana ia menangkap sesuatu yang tak terbantahkan, sesuatu yang sederhana, yang cukup untuk dipahami keterbatasan Rafi.

Tak ada lebih rumit daripada cinta. Sekaligus tak ada lebih mudah dirasakan dan dialami daripada cinta. Itu menyelusup di keterbatasan pikiranmu, di ketidaksanggupanmu, di ketidakpahamanmu. Itu begitu sederhana dan lahir dari pribadi-pribadi sederhana. Di momen itu keterbatasan daya tangkap dan daya ekspresi Rafi berjumpa dengan kesederhanaan orang tertinggi di Indonesia. Mereka, dua cinta, yang merajut satu sama lain ketika Rafi merebahkan kepala ke pipi Jokowi.

Cinta sanggup merengkuh jarak terpanjang, keterpisahan paling mengasingkan, dan kesenjangan paling senjang dari kecerdasan manusia. Dalam cinta tak ada lagi cerdas dan tolol, kaya dan miskin, tua dan muda. Dalam perbedaan paling ekstrim cinta justru menemukan ruang maha luas untuk hadir dan mengekspresikan diri.

Saban polster A atau B mengumumkan hasil sigi terbaru dan berkabar tentang peningkatan 1% atau 5% bagi elektabilitas Jokowi, saya tak tertarik. Kalau cuma di batas 60%, saya tak berselera membacanya. Pun ketika menjangkau angka 70%. Saya cuma menunggu laporan yang menyebut elektabilitas Jokowi-Amin berada di 85%.

Pertama, itu memberi modal besar kepada pasangan “01” untuk menertibkan Indonesia, menjinakkan kaum intoleran.

Kedua, elektabilitas 85% memberi percepatan kepada revolusi mental.

Secara ekonomi, Amerika Serikat tumbuh pesat di bawah kepemimpinan Trump. Tapi rakyatnya menyimpan sekian puja untuk tidak diteriakkan. Ada banyak hal mengganggu. Skandal sex, sekian ratus kasus perdata gerombolan Trump Enterprise, kebencian sepihak kepada kaum tertentu, dan banyak hal lain, membuat rakyat menyarungkan kembali panji-panji, urung mengibarkannya bagi kemegahan Trump. Dia cuma layak memimpin pergerakan ekonomi, tapi jauh dari pantas untuk menjadi kebanggaan Amerika. Secara moral, Amerika Serikat jatuh.

Tidak demikian halnya dengan Indonesia. Tak ada beban apa-apa untuk menaikkan Jokowi setinggi langit di hadapan bangsa-bangsa. Dia tak punya utang kepada masa lalu. Sebaliknya, sejuta alasan tersedia untuk memanggulnya ke panggung utama. Jokowi adalah ekspresi sejati Nusantara. Jokowi adalah rujukan mental rakyat Indonesia.

Dengan mudah kita sodorkan teladan saat menasehati anak-anak, melecut semangat, meneguhkan kejujuran untuk beranak pinak di dada mereka, menegakkan bahu untuk bertarung di kaldera kompetisi. Teladan itu bernama Jokowi.

Siang itu Rafi mengabarkan kepada kita bahwa dia telah melabuhkan kepalanya ke samudra maha luas, kepada pipi yang ramah menyapa kulit-kulit gosong, tubuh berbau busuk, dan kemiskinan paling menusuk.

Kesederhanaan itu bernama cinta, Kesederhanaan itu saling peluk. Rafi tak lupa minta Sang Bunda mengabadikannya dalam foto. Itu kesaksian paling mendebarkan: bahwa pada siang itu, di jalan menuju masjid, ada cinta berdekapan.

Saya iri pada Jokowi, lalu membayangkan diri saya disambut anak-anak lusuh, para lelaki renta, kaum janda terpuruk, yang melabuhkan pandangannya ke mata saya: dampingi kami ke sana.

Ya Tuhan, pakailah aku menjadi cinta.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian
#AkuAdalahCinta170419TDH

Monday, February 11, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: