Radikalisme Positif

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Ada seorang teman..., yang sangat radikal dalam beragama..., bahkan dia dengan tegas menolak hutang yang berbunga.

Sikap radikalnya dalam beragama sangat luar biasa...., dia konsisten menegakkan syariah islam.

Tetapi akhlaknya sangat baik..., sehingga dia bisa merebut hati investor yang mau kerjasama dalam rencana bisnisnya.

Mitranya orang China..., yang mau jadi investor dan sekaligus sebagai off take market...., dan dia tetap dengan pakaian gamis dan janggut.

Mitranya suka pergi ke Karaoke dan minum minuman keras...., namun dia tidak....; dan sangat tegas menolak kalau ditawari.

Tetapi dia bisa menjaga perasaan mitranya..., sehingga mitranya nyaman..., walau berbeda sikap dengannya.

Ada lagi seorang teman Kristiani..., yang punya staf muslim.

Staf nya tersebut pakai celana cingkrang dan berjanggut..., dan staf itu bagian delivery product.

Teman kristiani tersebut senang dengan staf nya..., karena sangat disiplin mengelola bagian delivery..., sehingga delivery product selalu on time..., dan yang lebih penting..., stafnya itu sangat jujur.

Jam istirahat dia tidak makan di luar..., tetapi makan di kantor..., dengan bekal dari rumah.

Dia hanya keluar untuk sholat..., dan sebelum jam istirahat berakhir..., dia sudah di mejanya.

Teman saya tidak terganggu dengan sikapnya beragama..., dan staf nya selalu dapat bonus.

Jika naik Grab Car..., sering juga saya temui driver dengan identitas muslim yang kental..., tapi sangat sopan melayani penumpang.

Kalau diajak bicara politik..., terkesan lebih suka menjawab soal normatif saja..., tidak terpancing emosional bila menyangkut perbedaan pilihan..., jadi saya nyaman dilayaninya.

Semua hal di atas..., adalah sikap radikalisme yang positif dalam beragama.

Siapapun..., apapun agamanya..., harus konsisten dengan keyakinannya beragama tersebut.

Tidak perlu malu atau inferior...., karena agama itu soal pilihan yang sangar asasi.

Semua orang beradab..., harus menghormati sikap dan simbol dalam agama.

Tetapi semua akan menjadi lain..., apabila radikalisme beragama itu masuk ke wilayah politik..., dan menjadi mindset dalam kehidupan sehari hari.

Ini berbahaya..., karena akan sulit beradaptasi dengan mereka yang berbeda.

Hidup ini colourfull...., penuh warna...; artinya...: selagi agama itu ditempatkan dalam ranah privat..., semakin radikal ya semakin bagus.

Semakin banyak rakyat Indonesia radikal dalam beragama..., semakin bagus untuk Indonesia..., karena membuat proses revolusi mental semakin efektif.

Output agama adalah akhlak..., dan itu lebih hebat dari konsep passion dan spiritual emotion.

Sikap radikal beragama dalam ranah privat..., merupakan SDM yang hebat.

Tidak perlu mandor..., karena mereka sadar bekerja itu bagian dari ibadah kepada Tuhan.

Tidak perlu KPK..., karena mereka sadar di manapun Tuhan menjadi saksi atas perbuatannya..., dan hari pembalasan itu akan ada.

Jadi..., kalau Pak Mahfud MD punya program deradikalisasi yang didukung oleh Menteri Agama..., Menteri Pendidikan..., Menteri Dalam Negeri..., Menteri PAN...; itu bukan berarti melarang orang radikal melaksanakan keimanannya..., tetapi melarang menggunakan radikalisme beragama dalam ranah politik.

Mengapa...?

Karena politik itu tidak ada dalam dimensi ajaran agama manapun.

Kalau ada agama mengajarkan politik..., jelas itu bukan agama..., tetapi itu idiologi sekular yang membajak agama..., politik culas.

Itu saja.

Rahayu

(Babo..., edited...)

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Friday, November 8, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: