Qurban

ilustrasi

Oleh : Makinuddin Samin

Kambing tua itu tak peduli dengan genangan air kencing yang berada tepat di depan hidungnya. Ia tetap merebahkan tubuhnya sambil asyik menghibur diri; bermimpi menjadi hewan kurban meskipun ia tahu bahwa umurnya tak lagi muda. Untuk ukuran seekor kambing, ia merasa masih pantas dipilih menjadi salah satu hewan kurban pada bulan Ibrahim. Bulan yang dipilih manusia untuk memperingati ketulusan seorang kekasih Tuhan yang merelakan anaknya untuk disembelih.
.
Ia tak pernah menyangka bahwa Tuhan punya cara sendiri untuk memuliakan binatang peliharaan. Tuhan memerintahkan manusia untuk mengurbankan hewan peliharaan atas naman-Nya dan menyedekahkan dagingnya kepada manusia lainnya. Pengetahuan yang menurutnya terlambat ia dapatkan. Sejak mengetahui bahwa binatang juga bisa mencapai kemuliaan setelah kematian, kambing tua itu bermimpi untuk dapat mencapainya. Dari cerita yang ia dengar, semua binatang peliharaan bisa mencapai derajat mulia apabila terpilih menjadi hewan kurban.
.
Kisah tentang seekor kambing yang menggantikan Ismail, seorang anak laki-laki Ibrahim yang akan disembelih atas perintah Tuhan begitu lekat dalam ingatanya. Kelak ia berharap bisa bertemu dengan kambing itu. Kambing pengganti itu bukan hanya istimewa karena menjadi hewan pertama yang menjadi cikal bakal sejarah kurban yang dianut umat manusia hingga sekarang, namun juga menjadi satu-satunya kambing yang dipilih Tuhan untuk menggantikan tempat Ismail ketika akan disembelih bapaknya. Ia begitu mengidolakan, memuja, dan berharap bisa mengikuti jejak kambing pengganti Ismail. Terpilih sebagai hewan kurban.
.
Namun ia mulai bimbang dengan kondisi tubuhnya. Ia bukan lagi kambing gemuk seperti dua tahun lalu, bukan kambing dengan bulu yang bersih dan tanduk yang mengkilap. Untuk menjadi hewan kurban, manusia akan memilih hewan yang tak sedang berpenyakit, gemuk, bersih, dan bertanduk gagah. Ia sadar bahwa banyak kambing lain yang lebih memenuhi persyaratan dibanding dirinya. Kambing tua itu dihantui oleh pikiran bahwa dirinya tak akan menjadi hewan kurban sepanjang hidupnya. Kadang ia gelisah, bahkan marah tanpa sebab.

*****
Sejak kambing kurus itu satu kandang dengan dirinya, ia merasa tak nyaman. Kambing kurus itu lebih muda dari dirinya dan kelak akan menjadi saingan untuk menjadi hewan kurban. Di matanya si kurus itu juga terlalu banyak mengembik. Ia berharap pemiliknya tak akan memilih si kambing kurus itu.

Kambing tua itu bosan dengan cerita si Kurus tentang kandang miliknya sebelum dipindahkan satu kandang dengan dirinya. Ia juga bosan dengan kisah kambing betina yang selalu menggesekkan tubuhnya di pohon jambu yang selalau diceritakan si Kurus berulang-ulang. Pokoknya ia tak mau mendengar cerita atau kisah tentang kambing lain. Ia hanya ingin mendengar kisah tentang kambing yang menjadi pengganti Ismail. Baginya kambing itu adalah legenda dan teladan bagi kambing-kambing lainnya.
.
Kambing tua itu pura-pura tertidur agar tak mendegar si Kurus mengembik. Ia menunggu sampai kawan sekandangnya itu tertidur. Selama kambing kurus itu belum tidur, ia tak akan bisa melamunkan dirinya bertamu dengan idolanya, kambing pengganti Ismail. Kambing tua itu berharap malam ini si Kurus tak mengembik tentang kambing betina dan pohon jambu. Namun Kambing tua salah, si Kurus justru mulai mengembik.
.
“Kambing tua.” Si Kurus itu memulai.
.
“Jangan mulai lagi Kurus.” Kambing tua menjawab ketus.
.
“Mengapa ketus begitu?”
.
“Aku sedang tak bersemangat mendengar suaramu.” Kambing tua melengos.
.
“Kambing tua, aku tahu kamu sedang bermimpi menjadi hewan kurban.” Kurus mulai memancing.
.
“Tahu dari mana?” Kambing tua penasaran.

“Semua penghuni kandang besar ini tahu tentang mimpimu itu.” Si kurus menjawab sekenanya.
.
“Kalau semua kambing tahu, memang kenapa?” Kambing tua itu mulai jengkel.
.
“Kalau itu benar, sebaiknya kamu perbaiki dulu pengetahuanmu tentang kurban.” Si kurus memanasi. "Amal, laku tanpa pengetahuan sama dengan menjelajah dalam gulita. Kau akan tersesat, Saudaraku," tegasnya.
.
“Kurus! aku cukup punya pengetahuan tentang kisah Ibrahim, Ismail, dan kambing yang menjadi pilihan Tuhan itu.” Saking kerasnya, suara Kambing tua itu terdengar sampai ke dalam rumah pemilik kandang.
.
“Bukan kisahnya yang aku maksud, tapi makna kurbannya.” Si kurus menjawab tenang.
.
“Kurus! Sebaiknya jaga mulutmu atau aku robek perutmu dengan tanduk tuaku.” Kambing tua menghardik dengan suara tinggi karena merasa diremehkan.
.
“Sabar Kambing Tua.” Si Kurus tidak kehilangan ketenanganya meskipun dihardik.
.
“Aku minta jaga mulutmu!” Kambing tua itu seolah akan meloncat, menanduk si Kurus.
.
“Baik, aku akan diam tapi jawab dulu pertanyaanku.” Si Kurus seperti sengaja membuat Kambing tua tambah penasaran.
.
“Cepat katakan!” Suara Kambing tua membuat penghuni kandang besar mengembik serentak, mereka memprotes suara kambing tua yang terlalu keras.
.
“Mengapa Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail?” Pertanyaan Kambing kurus itu diembikkan dengan suara lembut. Kambing tua itu meringis senang karena merasa bisa menjawab pertanyaan si Kurus.
.
Kambing kurus berlalu, ia memutar tubuhnya untuk menghindari kotoran kambing tua yang berceceran di atas rumput kering. Ia meninggalkan si Kambing Tua sendirian dengan perasaannya.

*****
Kambing tua merasa berada di ruang tanpa arah, dinding tanpa batas. Seperti memasuki dunia tanpa warna, tanpa rupa. Hening tanpa suara, hampa tanpa wujud, lembut tanpa jasad. Seluruh kesadaranya tak bisa ditandai. Tak ada satupun ingatan tentang masa lalu yang terlintas dalam pikiranya, juga angan tentang masa depan. Semua kosong, termasuk di mana ia berdiri. Suwung.
.
Tubuhnya tak berwujud, namun ia merasa lebih nyaman, bebas tanpa beban. Tak ada lagi nyeri di pinggangnya dan ingus yang selalu merembes di hidungnya. Tak ada sesal, duka, dendam, harapan, keinginan, dan semua yang menjadi bebannya selama ini. Ia merasa merdeka.
.
Kambing tua itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia masih hidup. Ingatanya pelan-pelan mulai hadir, Kambing tua itu mulai ingat tentang kandang yang jorok. Si Kurus yang suka mengembik dan cerita yang berulang setiap malam tentang kambing betina dan pohon jambu. Kambing tua itu juga ingat tentang mimpinya untuk bertemu dengan kambing pengganti Ismail. Namun sungguh aneh, perasaanya tentang semua itu telah berubah. Tak ada lagi benci terhadap si Kurus, tak juga tentang mimpi menjadi hewan kurban. Pikiran, hati, dan kesadaranya sebagai hewan peliharaan telah hilang. Kambing tua itu hanya merasa bahwa dirinya adalah pribadi yang lebur bersama ruang kosong tanpa warna dan tanpa arah.
.
Ruang kosong itu tiba-tiba berubah warna. Tempat di mana ia berdiri telah hadir ribuan, jutaan bahkan ia sendiri tak bisa memperkirakan berapa jumlah kambing di hadapannya. Semua kambing-kambing itu seolah menyapanya, melemparkan senyum persaudaraan. Semua wajah bercahaya, memacarkan kebahagiaan. Mereka hanya tersenyum, tak ada suara mengembik. Namun sungguh aneh, ternyata semua kambing yang hadir di depanya memiliki ciri dan bentuk yang sama. Namun ia tak heran, meskipun tak menemukan jawaban atas keanehan itu. Kambing tua membalas senyum mereka sambil melemparkan pandangan melintasi barisan kambing di depanya.
.
“Saudaraku, salam sejahtera untukmu.” Seekor kambing bermata jernih maju, keluar dari barisan sambil menyapa dengan suara yang begitu halus. Kambing tua itu tersenyum, menunggu kalimat berikut dari kambing yang menyapanya.
.
“Perkenalkan, aku adalah kambing pengganti Ismail.” Suara kambing bermata jernih itu sangat datar. Sedikit pun hati kambing tua itu tak beriak. Entah kekuatan apa yang mengalir dalam kesadarnya, kehadiran idolanya itu tak membuat perasannya meluap, gembira apalagi ingin menubruknya. Ia tetap berdiri di tempatnya dengan perasaan dan hati yang tenang. Kambing tua itu tersenyum.
.
“Apakah kau masih berharap menjadi hewan kurban saudaraku?” Pertanyaan kambing bermata jernih itu tiba-tiba membuka katup keinginan yang hilang sejak dirinya berada di ruang tanpa warna dan tanpa arah. Tiba-tiba keinginan untuk menjadi kambing kurban berloncatan dalam pikirannya.
.
“Tenangkan pikiramu saudaraku, kau tak akan sanggup mendengarkanku kalau pikiranmu berloncatan.” Kambing tua itu kaget bukan main, kambing bermata jernih itu seolah tahu apa yang melintas di pikirannya.
.
“Masih, aku masih ingin menjadi hewan kurban.” Kambing tua itu menjawab tergagap.
.
“Apakah kau telah memikirkan jawaban dari pertanyaan si Kurus?” Kambing bermata jernih itu mengingatkan lagi tentang pertanyaan si Kurus.
.
“Sudah.” Kambing tua menjawab tegas. Ia merasa semua kambing tahu apa jawaban dari pertanyaan si Kurus itu. Mengapa kambing bermata jernih itu merasa perlu untuk mengulang pertanyaan si Kurus di hadapan begitu banyak kambing lainnya. Terlintas dalam pikiran kambing tua, jangan-jangan pengetahuannya tidak cukup untuk memahami makna kurban. Apakah si Kurus itu benar bahwa dirinya perlu memperbaiki pengetahuan tentang kurban?
.
“Menurutmu, mengapa Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya?” Meskipun pertanyaan seperti itu pernah didengar dari si Kurus, namun ketika diucapkan oleh kambing bermata jernih di hadapanya, pertanyaan itu berasa dalam, berat, dan membuat bulunya berdiri. Entah karena pengaruh tekanan suara kambing bermata jernih atau pertanyaan itu memang bukan soal mudah. Kambing tua itu menarik nafas panjang, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa kalimat yang akan diucapkan merupakan jawaban yang benar.
.
“Tuhan ingin menguji kepatuhan dan ketulusan Ibrahim sehingga diperitahkan untuk menyembelih Ismail.” Jawaban itu akhirnya meluncur dari mulut kambing tua. Sejauh ini ia yakin bahwa jawaban itulah yang ingin didengar oleh kambing bermata jernih dan semua kambing yang hadir di hadapannya.
.
“Apa menurutmu Tuhan perlu menguji Ibrahim untuk mengetahui kepatuhan dan ketulusan makluknya?” Kambing tua tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan kedua padahal yang ia harapkan pujian terhadap jawaban yang diberikan. Pertanyaan itu membuat nalarnya buntu. Kambing tua berharap bahwa pertanyaan itu akan dijawab sendiri oleh kambing bermata jernih.
.
“Saudaraku, Tuhan tidak perlu menguji makluknya untuk mengetahui apapun, baik yang nampak atau yang tersembunyi. Termasuk untuk mengatahui kepatuhan dan ketulusan Ibrahim terhadap perintah-Nya.” Kalimat kambing bermata jernih itu mengalir tenang. "Sebab Pengetahuan Tuhan meliputi semua hal yang belum terjadi dan yang sudah terjadi, lanjutnya.
.
“Lalu untuk apa Tuhan memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya?” Kambing tua itu penasaran.
.
“Selama puluhan tahun Ibrahim berharap mendapat anak laki-laki dari rahim Hajar, Tuhan akhirnya memberikan Ismail. Anak laki-laki yang sangat dicintai, dibanggakan, dan kepada Ismail harapan Ibrahim diletakkan.” Kambing tua itu menyimak setiap kata yang keluar dari mulut kambing bermata jernih.
.
"Apa kaitannya dengan perintah penyembelihan anak manusia." Kambing tua tak sabar.
.
“Ibrahim itu kekasih-Nya. Tuhan berkehendak mengajarkan jalan untuk mencapai-Nya dengan cara keluar dari kubangan ego, kebanggaan, dan harapan kepada Ismail. Keakuan, kebanggaan terhadap diri, dan harapan kepada dunia yang berwujud dalam sosok Ismail hanya akan menghambat jalan Ibrahim mencapai-Nya.” Kambing tua masih belum paham maksud kambing bermata jernih itu.
.
“Apakah Tuhan cemburu kepada Ismail, karena cinta Ibrahim yang begitu besar kepada anak laki-lakinya itu?” Kambing tua memberanikan diri untuk bertanya.
.
“Tuhan terlalu Perkasa dan Agung untuk mencemburui Ismail karena mendapat curahan cinta Ibrahim. Tuhan tidak perlu cemburu untuk mendapat cinta makluknya. Bahkan jika dunia ini berisi kebencian kepada-Nya, Tuhan tak akan bergeser seincipun sebagai Yang Maha Luhur.” Kambing bermata jernih itu menjawab dengan senyum yang tidak pernah habis.
.
“Mengapa Ibrahim harus melepaskan ego, kebanggaan, dan harapan kepada Ismail?” Pertanyaan Kambing dipenuhi rasa penasaran.
.
“Mendaki ke jalan Tuhan itu sangat berat, saudaraku. Ego, kebanggaan, dan harapan hanya akan menjadi beban. Semuanya itu bersarang di dalam pikiran dan hati. Padahal jalan Tuhan hanya bisa dilalui dengan pikiran dan hati yang jernih, melepaskan semuanya.” Penjelasan kambing bermata jernih itu bergema dalam kesadaran Kambing Tua.
.
“Lalu apa hubungan antara jalan menuju Tuhan dengan perintah penyembelihan Ismail?” Kambing tua mulai bisa bertanya tanpa beban.
.
“Perintah menyembelih Ismail itu simbol, penanda dari nasehat Tuhan kepada Ibrahim.” Kambing tua merasa jawaban tersebut mirip teka-teki.
.
“Apa maksudnya?” Kambing tua tidak mau menunggu, ia bertanya cepat.
.
“Anak manusia merupakan salah satu sumber cinta, egoisme, kebanggaan, dan harapan. Menyembelih Ismail adalah simbol pelepasan dari jeratan cinta, egoisme, kebanggaan, dan harapan terhadap dunia.” Kambing tua itu masih belum sepenuhnya memahami maksudnya.
.
“Apakah kau masih belum paham saudaraku?” Kambing Tua itu gelagapan mendengar pertanyaan kambing bermata jernih. Kambing Tua itu hanya bisa menggoyangkan ekornya sebagai tanda mengiyakan.

“Bagini saudaraku, anak itu penanda dunia. Sedangkan Tuhan hanya bisa dicapai dengan melepaskan ikatan dunia dari pikiran, hati, dan kesadaran. Perintah menyembelih Ismail merupakan nasehat Tuhan agar Ibrahim mampu melepaskan ikatan dunianya untuk bisa mencapai jalan-Nya.” Kambing bermata jernih itu menjelaskan dengan nada yang stabil, jernih, dan tanpa tekanan.
.
“Apakah berkurban hewan ternak di bulan Ibrahim juga memuat nasehat yang sama?” Kambing Tua masih melanjutkan pertanyaan.
.
“Betul, saudaraku. Hewan ternak adalah perlambang kekayaan, penanda kehidupan dunia, dan egoisme. Memotong hewan kurban adalah simbol pelepasan terhadap dunia.”
.
“Kalau begitu kurban bukan semata tentang daging, otot, kulit, dan tulang yang akan disedekahkan?” Kambing tua itu bertanya seperti cempe, anak kambing yang mengembik pada induknya.
.
“Betul, tradisi kurban yang diwariskan oleh Ibrahim kepada manusia adalah nasehat untuk melepaskan kecintaan, egoisme, kebanggaan, dan harapan kepada dunia. Berkurban itu tentang melepaskan semuanya; dan menyisakan Tuhan semata, sebagai satu-satunya Sang Sumber. Berkurban adalah simbol bertauhid, Saudaraku!” Kalimat terakhir kambing bermata jernih itu diikuti dengan menghilangnya barisan kambing dari mata kambing tua.

*****
Genangan air kencing di samping badannya itu menguar, membuat kambing tua terbangun dari tidurnya. Bau pesing begitu kuat memasuki hidungnya. Matanya jelalatan mencari kambing bermata jernih, barisan kambing, dan ruang tanpa warna-tanpa batas. Semua telah menghilang.
.
Akhirnya ia menyadari bahwa semua yang dialami beberapa saat lalu hanya mimpi. Kambing Tua menemukan kambing Kurus masih tergolek tidak jauh dari tempatnya tidur. Entah dorongan apa di dalam hatinya, Kambing Tua itu merasa dekat dengan si Kurus. Tiba-tiba cintanya meluap kepada si Kurus; kambing yang tadi malam dibencinya, sekarang begitu disayanginya. Kambing tua itu mendekati tubuh si Kurus. Ia pandangi lekat-lekat wajah si kurus.
.
Entah mengapa, hati kambing tua itu gelisah. Seperti ada yang hilang, tapi apa. Ia terus memandang wajah si Kurus. Kambing tua tiba-tiba melonjak mundur. Ia melihat wajah si Kurus sama dengan wajah kambing bermata jernih yang ia temui dalam mimpinya. Terlintas dalam pikiranya, apakah si Kurus ini jelmaan kambing bermata jernih. Lintasan pikiran itu membuatnya semakin cinta kepada si Kurus. Ia bertekad akan menawarkan perlindungan kepada si Kurus, bahkan kalau mau si Kurus akan diangkatnya menjadi saudara. Kambing tua itu menangis, bercampur aduk antara bahagia dan penyesalan. Menyesal, mengapa ia telat menyadari bahwa si Kurus sebenarnya membawa pengatahuan untuknya.
.
Tiba-tiba tangisnya berubah menjadi jeritan yang menyayat ketika Kambing Tua menyadari bahwa si Kurus telah dibunuhnya tadi malam. Kambing yang sekarang ia cintai itu betul-betul mati karena tandukannya.
.
Tadi malam, sebelum kelelahan dan tertidur. Kambing Tua itu berpikir bahwa si Kurus akan menjadi saingannya menjadi hewan kurban pada hari Ibrahim. Membunuh adalah satu-satunya jalan menghilangkan saingan. Setelah memastikan si Kurus tertidur, diam-diam Kambing Tua mendekati si Kurus dan menghujamkan tanduknya ke dalam perut si Kurus. Darah mengalir dari perut si Kurus. Tidak ada gerak, tidak ada nafas yang mengalir. Si kurus dipastikan mati akibat tandukan.
.

Sumber : Status Facebook Makinuddin Samin

Saturday, August 1, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: