Qurban dan Covid

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Salah satu teman saya yang juga seorang ustadz mengemukakan pendapat pribadinya, yaitu tahun ini sebaiknya kita umat Islam tidak usah mengadakan ibadah qurban dan haji. Dan sebagai gantinya, uangnya diorientasikan semua untuk upaya penanganan korban Covid 19.

Sebagai sebuah cetusan ide, seru juga sih. Apalagi dia membuat kalkulasi hitung-hitungan kasar. Kalau duit buat haji kita bulatkan 40 juta per-orang, lalu dikalikan 200 ribu orang, maka akan terkumpul 8.000.000.000.000 yaitu angka 8 dengan jumlah nol 12 biji di belakangnya alis 8 Trilyun.

Belum lagi uang dari konversi hewan Qurban se-Indonesia, semua kompak tidak usah beli hewan Quran, tapi uangnya dikumpulkan secara nasional untuk membiayai penanganan Covid-19. Pasti akan sangat banyak uangnya.

Sambil bincang santai, saya menanggapi begini : Ide antum itu luar biasa sekali, meski pun minimal ada ada dua tantangan utama.

1. Kendala Pertama

Bagaimana caranya bikin umat Islam se-Indonesia ini kompak tidak berqurban dan tidak berhaji. Kalau sekedar tidak haji, kompak sih, sebab pemerintah Saudi Arabia menutup rapat negaranya dari jamaah haji luar Saudi.

Tapi bagaimana caranya agar uang 40-an juta dari 200 ribuan jamaah itu bisa terkumpul di satu rekening, pasti tidak mudah urusannya.

Begitu juga dengan urusan libur dulu tahun ini tidak menyembelih hewan qurban. Saya tidak yakin umat Islam mau melakukannya. Kalau pun mereka punya uangnya dan tidak berqurban dulu, yakinkah mereka dengan ikhlas mau mentransfer uangnya ke satu rekening nasional?

Saya kok kurang yakin, ya ustadz.

2. Kendala Kedua

Anggaplah misalnya saja seluruh kiyai, ulama, tuan guru, ajengan, ustadz, dan pimpinan agama kompak sepakat ingin mengumpulkan dana besar untuk penanganan korban Covid-19 ini.

Misalnya ada keajaiban perdamaian antara kadrun dan non kadrun, semua kompak menuju ke pengumpulan dana umat. yang mana sumber utama dari hasil konversi dana haji dan Qurban, tetap saja masih ada kendala kedua, yaitu bagaimana caranya biar anggaran sebesar itu bisa terserap secara efektif 100%.

Presiden Joko Widodo menyoroti anggaran kesehatan saat pandemi Covid-19 yang penyerapannya baru 1,53% dari Rp75 triliun.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan belanja kesehatan untuk penanganan pandemi Covid-19 tidak hanya berada di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

So, jadi anggarannya sih sudah ada. 75 Trilyun itu yang di satu Kementerian saja, belum dari lain-lainnya. Kalau ditambahkan sumbangan dari pengalihan dana haji dan qurban umat Islam, pasti lebih berlimpah lagi.

Tapi kan masalahnya tidak lantas selesai meski duitnya banyak. Saya sendiri tidak tahu, kendalanya apa dan bagaimana birokrasi penggunaannya.

Bahkan meski Bapak Presiden sudah meminta kementerian Kesehatan untuk melakukan percepatan dengan cara 'extraordinary'. Tapi bagaimana caranya, belum ada juklak dan juknis atau pun payung hukumnya. Lagi-lagi saya tidak tahu dimana macetnya.

Tapi yang ingin saya katakan adalah hitung-hitungan di atas kertas seringkali tidak sesederhana di lapangan. Tidak mentang-mentang kita punya uang banyak karena kita nya tajir melintir, ltidak lantas segala yang kita inginkan bisa terlaksana saat ini juga.

So, lupakan saja soal mengkonversi dana Qurban untuk menangani covid-19 kalau belum jelas juga bagaimana cara menyerap dananya. Mau Qurban ya silahkan Qurban saja, mau nyumbang korban Covid ya nyumbang aja.

Maka ustadz teman saya itu mengangguk dan bilang: Benar juga ya antum.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, July 12, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: