Quick Count Dan Statistik

ilustrasi

Oleh : Septin Puji Astuti

Kemarin ditanya kolega mengenai video yang beredar. Saya bilang, nunggu nanti aja setelah KPU selesai menghitung aja.

Saya statistician yang sekarang merambah ke envirnmental studies. Aslinya saya dijewer sama dosen saya karena ambil S2 & S3 tidak di statistik. Ya, sudah diarahkan baik-baik menjadi statistician terus saya malah saya melirik lainnya.

Aslinya, sejak dulu melirik Environmental Science di UGM (geografi) karena lebih ke Fisika. Tapi karena saya lebih seneng Matematika, saya pilih Statistika saja karena masih bisa dolanan komputer.

Balik lagi,
selama ini saya gak komentar mengenai keilmuan saya. Sekarang ingin promosi aja.

Kalau belajar di jurusan Statistik bisa apa? Ya bisa analisis data. Kalau jaman now kan Data Scientist yang jadi profesi keren itu lho. Gak kalah dengan anak Teknik Informatika lho karena di hampir semua jurusan Statitik ada Statistika Komputasi. Masuk bidang minat ini gak harus pinter sebenarnya, lha wong saya pernah IPK satu koma. Tapi harus kuat codingnya. Itu buktinya setelah saya fokus ke Komstat, IPK di atas 3,5. Ya, kemampuan matematika, coding, dan minat plus betah tidak tidur malam 

Selain Komstat, ada statistika bisnis dan ekonomi juga ada statistika kesehatan (biostat). ITS membuka Jurusan Statistika Bisnis lho. Kampusnya di bundaran sana. Bu Dwi Endah Kusrini dosennya.

Kalau saya nyasar ke Statistika lingkungan aslinya dulu ketika S2 ingin membuat model pencemaran udara. Eh, malah kesasar ke Green Product Design yang analisisnya ya tetep statistik. Statistik yang sederhana sekali.

Untuk membahas statistik sederhana seperti gambar ini, bisa jadi bahasan panjang lho. Sederhana sekali, tapi malah bisa menjawab segala kerumitan. Makanya, saat menguji skripsi mahasiswa, yang suka modelling rumit sering saya minta kembali menampilkan analisis deskriptif, scatterplpt plus analisis korelasi dan buka teori dan bongkar indikator ketika survey untuk memahami kekuatan skripsinya. Makanya, kalau praktisi statistician itu paham ilmu lainnya itu sangat wajar karena sebenarnya sebelum mengolah data, pemahaman permasalahannya harus matang dulu.

Bongkar-bongkaran metodologi statistika saya kira sangat diperlukan daripada bongkar- bongkaran siapa penyandang dana. Kalau metodologinya benar, siapapun penyandang dananya gak masalah. Kalaupun lembaga survey itu dibayar oleh konsultan, konsultan kan maunya mendapat data yang benar. Bukan data Asal Bapak Senang (ABS). Ngamuk konsultannya kalau dikasih hasil analisis yang tidak menggambarkan fakta. Dari data itu baru kemudian konsultan mengusulkan strategi ke tim pemenangan. Gitu kan?

Dah, gitu saja dulu. 
Sugeng enjing, sederek sedoyo.

Sumber : Status Facebook Septin Puji Astuti

Saturday, April 20, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: