Qadhla Sholat, Qunut dan Khilafiyah

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dulu ketika bercita-cita kuliah S1 di LIPIA, saya berharap akan diberi ilmu yang semakin memantabkan pandangan-pandangan saya, baik dalam masalah aqidah atau syariah.

Misalnya dulu saya kalau shalat itu tangan tarok di dada dan kedua kaki mekangkang lebar sambil terus menerus cari-cari mata kaki teman di kanan kiri tanpa henti.

Karena saya sering kalah debat, maka niat saya kuliah di LIPIA adalah mau menambah amunisi dan peluru, biar semakin kuat di hadapan lawan.

Eh, ternyata saya keliru.

Di LIPIA saya malah jadi bingung sendiri. Sebab saya malah dikenalkan dengan ilmu perbandingan mazhab. Urusan tangan ini harus tarok dimana dalam shalat, ternyata khilafiyahnya segunung.

Alih-alih saya nambah amunisi, yang ada saya dijejali berbagai macam perbedaan pendapat para ulama.

Masalah yang saya kira sudah final, ternyata di LIPIA jadi mentah lagi. Contohnya qunut Shubuh yang sudah 20 tahun saya tinggalkan karena bid'ah lantaran haditsnya dhaif, lho kok saya malah menemukan hal yang sebaliknya, hasilnya kok jadi shahih?

Dan yang menshahihkan bukan kelas ecek-ecek, tapi sekelas Imam Al-Baihaqi lho. Beliau punya kitab As-Sunan Al-Kubro. Yah, terus teranf saja, sebenarnya saya juga baru tahu ada kitab ini.

Sebelumnya saya tahunya cuma Shahih Bukhari dan Shahih Muslim doang. Ternyata ada ratusan dan ribuan kitab hadits.

Dan Bidayatul Mujtahid, kitab fiqih pegangan selama kuliah 4 tahun, ternyata isinya khilafiyah semua, mulai dari urusan air sampai ngatur negara. Dan semua pakai dalil dari Quran dan Sunnah.

Ternyata saya dicuci otak, kuliah 4 tahun di LIPIA saya berubah dari yang tadinya cuma tahunya dalil itu hanya Quran Sunnah, menjadi punya banyak tambahan, yaitu Ijma', Qiyas, Mashalih Mursalah, Istishhab, Sadd Zari'ah, 'Urf, Syar'u Man Qablana, Qaul Shahabi dan seterusnya.

Ternyata tidak mentang-mentang suatu hadits itu shahih, langsung bisa diamalkan. Tapi masih perlu diproses ini dan itu.

Ternyata saya yang dulunya sering merasa sudah paling benar sendiri, berubah menjadi orang yang menerima adanya perbedaan, khususnya di antara 4 mazhab yang besar.

Sekarang sulit bagi saya menyalahkan suatu pendapat, apalagi mencaci makinya. Meski saya tidak sejalan dengan pendapat itu, tapi saya kudu periksa dulu, jangan-jangan justru itu pendapat jumhur.

Sebaliknya, pendapat yang saya pakai selama ini, jangan-jangan malah pendapat minoritas, atau malah tidak ada yang berpendapat seperri saya. Jangan-jangan saya cuma taqlid dari tokoh ustadz yang ternyata bukan ahli fiqih. Terus terang ini sering terjadi.

Dan salah satunya adalah pandangan saya yang keliru selama ini, bahwa shalat yang terlewat tidak ada qadha'-qadhaan. Cukup istighfar saja dan banyakin shalat sunnah.

Ternyata 4 mazhab sepakat wajib diqadha' shalat. Dan dalilnya seabreg. Sulit memungkirinya kalau melihat faktanya.

Malah yang bilang tidak ada qadha' shalat justru bukan ulama fiqih. Mereka sebenarnya tidak punya kompetensi untuk berfatwa dalam ilmu fiqih.

Disitu saya bengong cukup lama. Semua pemahaman keislaman saya selama ini jadi jungkir-balik dan berantakan. Dan semua itu malah saya temukan di LIPIA di Fakultas Syariah Jurusan Perbandingan Mazhab.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, January 22, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: