Putih Adalah Kita

ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Mungkin tidak banyak yang menyadari publikasi goresan tangan bertinta biru Jokowi di secarik kertas putih yang mengajak pendukungnya berbondong-bondong ke TPS untuk mencoblos pasangan 01 yang berbaju putih-putih memiliki arti yang sangat penting yaitu keberhasilan dalam merebut sebuah SIMBOL.

Warna putih yang selama ini diasosiasikan sebagai warna favorit dari sebagian pendukung 02, yang melekat di tubuh dan menegaskannya sebagai bagian dari atribut politik identitas, telah sukses dilucuti dari tangan mereka. Dengan demikian selain merebut makna warba putih, ada 1 hal terlebih dahuku sukses direbut dan diberi makna yang baru yaitu salam jari telunjuk menjadi Salam Jempol. Apabila dikapitalisasi, salam jari telunjuk akan makin menebalkan politik identitas. Setelah resmi memperoleh no.1, Jokowi memilih untuk menggantinya dengan Salam Jempol yang memberikan pesan politik itu asyik dan menggembirakan.

Niat dari sementara kelompok untuk mengulangi membuat suasana Pemilu seperti Pilkada DKI, yang memobilisasi massa dengan pakaian putih-putih yang menampilkan citra kesucian dan ketulusan meskipun di dalamnya terbungkus jiwa-jiwa yang marah, benci dan dendam hampir bisa dipastikan gagal total. Dengan alat apa lagi mobilisasi massa serta penggiringan opini dilakukan saat 2 alat yang sangat efektif untuk menarik simpati dan mempengaruhi massa berada di pihak lawan ?

Lucu juga kan kalau ada instruksi berpakaian hitam-hitam. Nanti banyak yang mengira rombongan massa tersebut akan pergi melayat bukannya berada di sekitar TPS. Apesnya lagi ketika berpakaian putih-putih, maka akan dianggap sebagai massa pendukung 01 sebab bukankah Jokowi mengajak pendukungnya untuk berpakaian putih-putih ?

Maju kena mundur pun juga kena. Mau berpakaian seperti pasangan 02 jelas berat di ongkos. Padahal kesempatan untuk show of force justru pada saat menjelang pencoblosan dan selama waktu pencoblosan.

Hal yang paling berat ketika terbiasa percaya pada fitnah dan kampanye hitam yang ditujukan kepada Jokowi, ikut-ikutan membenci Jokowi sebab panutannya juga membenci, apa saja yang berbau Jokowi akan sedapat-dapatnya dihindari termasuk salam jempol dan mungkin saja pada hari H pencoblosan, pakaian putih mereka tanggalkan dan memakai pakaian dengan warna selain putih.

Simbol telah berhasil direbut dan dimenangkan. Warna putih di tangan Jokowi tidak lagi dimaknai sebagai warna yang menjadi bagian dari politik identitas melainkan warna yang mencerminkan ketulusan, kedamaian, kesucian dan kesederhanaan karena itu tidaklah berlebihan apabila Jokowi berpesan bahwa putih adalah kita.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu Nugroho

Thursday, March 28, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: