Purwodadi, Kota Tanpa Imajinasi

Oleh: Kajitow Elkayeni

Ketika pulang kampung ke Purwodadi, tidak banyak perubahan saya lihat. Barangkali hanya soal, anak-anak kecil yang dulu sudah tidak ada. Mereka telah tumbuh dewasa, bahkan sudah punya anak kecil. Atau jalan dusun yang berubah menjadi beton semua. Juga budaya konsumerisme yang kian kuat menjangkiti. Di dusun, orang mulai gemar belanja, bahkan sudah biasa membeli sayuran yang sebenarnya bisa ditanam sendiri tanpa perlu merawatnya. Wi-fi ada di mana-mana. Begitu juga dengan tempat karaoke. Orang-orang sedang tarjangkiti demam karaoke atau yang terbaru, aplikasi Smule.

Ketika saya pulang, justru saya yang merasa tertinggal. Tapi secara umum, Purwodadi tidak berubah. Terutama untuk hal-hal positif.

Saya kira memang tidak ada kata paling pas untuk mewakili Purwodadi. Kabupaten yang serba tertinggal dalam segala hal ini memang tak memiliki ciri khas. Jalan-jalanlah ke kota Purwodadi, lalu simpulkan. Soal kuliner? Kerajinan tangan? Obyek pariwisata? Perekonomian? Kebudayaan? Tata kota? Tidak ada satu halpun yang bisa dibanggakan. Yang terkenal dari Purwodadi adalah dua hal, kabupaten eksportir buruh kasar dan pembantu terbesar di dunia.

Dan kabar terbaru menyebutkan, bupati perempuan terpilih kali ini juga tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan mungkin lebih buruk. Bupati terbaru itu bahkan tak punya imajinasi bagaimana mengatur wilayahnya. Kabar miring soal kebobrokan aparatur pemerintahan tetap sama. Tanyalah pada calon PNS, berapa biaya masuknya? Keponakan saya yang seorang perawat memberikan gambaran angka 45 juta. Hanya untuk jadi perawat di RSUD. Kabar seperti itu tentu off the record sifatnya. Mengusut suap-menyuap di Purwodadi harus siap membuat penjara baru. Karena jika hendak diungkap semua, penjara tidak akan muat. Banyak sekali oknum bermain di segenap lini. Purwodadi tidak saja kehilangan imajinasi, tapi juga jati diri.

Dalam sejarah, Purwodadi tidak memiliki peranan tunggal, apalagi mutlak. Jauh sebelum jaman Majapahit, memang ada sebuah kerajaan di Purwodadi, yang, bahkan pihak kabupaten sendiripun tidak mengetahuinya secara detil. Atau jika mereka tahu, mereka tidak melakukan apa-apa untuk menjadikannya basis jati diri. Kerajaan itu telah jadi mitos sepenuhnya. Jangankan bekasnya, sumber ceritanya saja sudah dikaburkan. Jika ada barang purbakala yang ditemukan, orang-orang menjualnya pada kolektor. Kemiskinan jauh lebih penting dari warisan kebudayaan.

Ketika jaman Majapahit akhir, Purwodadi juga berada di pinggir kekuasaan. Ada beberapa tokoh penting seperti Ki Ageng Tarub, Bondan Kejawan sebagai penerus trah Brawijaya V. Kemudian dilanjutkan oleh Ki Ageng Selo sang penangkap petir, di jaman Demak dan Mataram Islam. Tapi tokoh-tokoh itu tetap sunyi. Sama seperti halnya kuburan mereka yang jarang dikunjungi. Purwodadi dikenal sebagai daerah Mancanegara. Ia wilayah yang berada di luar wilayah kekuasan Mataram. Daerah kekuasaan bersama oleh beberapa pemerintahan.

Purwodadi antara ada dan tiada.

Membicarakan Purwodadi adalah menyebut kata yang bermakna sia-sia. Lihatlah bagaimana mereka membangun jalan, menata taman dan pohon, membuat saluran irigasi dan drainase kota. Purwodadi kehilangan ide kreatif. Orang-orang kreatif memilih pergi ke luar. Karena mereka tak mungkin bisa hidup di tanah gersang itu. Maka yang tersisa adalah wadag tanpa jiwa. Kekosongan kreatifitas itu menjangkiti segenap lini. Orang-orang kritis pergi, atau berubah dan beradaptasi. Kabupaten terluas nomor dua di Jawa Tengah itu sakit kronis dan pikun. Tak ada orang berteriak, tak ada yang mengingatkan untuk minum obat. Semua orang menerima keadaan dengan diam.

Tentu muncul keinginan dari sanubari penduduknya, bagaimana caranya membangkitkan raksasa yang tertidur itu? Kabupaten miskin itu mengalami persoalan serius dalam soal perekonomian. Mengingat tanahnya yang kurang subur, pengangguran yang membludak, hal pertama yang perlu dibangun adalah tulang perekonomian.

Bupati baru, saya tidak yakin dia mampu, mestinya punya gagasan luar biasa. Purwodadi itu sakit parah. Tidak mungkin bisa sehat hanya dengan dikompres. Maka untuk memperkuat tulang perekonomian itu, para investor harus didatangkan, kemudahan birokrasi harus diwujudkan, tenaga handal harus disiapkan. Purwodadi memiliki tenaga kerja melimpah dengan upah yang murah. Harga tanah juga lebih miring sehingga mungkin untuk mendirikan pabrik luas. Tentunya dengan memperbaiki sarana dan prasarana perhubungan juga.

Dari tulang perekonomian ini akan merembet ke daerah syaraf pendidikan, aliran darah kebudayaan, kulit lokalitas dan kepariwisataan. Purwodadi di masa depan tak perlu lagi mengekspor buruh kasar dan pembantu ke luar wilayah. Tenaga ahli dan orang-orang kompeten yang menggantikannya. Kalau perlu, orang-orang yang harus datang ke Purwodadi, sebagai pekerja atau wisatawan. Tidak perlu lagi ada nada minor dan keminderan. Purwodadi sudah ada ribuan tahun lalu dan memiliki kedaulatan, tapi tertinggal oleh daerah-daerah yang baru muncul. Daerah-daerah yang dulu mungkin hanya tanah tegalan tak bertuan. Purwodadi menjadi kota tanpa imajinasi. Sungguh menyedihkan.

Tapi apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah baru Purwodadi? Tidak banyak. Barangkali sama seperti pendahulunya, mereka sibuk berkaraoke, eh, maksud saya berdoa. Subhanallah...

 

PS: Penulis lahir dan besar di Purwodadi, tinggal di Bogor.

 

(Sumber: Status Facebook Kajitow)

Saturday, July 16, 2016 - 16:00
Kategori Rubrik: