Puncak dan Bisnis Nggebleh

ilustrasi

Oleh : Sumanto Alqurtuby

Siapa yang tidak kenal Puncak? Meskipun ada banyak puncak di Indonesia, termasuk puncak asmara dan puncak kekuasaan, tapi setiap kali menyebut kata "puncak", orang selalu tertuju ke "kawasan Puncak" di Bogor / Jawa Barat. Popularitas nama Puncak bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di mancanegara, wabil khusus Timur Tengah, wabil khusus lagi Arab Timur Tengah, wabil khusus lagi Jazirah Arab.

Sangking terkenalnya nama "Puncak" ini, (sebagian) masyarakat Arab hafal diluar kepala kata "Puncak" meskipun sering tidak tahu nama lokasi, daerah, provinsi tempat Puncak tersebut. Sangking terkenalnya lagi di daerah tempatku tinggal saat ini juga ada "Toko Puncak" yang menjual berbagai kebutuhan rempah-rempah Indonesia (meskipun tentu saja tidak selengkap pasar tradisional di indonesia). Saya termasuk pelanggan setia Toko Puncak ini.

Kenapa Puncak begitu "melegenda"? Ya apa lagi kalau bukan lantaran di kawasan itu ada "bisnis nggebleh" atau "bisnis kelon" yang customer utamanya adalah para turis Arab, meskipun tentu saja tidak semua turis Arab melakukan praktik ini. Praktik ini sudah berlangsung lama tetapi sejauh ini tidak ada tindakan memadai untuk membereskannya. Pemerintah dan tokoh agama diam membisu berlagak pilon.

Bisnis ngencuk berbalut agama ini susah ditindak karena ada sindikat yang melanggengkan praktik itu. Sebagian turis Arab tidak akan mungkin langganan kombak-kambek ke Puncak jika tidak ada sindikat ini. Jaringan sindikat itu bisa datang dari berbagai pihak: pemerintah lokal, aparat keamanan, satpam, pedagang, pemilik kos-kosan & villa, tukang ojek, germo (mucikari), guide, petugas kawin, tokoh agama, supplier begenggek, dan masyarakat lokal tentunya.

Mereka turut melestarikan bisnis crat-crut ini karena satu hal: uang. Fulus broh fulus. Ada lagi yang beralasan "untuk perbaikan keturunan" dengan asumsi orang Arab itu cakep-cakep, sebuah asumsi yang syarat kebahlulan. JK dulu pernah diprotes ramai-ramai oleh para aktivis ormas dan perempuan karena ngomong masalah ini.

Masyarakat Arab dianggap sebagai "konsumen" yang prospektif. Apakah praktik itu tidak haram? Ah itu mah gampang bisa diakalin atuh mang damang. Tinggal undang petugas kawin (tukang akad) dan saksi. Beres. Bim salabim cling yang haram berubah jadi halal asli 24 karat qiqiqi.

Di kalangan masyarakat Arab populer dengan sebutan "zawaj al-misyar" atau "nikah misyar" alias "kawin turis", selain "nikah sirri" dan "nikah kontrak" (mut'ah). Jika nikah mut'ah populer di kalangan Syiah, nikah misyar populer di kalangan Sunni. Tapi meskipun populer di lingkungan Syiah, pelaku nikah mut'ah tidak mesti Syiah. Kalau nggak percaya, survei saja di Puncak itu.

Segala sesuatu bisa diakali pemirsah. Dalam praktik hukum Islam ada istilah "hiyal", yaitu semacam trik untuk menghalkan sesuatu. Metode ini dipraktikkan dari sistem perbankan Islam hingga dunia perngencukan. Ini sudah jadi rahasia umum.

Dulu, di Puncak ramai praktik "kawin kontrak" (beberapa tahun atau bulan) tetapi sejak beberapa tahun terakhir tidak populer lagi berganti menjadi "kawin singkat", biaya lebih murah, efisien, ekonomis dan bisa dengan siapa saja tidak harus dengan perempuan dalam sistem "kawin kontrak." Dalam praktik "kawin kontrak" banyak yang merasa "ditipu" karena meskipun sudah dikawin kontrak, si perempuan tetap melakukan "bisnis sampingan". Daripada daripada ya lebih baik ganti metode kan?

Melihat kompleksitas masalah bisnis ngewe di Puncak ini maka tidak adil sebetulnya kalau jari telunjuk ditujukan melulu pada turis Arab. Yang harus pertama dibenahi justru "mentalitas inlender" dan "mental kere" masyarakat Indonesia. Jika semua pihak komitmen dan aturan ditegakkan, para turis Arab tentu saja tidak akan berani melakukan itu. Tapi masalahnya aturan dan hukum susah ditegakkan di Indonesia. Yang gampang ditegakkan itu si otong apalagi kalau pagi. Upps keceplosan

Sumber : Status facebook Sumanto Alqurtuby

Sunday, August 9, 2020 - 17:15
Kategori Rubrik: