Puja Puji Anneleis

ilustrasi

Oleh : Nurul Khawari

Kalau tidak ada aral melintang, tidak disweeping karena dianggap film berbau komunis, sebentar lagi akan kita saksikan film adaptasi dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer : BUMIMANUSIA.

Film ini salah satu sisi ceritanya bermuara pada drama hubungan lelaki pribumi dan perempuan muda anak seorang gundik : Minke dan Annelies.

Diakhir novel Minke patah hati, remuk dan sejak saat itu dialah #SobatAmbyar dimasa itu.

Jika saat ini yang disebut The Godfather Of Broken Hearth adalah Didi Kempot. Barangkali Dewa Patah Hati pada masa lalu itu ya diwakili oleh Minke.

Jadi akan lebih baik lagi, lebih menjiwai jika soundtrack dari film besok diambil dari salah satu lagu Lord Didi Kempot... 

Catatan ini pada awalnya hanya corat coret penanda bacaan. Saya buat ketika membaca tetralogi karya Pram tentang penggambaran Annelies yang membuat Minke seorang lelaki pribumi yang cerdas akhirnya jatuh hati dengan "perempuan indo".

Yang saya catat adalah bagaiman Pram menceritakan melalui beberapa tokoh soal bagaimana sosok Annelies yang mempesona. Bukan catatan analisis kritis seperti post colonial atau semacamnya. Puja puji terhadap Anneleis saja.

***

Dimulai dari perjumpaan Annelies dengan Minke di rumah perusahaan pertanian Boerderij Buitenzorg. Perjumpaan ini terjadi berkat kawan sekolah Minke di HBS Surabaya yang bernama Robert Suurhof.

Dia mengajak Minke untuk menghadiri undangan Robert Mellema, yang tidak lain adalah kakak dari Annelies, anak lelaki Nyai Ontosoroh, hasil hubungan dengan Tuan Herman Mellema.

Sebelumnya Suurhof menceritakan kekagumannya atas kecantikan Annelies :

"...Ada seorang Dewi tinggal di Surabaya ini, cantik tiada bandingan, tidak kalah dari gambar itu (menunjuk Sri Ratu Wilhelmina)....Letak dan bentuk tulang yang tepat, di ikat oleh lapisan daging yang tepat pula...Kulit yang halus lembut, mata yang bersinar dan bibir yang pandai berbisik..."

Perjumpaan Annelies dengan Minke rupanya menimbulkan kesan yang dalam baik pada Minke maupun Anneleis. Dalam bahasa Pram, Minke tidak akan melupakan suara dari gerak bibir Annelies yang mengesankan, diawal perkenalannya.

Kata Minke ; benar kecantikan Annelies melebihi kecantikan Sri Ratu Wilhelmina yang selama ini hanya disaksikan dari lukisan. BM : 27

Minke pernah memuji di depan Annelies ;

Anneleis : "Kau tadi terlihat pucat, mengapa"
Minke : "Karena tak pernah menyangka akan berhadapan dengan seorang dewi secantik ini."

Ia terdiam dan menatapku dengan mata kejoranya...

Percakapan puja puji kepada Anneleis seperti ini terjadi hampir sepanjang halaman Novel Bumimanusia. Yaitu pada babak ketika awal perkenalan Minke dan Anneleis.

Diawal perkenalan ini Minke yang mulai terkesan kepada Anneleis diajak menyusuri ladang perkebunan. Melihat komplek peternakan sapi, diajak berkuda dan menyaksikan betapa Anneleis begitu dekat bergaul dengan alam sebagai bentuk terimakasihnya dengan kepada segala sesuatu yang memberi kehidupan.

Pada akhirnya Minke menikahi Anneleis. Sehingga bertemulah Ibunda Minke dengan Anneleis dalam upacara pernikahannya. Katanya ibunda Minke soal Anneleis ;

"Bocah kok begini ayunya seperti Nawangwulan. Barangkali lebih cantik dari Banowati."

Dimalam hari, Ibundanya berbisik pada Minke :

"Gus, baik bener peruntunganmu, dapat istri secantik itu. Dijaman leluhurmu, perempuan seindah itu bisa terbitkan perang Bharatayuddha" BM : 451

***

Meskipun berhasil mendapatkan Cinta Anneleis, namun Minke pada akhirnya kalah. Dia dipisahkan dengan Anneleis karena hukum dan peraturan di masa itu. Annelies direnggut paksa dari Minke dan Nyai Ontosoroh untuk dikirim ke Netherland. Anneleis meninggal tidak lama serelah dipisahkan dengan Minke.

***

Dalam Novel Kedua tetralogi Pulau Buru, Anak Semua Banhsa, ada satu fragmen ketika Minke membaca surat surat. Salah satu surat dari kakak Kandubg Anneleis yang tidak tahu jika Anneleis telah mati.

Robert Mallema, Kakak kandung annelies, anak laki laki nyai ontosoroh hasil perkawinan dengan....menyebut annelies dalam surat ; "Telah kulihat berbagai bagai bangsa di dunia ini ; Keling, Cina, Eropa, Jepang, Arab, Hawaii, Melayu, Afrika, Ann, tak ada diantara perempuan mereka, tua atau muda, yang secantik kau, segemilang kau. Kau adalah permata diantara jenis perempuan." ASB : 135

Jean Maris, pelukis potret kelahiran prancis diminya oleh Minke untuk melukis Annelies , istrinya. Jean menolak mengopi potret. Katanya kepada Minke disuatu waktu ; Untuk Annelies akan kulikis tepat sebagaimana aku dan kau pernah mengenalnya, bukan hanya melihat, juga mengetahuinya dalam keadaan yang terbaik. Dan melukislah ia berdasarkan ingatan semata.

Dan hasil lukisan menurut pengamatan Minke ; Dari latar belakang suram ala Rembrandt muncul wajah bidadari seperti bulan dari balik mendung. Benar, hanya mendung saja yang mengancam hidupnya yang muda, ceria, cantik dan gemilang tiada tara.

Saran Jean Marais kepada Minke ;
Setiap kali melihat gambar yang belum selesai selalu jantungku berdebar kencang dan pikiran mengembara kemana mana

"Masukkan dalam sampul beludru merah-anggur yang indah, Minke."

Kalau sudah selesai, kata Jean, Lukisan itu jangan kau pasang untuk semua orang.

Masukkan kedalam sampul seindah ibdahnya. Tak perlu lau pandangi lagi. Kau bisa jadi Gila !!

#MINKESOBATAMBYAR

Sumber : Status Facebook Nurul Khawari

Monday, August 5, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: